Harusnya
hari ini jadwal kegiatanku hanyalah menunggu interview di calon tempat
bekerjaku yang akan datang (amin…) namun, berawal dari sebuah e-mail dan
mention di FB, hari ini jadwalku bertambah yaitu datang ke acara launcing
ACFfest, Anti Corruption Film Festival
yang akan saya ikuti.
Awalnya motivasiku hanyalah, hanya
sekedar pingin tahu lebih dalam tentang kompetisi ini dan film-film pemenang
tahun lalu, yang harusnya kami ikuti. Namun, setelah itu motivasi awalku itu
hilang, karena ternyata aku menemukan banyak hal yang menginspirasiku untuk
terus berkarya khususnya sebagai penulis di dunia film. Yes… menciptakan
berbagai macam karya yang bisa menginspirasi orang lain.
Film pertama dibuka dengan sejarah
KPK, sebenarnya aku agak boring sih, karena film ini murni sejarah dokumenter
biasa yang hanya berisi sejarah seperti film tentang berdirinya UK.Petra yang
selama empat tahun berturut-turut aku lihat di kelas P3KMABA. Namun, ada pesan
yang bisa aku dapat, tentang perjuangan para pejuang-pejuang untuk terus
melawan dan mencegah korupsi.
Film kedua, film ini berhasil
memukauku dengan cerita dan teknis film yang indah dan menyentuh. Film ini
berkisah tentang dua pemuda yang berkeinginan untuk melawan korupsi dengan
talenta mereka masing-masing. Pemuda pertama berjuang lewat musik dan pemuda
kedua berjuang lewat kuliahnya di bidang komunikasi khususnya di area psikologi
dan relasi serta menjadi aktivisi di organisasi SPEAK. Pemuda pertama
mendapatkan buahnya yaitu menang di beberapa festival dan pemuda kedua juga
berhasil melakukan campaign lewat
organisasinya.
Setelah memutar dua film itu,
panitia melakukan talkshow tentang
garis besar acara dan juga mengapa campaign untuk mencegah korupsi ini
diwujudkan dengan lomba film. Memang tidak salah kalau panitia memilih Film
sebagai media untuk kampanye, karena masyarakat memang lebih senang disuguhkan
dengan visual ketimbang membaca ataupun mendengarkan. Hanya bagaimana kita,
untuk pandai-pandai melihat berbagai macam isu yang bisa kita angkat.
Setelah talkshow, panitia memutar film nominasi Fiksi Pendek ACFfest 2013
yaitu Boncengan. Film ini sebenarnya ceritanya sederhana sekali tentang
melakukan tindakan curang, agar bisa memenangkan perlombaan sepeda yaitu dengan
meminta dibonceng baik itu temannya maupun ayahnya. Dan satu peserta lainnya,
memilih untuk berjuang dengan jujur. Namun, yang membuat menarik adalah, film
ini bener-bener natural banget baik itu secara cerita dan juga akting dari
pemain. Pemain dibiarkan untuk berdialog dengan bahasa daerah mereka,
menyuguhkan keindahan alam dan bertindak sesuai dengan apa adanya mereka.
Sehingga, film ini benar-benar seperti melihat kisah nyata dari anak desa,
mengingatkanku dengan laskar pelangi. Akhirnya, aku jadi tahu, seperti ini
ternyata film yang layak masuk nominasi. Tidak perlu cerita yang rumit, cerita
sederhana namun dikemas menarik.
Setelah melihat film Boncengan,
sayapun break untuk makan siang. Dan setelah break makan siang, puncak rasa
syukurku terjadi, aku bisa melihat film pemenang ACFfest tahun yang harusnya
kami ikuti beserta nominasi dari ACFfest tahun 2013. Aku begitu excited, karena benar-benar diliputi
rasa penasaran.
