Kembali
lagi, Tuhan mensaksikan kebesaranNya kepadaku, anakNya yang akhir-akhir ini
mengalami begitu banyak beban. Merasa hampa dan kering, ketika menjalani
hari-harinya. Hari Minggu ini, entah kenapa ketika aku pergi ke gereja, berasa
seperti rutinitas biasa. Sabtu malam, aku tidur, dengan pemikiran esok hari aku
akan ke gereja, sudah begitu saja. Tidak seperti biasanya, dimana aku selalu
antusias, untuk menantikan apa yang akan Tuhan katakan kepadaku.
Minggupun tiba, aku bangun dengan
setengah hati, untuk pertama kalinya, aku dibangunkan. Biasanya aku selalu
bangun sendiri dan mempersiapkan hati dan diri. Doa pagipun, aku merasa seperti
rutinitas, tidak menjiwai. Bagaikan robot, karena melakukan hal yang memang
harus aku lakukan dan itu sudah terjadwal.
Di gereja, aku memiliki bangku
favorit dan aku duduk disitu, mempersiapkan ayat-ayat dan hati untuk beribadah.
Pujian demi pujian, disenandungkan, entah kenapa aku masih berasa hampa. Akupun
sedih, karena aku takut hingga firman Tuhan nanti, aku tidak akan mendapatkan
apa-apa. Hingga dua pujian pengantar firman Tuhan yaitu Allah Sanggup dan
Bagaikan Bejana Siap Dibentuk, dua pujian itu entah mengapa, sangat menghujam
jantungku. Aku merasa merinding dan ada satu kelegaan di hati.
Hingga firman Tuhanpun tiba, karena
menjelang paskah, maka firman Tuhan banyak berbicara tentang saat-saat
menjelang kematian Yesus, penderitaan Yesus dan Janji Tuhan akan hidup kekal,
karena keselamatan yang Tuhan berikan kepada umatNya. Kali ini, Tuhan
mengingatkanku akan penderitaan Yesus menjelang kematianNya. Firman Tuhan yang
udah biasa aku dengar sebenarnya, namun kali ini Tuhan berbicara lain kepadaku.
Dalam firmanNya, Tuhan berbicara
tentang Dia memilih taat dengan perintah Bapa, untuk turun ke dunia dan
menderita dalam perjalanannya untuk memberitakan firman Tuhan. Dia harusnya,
bisa memilih untuk tidak taat dan tinggal dalam kerajaan Surga, namun Tuhan
memilih hal yang berbeda. Dalam perjalannya, memberitakan injil, Dia pasti
mengalami banyak penolakan, penderitaan, hingga puncaknya Dia disalib, untuk
menebus dosa umat manusia, termasuk dosaku juga, yang semestinya harusnya kita
yang menanggung. Namun, Dia rela melakukan, demi menggenapi firman Tuhan dan
agar seluruh umat manusia, bisa percaya.
Lalu pendetaku, menariknya ke
kehidupan kita sehari-hari yaitu pandangan hidup mana yang kita miliki, sebagai
umat percaya. Terus memikirkan kesenangan duniawi atau menderita untuk Kristus
dan giat memberitakan injil. Mungkin menderita disini, bukan berarti kita harus
hidup miskin, sering disakiti, melarat, bukan itu yang dimaksudkan. Namun,
menderita adalah giat mengerjakan keselamatan dan mengenal serta memperkenalkan
Tuhan kepada umat yang belum percaya, lewat apapun yang kita miliki.
