Minggu, 01 Maret 2015

HE Spoke to Me and I Feel so Blessed

       Kembali lagi, Tuhan mensaksikan kebesaranNya kepadaku, anakNya yang akhir-akhir ini mengalami begitu banyak beban. Merasa hampa dan kering, ketika menjalani hari-harinya. Hari Minggu ini, entah kenapa ketika aku pergi ke gereja, berasa seperti rutinitas biasa. Sabtu malam, aku tidur, dengan pemikiran esok hari aku akan ke gereja, sudah begitu saja. Tidak seperti biasanya, dimana aku selalu antusias, untuk menantikan apa yang akan Tuhan katakan kepadaku.
            Minggupun tiba, aku bangun dengan setengah hati, untuk pertama kalinya, aku dibangunkan. Biasanya aku selalu bangun sendiri dan mempersiapkan hati dan diri. Doa pagipun, aku merasa seperti rutinitas, tidak menjiwai. Bagaikan robot, karena melakukan hal yang memang harus aku lakukan dan itu sudah terjadwal.
            Di gereja, aku memiliki bangku favorit dan aku duduk disitu, mempersiapkan ayat-ayat dan hati untuk beribadah. Pujian demi pujian, disenandungkan, entah kenapa aku masih berasa hampa. Akupun sedih, karena aku takut hingga firman Tuhan nanti, aku tidak akan mendapatkan apa-apa. Hingga dua pujian pengantar firman Tuhan yaitu Allah Sanggup dan Bagaikan Bejana Siap Dibentuk, dua pujian itu entah mengapa, sangat menghujam jantungku. Aku merasa merinding dan ada satu kelegaan di hati.
            Hingga firman Tuhanpun tiba, karena menjelang paskah, maka firman Tuhan banyak berbicara tentang saat-saat menjelang kematian Yesus, penderitaan Yesus dan Janji Tuhan akan hidup kekal, karena keselamatan yang Tuhan berikan kepada umatNya. Kali ini, Tuhan mengingatkanku akan penderitaan Yesus menjelang kematianNya. Firman Tuhan yang udah biasa aku dengar sebenarnya, namun kali ini Tuhan berbicara lain kepadaku.
            Dalam firmanNya, Tuhan berbicara tentang Dia memilih taat dengan perintah Bapa, untuk turun ke dunia dan menderita dalam perjalanannya untuk memberitakan firman Tuhan. Dia harusnya, bisa memilih untuk tidak taat dan tinggal dalam kerajaan Surga, namun Tuhan memilih hal yang berbeda. Dalam perjalannya, memberitakan injil, Dia pasti mengalami banyak penolakan, penderitaan, hingga puncaknya Dia disalib, untuk menebus dosa umat manusia, termasuk dosaku juga, yang semestinya harusnya kita yang menanggung. Namun, Dia rela melakukan, demi menggenapi firman Tuhan dan agar seluruh umat manusia, bisa percaya.
            Lalu pendetaku, menariknya ke kehidupan kita sehari-hari yaitu pandangan hidup mana yang kita miliki, sebagai umat percaya. Terus memikirkan kesenangan duniawi atau menderita untuk Kristus dan giat memberitakan injil. Mungkin menderita disini, bukan berarti kita harus hidup miskin, sering disakiti, melarat, bukan itu yang dimaksudkan. Namun, menderita adalah giat mengerjakan keselamatan dan mengenal serta memperkenalkan Tuhan kepada umat yang belum percaya, lewat apapun yang kita miliki.
            Menderita, pasti identik dengan meninggalkan zona yang nyaman dan mengikuti apa yang Tuhan mau, termasuk juga dalam hal bekerja. Ketika kita memilih untuk hidup senang, kita bisa melakukan dengan berbagai cara, lewat KKN, menipu, menjatuhkan rekan kerja yang lain bahkan membunuh, asal hati kita senang. Namun pertanyaannya, adalah, apakah Tuhan senang? Belum tentu. Namun, ketika kita memilih hidup sesuai yang Tuhan mau, mungkin bakal susah, hasilnya sedikit, tidak disenangi oleh orang banyak dan mungkin kita tidak sekaya orang lain. Tetapi Tuhan pasti senang, karena kita hidup dan melakukannya dengan cara yang Tuhan senangi, sukacitanya bakal berbeda dan kedamaian di hati ini nggak akan terganti.
Lalu hal apa yang Tuhan katakan kepadaku… waktu aku mendengarkan khotbah ini, kepalaku kembali sakit dan hatiku rasanya sesak sekali, mataku berkaca-kaca. Aku merasa, Tuhan begitu tahu, apa yang lagi aku alami, beban apa yang sedang aku pikul, kekhawatiran dan mungkin keraguan apa yang sedang aku simpan di dalam hati. Heii…it’s make me strong.    
 Keadaanku, aku akhir-akhir ini sering menolak, kesempatan kerja, dimana ketika aku masuk, keluargaku akan menggunakan sistem uang, agar aku bisa mencapai posisi yang tinggi. Ketika aku mendengarkan itu, dibenakku terlintas, uang yang banyak, jabatan prestise, rasa hormat kepadaku, kehidupan yang nyaman. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Semua orang termasuk aku, pasti banyak yang menginginkannya.
So, apa responku. Aku menolaknya, dengan alasan aku ingin tetap mengejar mimpiku menjadi penulis dan aku tidak ingin kehilangannya lagi. Mungkin pekerjaan ini, pada awalnya tidak menjanjikan uang yang banyak, tapi aku mengejar kedamaian di hatiku dan kebahagiaanku, ketika aku mengerjakannya. Susah sangat sangat susah, namun hasil akhirnya aku selalu percaya pasti akan indah.
Ketika kita mengikuti arus dunia, maka semuanya akan terasa mudah namun ketika kita membuat jalan kita sendiri, susah tapi itu membahagiakan. Penuh dengan penderitaan, pasti, karena ujian, masalah, kesusahan, itulah warna-warni kehidupan. Karena hidup kita, tidak akan selamanya semanis gula. Hidup kita itu bagaikan berbagai rasa di ice cream, manis adalah coklat, pedas bagaikan daun mint, kecut bagaikan rasa orange, pahit bagaikan rasa kopi, biasa bagaikan vanilla. Namun, ketika dicampurkan dengan takaran yang pas, itu akan menimbulkan sensasi yang tidak akan terlupakan dan pasti akan sangat menyenangkan.
Menderita itu pasti, karena hidup tidaklah mudah namun itu akan menimbulkan sebuah daya tahan uji yang kuat. Ketika Tuhan menderita, dia selalu terhibur akan janji Tuhan kepadanNya, kebahagiaan kekal di surga nanti. Sama, Tuhan juga menjanjikan kita demikian. Abraham, karena ketaatanNya, Tuhan menjanjikan dia menjadi pemimpin untuk segala bangsa. Begitu juga kita, Tuhan pasti akan memberikan kita penghiburan, kekuatan dan janji yang indah bagaikan pelangi, ketika kita taat kepadaNya. Itu semua, akan menjadi sebuah cahaya indah yang akan bersinar untuk banyak orang, karena kita hidup dengan cara yang baik dan benar.
Cahaya itu akan bersinar dan menyinari kegelapan, dimana ketika banyak orang kehilangan harapan, hidup kita yang bercahaya dan bersinar itu telah menginspirasi banyak orang. Jadi, janganlah kehilangan harapan, tetap selalu percaya, bahwa kita punya Tuhan yang akan selalu menyediakan dan membuat impian kita, menjadi kenyataan. Asalkan kita, percaya.
Happy Sunday all….