Jumrah, adalah film pemenang ACFfest
2014 dimana tahun yang harusnya kami ikut. Namun, ini silver lining pertamaku yang aku dapati setelah melihat film
Jumrah. Film Jumrah ini, memang layak untuk menjadi pemenang selain dari story
telling yang unik, konsep film dan cerita yang nggak biasa, film ini bukan
hanya film yang sekedar menampilkan sebuah adegan yang diruntut menjadi film,
namun ada pesan tentang suatu kemarahan dan kebencian rakyat terhadap satu
institusi pemerintah. Dan setelah melihat film ini, wow… nggak salah film ini
menang, aku hanya bisa kagum dan makin kagum ketika mendengar sharing dari
directornya. Dan temanku berkata, “Ini lho film yang bener…” I just can wonder, ciamik bener nih screenwriter plus directornya, sampai bisa menghasilkan film yang seperti ini.
Lewat film tadi, aku jadi belajar
satu hal….kalau saja tahun lalu, aku bersikeras untuk ikut kompetisi ini dengan
materi film yang sebenarnya belum layak untuk diikutkan, mungkin aku akan
menyesali ini seumur hidup, karena filmku yang tahun lalu, masih belum ada
apa-apanya dibandingkan dengan film Jumrah. Dan jika hari ini, aku duduk di
kursi tadi dengan keadaan sebagai mantan peserta lomba tadi, mungkin aku akan
menangisi lomba ini kedua kalinya, namun menangis karena menyesal.
Dan setelah melihat film Jumrah
tadi, aku jadi tertantang untuk makin meningkatkan kualitas tulisan dan skilkku
untuk mengolah cerita khususnya metafora, yang dimana aku belum seberapa
menguasainya. Di satu sisi, aku juga merasa senang, karena pemuda-pemudi
Indonesia, juga banyak yang potensial, untuk menjadi filmmaker di tuan rumahnya sendiri. Aku sih berharap, orang-orang
inilah, yang akan bisa merubah style film Indonesia yang makin tidak mendidik
para generasi muda dan juga masyarakat.
Film selanjutnya adalah penghulu,
memang tidak sebagus Jumrah maupun Boncengan. Namun, aku suka juga sama film
ini, film ini benar-benar dibiarkan mengalir dan berakhir apa adanya.
Masyarakat Indonesia tidak mampu untuk melawan korupsi dan cenderung ikut arus.
Harusnya sebenarnya bisa, namun karena terkendala dengan syarat administrasi
yang mengikat dan harus diikuti, akhirnya mereka ikut. Menyindir banget sih….
Meskipun aku pulang duluan, tapi aku
tetap senang karena aku bisa pulang dengan membawa sesuatu dari acara tadi. Aku
semakin yakin dengan passion dan mimpiku sendiri, untuk bisa terus berkarya di
bidang ini. Mungkin rasa pesimis ada, karena melihat film tahun lalu, yang
ternyata bagus sekali dan jika dibandingkan dengan filmku sendiri, mungkin
tidak sebagus mereka. Tapi, aku melihat ini sebagai proses dari akhir
perjuanganku dan juga tim filmku untuk film ini. Mungkin saat ini, ulat itu
masih menjadi ulat namun dengan berbagai proses, ulat itu suatu saat akan
berkembang menjadi kupu-kupu yang indah. Mungkin filmku masa untuk bisa berbuah
bukan tahun kemarin ataupun awal tahun ini, tapi mungkin setelah melewati
berbagai proses, film ini pasti akan menghasilkan buah yang manis.
Dan ini, silver linings yang paling membekas di hatiku….aku menemukan
harapan dan cahaya baru untuk film ini, passsionku, impianku bahkan ternyata
aku juga punya teman yang nggak sedikit sama sepertiku, ingin berkarya dan
karyanya bisa menginspirasi orang lain.
Akupun pulang dengan hati yang
senang serta berharap silver linings
ini bisa berkembang menjadi sebuah pelangi yang indah setelah hujan….