Menderita, pasti identik dengan
meninggalkan zona yang nyaman dan mengikuti apa yang Tuhan mau, termasuk juga
dalam hal bekerja. Ketika kita memilih untuk hidup senang, kita bisa melakukan
dengan berbagai cara, lewat KKN, menipu, menjatuhkan rekan kerja yang lain
bahkan membunuh, asal hati kita senang. Namun pertanyaannya, adalah, apakah
Tuhan senang? Belum tentu. Namun, ketika kita memilih hidup sesuai yang Tuhan
mau, mungkin bakal susah, hasilnya sedikit, tidak disenangi oleh orang banyak
dan mungkin kita tidak sekaya orang lain. Tetapi Tuhan pasti senang, karena
kita hidup dan melakukannya dengan cara yang Tuhan senangi, sukacitanya bakal
berbeda dan kedamaian di hati ini nggak akan terganti.
Lalu
hal apa yang Tuhan katakan kepadaku… waktu aku mendengarkan khotbah ini,
kepalaku kembali sakit dan hatiku rasanya sesak sekali, mataku berkaca-kaca.
Aku merasa, Tuhan begitu tahu, apa yang lagi aku alami, beban apa yang sedang
aku pikul, kekhawatiran dan mungkin keraguan apa yang sedang aku simpan di
dalam hati. Heii…it’s make me strong.
Keadaanku, aku akhir-akhir ini sering menolak,
kesempatan kerja, dimana ketika aku masuk, keluargaku akan menggunakan sistem
uang, agar aku bisa mencapai posisi yang tinggi. Ketika aku mendengarkan itu,
dibenakku terlintas, uang yang banyak, jabatan prestise, rasa hormat kepadaku,
kehidupan yang nyaman. Menyenangkan, sangat menyenangkan. Semua orang termasuk
aku, pasti banyak yang menginginkannya.
So,
apa responku. Aku menolaknya, dengan alasan aku ingin tetap mengejar mimpiku menjadi
penulis dan aku tidak ingin kehilangannya lagi. Mungkin pekerjaan ini, pada
awalnya tidak menjanjikan uang yang banyak, tapi aku mengejar kedamaian di
hatiku dan kebahagiaanku, ketika aku mengerjakannya. Susah sangat sangat susah,
namun hasil akhirnya aku selalu percaya pasti akan indah.
Ketika
kita mengikuti arus dunia, maka semuanya akan terasa mudah namun ketika kita
membuat jalan kita sendiri, susah tapi itu membahagiakan. Penuh dengan
penderitaan, pasti, karena ujian, masalah, kesusahan, itulah warna-warni
kehidupan. Karena hidup kita, tidak akan selamanya semanis gula. Hidup kita itu
bagaikan berbagai rasa di ice cream, manis adalah coklat, pedas bagaikan daun
mint, kecut bagaikan rasa orange, pahit bagaikan rasa kopi, biasa bagaikan
vanilla. Namun, ketika dicampurkan dengan takaran yang pas, itu akan
menimbulkan sensasi yang tidak akan terlupakan dan pasti akan sangat
menyenangkan.
Menderita
itu pasti, karena hidup tidaklah mudah namun itu akan menimbulkan sebuah daya
tahan uji yang kuat. Ketika Tuhan menderita, dia selalu terhibur akan janji
Tuhan kepadanNya, kebahagiaan kekal di surga nanti. Sama, Tuhan juga
menjanjikan kita demikian. Abraham, karena ketaatanNya, Tuhan menjanjikan dia
menjadi pemimpin untuk segala bangsa. Begitu juga kita, Tuhan pasti akan
memberikan kita penghiburan, kekuatan dan janji yang indah bagaikan pelangi,
ketika kita taat kepadaNya. Itu semua, akan menjadi sebuah cahaya indah yang
akan bersinar untuk banyak orang, karena kita hidup dengan cara yang baik dan
benar.
Cahaya
itu akan bersinar dan menyinari kegelapan, dimana ketika banyak orang
kehilangan harapan, hidup kita yang bercahaya dan bersinar itu telah
menginspirasi banyak orang. Jadi, janganlah kehilangan harapan, tetap selalu
percaya, bahwa kita punya Tuhan yang akan selalu menyediakan dan membuat impian
kita, menjadi kenyataan. Asalkan kita, percaya.
Happy Sunday all….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar