Beberapa hari ini aku bertemu dengan
seorang teman yang memiliki interest
yang berbeda-beda dengan interest yang aku miliki yaitu menulis. Berutntung
dikarunai sisi introvert dan ekstrovert yang seimbang, sehingga
kesempatan itu tidak aku lewatkan begitu saja, untuk aku bisa belajar mengenai
dunia mereka.
Hal ini sebenarnya harus dimiliki
oleh para penulis, untuk menambah wawasan dan materi yang semakin beragam dalam
tulisan mereka. Selain itu, memang pada dasarnya aku suka untuk belajar hal
baru yang bagiku itu memiliki keunikan tersendiri, terlebih lagi ketika yang
menceritakannya kepadaku adalah orang yang memang memiliki passion di bidang tersebut.
Kemarin ketika bertemu dengan
seorang teman, kami terlibat perbincangan yang menarik dan membuka pandanganku
tentang sisi lain dunia nyata, yang memang tidak selamanya putih bahkan dunia
itu begitu gelap sekali, hingga tidak nampak dari pandanganku. Waktu itu, aku
menolongnya untuk membantu mengolah sebuah kalimat untuk pekerjaan dia yang
mengingatkanku akan masa lalu.
Entah mungkin karena dia menangkap
pancaran kebahagiaan dan antusiasku, ketika membantunya sehingga membuat dia
bertanya, mengapa aku begitu suka menulis dan menikmati sekali bidang yang bagi
dia sangatlah sulit dan berat. Dan aku menceritakannya dengan nada yang begitu
bahagia dan antusias, inilah waktu yang aku suka ketika bisa menceritakan dan
membagikan apa yang menjadi passionku.
Jujur saja, hingga sekarang aku
tidak ingat kapan tepatnya rasa jatuh cintaku dengan tulis menulis mulai bertumbuh.
Ketika aku tarik kembali, sangat tidak mungkin seorang Helen saat itu menyukai
dunia menulis, karena pribadiku dulu tidak terlalu suka hal yang begitu
merepotkan, hal yang aku suka adalah melakukan kegiatan yang menyenangkan dan
membahagiakan diriku sendiri seperti ngeband, olahraga basket, badminton, jalan-jalan dan kumpul dengan
teman-temanku. Hingga satu titik di masa SMA, semua itu diubahkan begitu
drastis berawal dari sebuah novel teenlit pertamaku (yang kini hilang entah kemana),
dimana cerita itu hampir mirip dengan kisah yang aku alami didukung dengan
celetukan teman yang mengatakan kisah hidupku mirip seperti kisah-kisah di
novel. Namun, itu semua aku lakukan hanya ketika sempat dan pingin saja.
Tindakan
seperti itu, terbawa hingga masa awal kuliah sampai aku menghadapi masa di
semester tiga, yang mau tidak mau aku harus rajin menulis dan membaca. Saat
itu, tulisanku dipuji oleh salah satu dosen dan juga temanku yang merupakan
penulis, hingga di satu titik aku belajar untuk menekuni dunia menulis
pertamaku melalui media sosial facebook.
Sungguh senang, karena mendapati beberapa temanku terberkati dan terinspirasi
dengan tulisanku. Tidak hanya menulis, namun aku mulai disiplin untuk membaca
novel, dan mulai merasa gelisah karena tertantang agar aku bisa memiliki
novelku sendiri.
Penolakan
demi penolakan, pernah aku alami ketika aku mulai memasukkan naskah novelku ke
beberapa publisher, ada yang
memberikan alasan dan ada pula yang tidak memberikan alasan mengapa. Sedih…
namun karena kesibukkan kuliah dan kegiatan, aku meninggalkan sejenak duniaku
ini. Aku mulai menekuni bidang kuliahku yaitu Public Relations dan menemukan keasyikan serta keunikan yang waktu
itu menyilaukanku sejenak.
Lomba
menulis berhadiah beasiswa kepenulisan dengan jaminan memiliki novel, titik
yang membawaku kembali ke dunia menulis. Dibalik kehetic’anku akan masa-masa
akhir kuliah serta beberapa kegiatan, entah mengapa aku selalu memiliki banyak
cara dan akal, untuk tetap mengikuti lomba tersebut yang membawaku sampai menjadi
lima besar nasional. Tidak kusangka juga, hadiah yang ditawarkan juga membuatku
“galau” hingga tidak bisa tidur, namun karena idealismeku sendiri, aku
merelakan beasiswa kepenulisanku dan memilih jalanku sendiri untuk bisa meraih
impianku memiliki novel.
Namun,
konsekuensi atas pilihanku ternyata memang jalan yang tidak mudah, aku masih
saja mengalami penolakan di beberapa penerbit, hingga aku memutuskan untuk
berhenti dan mengubur mimpiku ini. Tidak hanya mengubur, aku tidak lagi
membicarakannya bahkan menekuninya kembalipun tidak terpikirkan. Dan yang aku
lakukan adalah, setelah lulus, aku memilih untuk menekuni bidang pendidian
menjadi pengajar. Masa inilah, yang membuatku aku lupa sejenak dengan mimpiku
memiliki novel. Beruntungnya, masa itu aku tidak pernah memiliki waktu untuk
pergi ke toko buku, mengupdate novel
terbaru bahkan sebuah majalah yang dulu sering iseng-iseng untuk ku baca.
Hakekat
impian itu memang bagaikan hantu, selalu menghantuiku dengan berbagai cara
walaupun aku mencoba untuk berlari ke dunia yang sudah aku jalani. Bahkan
ketika aku mengajarpun. Saat itu, aku sedang mengajari murid-muridku untuk
menulis sebuah kalimat, entah mengapa aku merasa rindu untuk menulis sehingga
aku memutuskan untuk cepat pulang dan kembali membuka lappieku, menuangkan
berbagai hal yang berkecamuk di pikiranku, lalu ku publish di facebook. Senang bahkan menjadi candu,
setelah hari itu. Aku membuka lagi tulisan-tulisanku yang dulu, bahkan
tulisanku yang dulu ditolak oleh beberapa penerbit. Dan, aku memutuskan untuk
tetap menulis, meskipun hanya sekedar menuliskan hal-hal sederhana saja.
Temanku
yang merupakan penulislah, yang menjadi sebuah titik balikku untuk terus setia
menulis walaupun tidak membawaku menjadi penulis novel. Ketika dia bercerita,
tentang sebuah majalah yang salah satu rubriknya bisa diisi oleh pembaca dan
tulisannya di publish disana, membuatku tertantang untuk membacanya. Beruntung,
akupun suka jalan-jalan dan rubriknya bercerita mengenai tempat wisata.
Pergilah aku ke toko buku dan membeli majalah tersebut, ku pelajari tulisannya
dan aku menulis.
Nah…
disinilah semangatku untuk terus menulis muncul. Tulisanku diterima dan
mendapatkan apresiasi, rasanya itu menyenangkan apalagi aku mendapatkan
hasilnya melalui menulis yang sangat aku sukai. Setelah kejadian itu, selalu
saja ada kesempatan untukku menulis, entah itu naskah drama, naskah puisi,
kalimat-kalimat untuk MC bahkan comment untuk raportpun, aku
dipercayakan. Kadang, aku diminta temanku untuk membantu menuliskan kalimat
untuk promosi produk, kata-kata ulang tahun dan itu rasanya menyenangkan
sekali.
Rasa
menyenangkan itu berubah menjadi rasa jatuh cinta, setelah aku bertemu dengan
teman yang mengajakku untuk membuat film dan dipercayakan menjadi penulis
naskah. Dan saat itu, aku berhenti dari tempat kerjaku. Tiga bulan lebih, aku full bergelut dengan naskah, tidak hanya
menghasilkan naskah namun menguji apa yang menjadi passionku sebenarnya. Tidak terelakkan lagi, menulis memang passionku yang sebenarnya dan aku merasa
bodoh sekali, karena tidak menyadarinya bahkan lari dan membuang waktuku dengan
duniaku yang melenceng dari menulis. Namun, tidak sepenuhnya salah sih, karena
masih cukup bermanfaat untuk beberapa hal. Dan disinilah, pandanganku berubah.
Aku tidak lagi hanya ingin memiliki novel, namun aku ingin menjadi penulis yang
dimana tulisanku bisa menginspirasi banyak orang dan puncak mimpiku adalah
menjadi penulis naskah film.
Setelah
aku menyelesaikan filmku, aku mulai untuk menulis, menulis apapun yang bisa aku
tulis. Berbagai respon aku terima, ada yang merasa terinspirasi, ada yang
merasa wawasannya bertambah dan ada juga yang memiliki keinginan untuk menjadi
penulis juga. Setelah aku renungkan, akupun menemukan banyak alasan mengapa aku
memutuskan untuk menekuni bahkan berani untuk memiliki mimpi menjadi penulis.
Aku
bersyukur, dikaruniai talenta menulis meskipun jalanku masilah terseok-seok
bahkan belum memiliki titik terang. Namun, ketika aku menulis entah mengapa aku
merasa diriku begitu beruntung dengan orang-orang yang juga beruntung lewat
dunianya itu sendiri. Lewat menulis, aku bisa mengekspresikan apapun yang
menjadi isi hatiku, dengan menulis aku bisa menginspirasi orang lain, dengan
menulis aku bisa membuka pandangan orang lain yang belum tentu orang itu tahu.
Dan yang terpenting, lewat menulis aku bisa bertemu dengan passionku dan bisa menjadi berkat untuk orang banyak. Bahkan kalau
kita sadari, film yang box officepun
juga sukses karena tulisan yang brilliant
dari penulis naskah. Sebuah lagupun, bisa dikagumi oleh para pendengarnya juga
tidak lepas dari penulis lagu. Bahkan sebuah produk yang terkenalpun, bisa
melekat di hati penggunanya, juga tidak lepas dari copywriternya yang berpikir secara kreatif untuk mengolah agar
produknya ini melekat di hati penggunanya.
Itulah
sisi magic dari tulisan, lewat
tulisan yang sederhanapun bisa memiliki kekuatan magic yang mencengangkan. Mungkin semua orang bisa menulis, namun
setelah aku pikirkan dan banyak berproses, semua orang bisa menulis namun tidak
semua orang memiliki talenta untuk menjadi penulis. Karena menjadi penulis,
tidak hanya sekedar bisa menulis namun penulis haruslah memiliki sebuah rasa
cinta, skill bahkan kerelaan untuk
berkorban. Mengapa rela untuk berkorban, ketika ide terlintas kita harus rela
untuk berhenti sejenak, untuk menuliskan di media yang ada, rela bergadang
untuk menyelesaikan tulisan kita, rela untuk dikritik demi tulisannya lebih
baik lagi, rela untuk membaca dan melihat karya orang lain untuk suplemen
kreatif kita, bahkan rela kerja keras untuk menggapai impian kita yaitu sebuah
karya tulis.
Tidak
mudah….namun, entah mengapa aku tetap rela hati dan sukacita untuk
mengerjakannya….alasannya? Karena aku jatuh cinta dengan menulis dan tidak
mudah perjalanannya untuk aku jatuh cinta dengan menulis.Sehingga, aku mau
terus berjuang.
So,
carilah cintamu dan kejarlah cintamu, walaupun harus jatuh berkali-kali….
