Jika ditanya, apakah semua orang
ingin bahagia pasti hampir seluruh penghuni di bumi ini, akan berkata “IYA”
karena tidak ada satupun orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Begitupun
juga aku, sedari kecil hingga sekarang aku selalu memimpikan dan berusaha untuk
meraih kehidupan yang bahagia, meskipun itu hanya dengan cara yang sederhana.
Ketika kecil hingga sebelum aku
hidup terpisah dengan orangtuaku, aku selalu mendapatkan hal yang bahagia,
begitu lengkapnya, hingga rasanya aku jarang sekali menangis. Hingga, aku
merasakan yang namanya kehilangan mulai dari pacar hingga tinggal sendiri tanpa
orangtua. Dari situlah aku sadar, hidup itu tidak selamanya bagaikan gula
begitu manis, hidup itu juga ada rasa pahitnya layaknya daun mint di campuran ice cream.
Selang berproses di Petra,
mendapatkan begitu banyak seminar dan pembekalan yang membawaku ke dalam arti
bahagia yang sebenarnya, yaitu bahagia adalah berhasil membuat hidup itu
menjadi lebih bermakna, lewat sebuah hal yang jauh lebih berarti yaitu MIMPI. Impian,
Passion, Vission, Tujuan Hidup,
Target Hidup, Hidup yang berdampak. Selama empat tahun aku di Petra, aku begitu
kenyang bahkan aku bisa memotivasi para juniorku untuk memikirkan kembali arti
hidup mereka. Mereka terkagum dan aku merasa bahagia. Dari situlah awal
pemikiranku yang ternyata sangat dangkal, tentang apa itu bahagia.
Dan setelah mengalami banyak
kemudahan hidup, hingga aku memutuskan untuk berhenti dari tempat kerjaku dan
berproses melalui orang-orang di sekitarku, keberhasilanku selama empat tahun
di Petra, rasanya seakan tidak berarti, rasanya bagaikan omong kosong yang
melebur dan lenyap begitu saja terbawa oleh angin, sama sekali tidak terlihat. Aku
merasa hancur, karena aku melupakan dan tidak memikirkan bahkan tidak memperjuangkan
apa yang menjadi mimpiku sebenarnya yaitu Penulis.
Hingga aku merasa, begitu kecil,
dangkal, merasa diriku begitu bodoh karena harusnya aku memperjuangkan apa yang
menjadi mimpiku, namun aku bertindak seperti melupakannya bahkan menguburnya
rapat dalam hatiku, hingga tidak banyak yang tahu. Bahkan mungkin, aku berusaha
tidak ingin tahu, karena aku mengikuti arus layaknya orang, yang mungkin
hidupnya sebenarnya tidak bermakna, karena hanya sekedar hidup. Sedangkan aku
tahu, hidupku punya waktu yang terbatas, semestinya aku isi dengan hal yang
jauh lebih bermakna dan bisa berdampak untuk orang lain.
Setelah mengalami tempaan sana sini,
aku memutuskan untuk mengejar mimpiku menjadi penulis. Disinilah, aku mengalami
pasang surut dan ujian yang tak pernah kusangka akan sangat berat untukku, yang
menghadapkanku pada dua pilihan yaitu menyerah atau terus berjuang, hingga aku
mendapatkannya. Awalnya, karena begitu berkobar, aku memilih untuk berjuang
hingga aku rela untuk menunggu sampai aku mendapatkannya. Karena aku mengalami,
bagaimana rasanya melakukan hal yang sesuai dengan passion itu seperti apa
rasanya. Dan, perasaan seperti ini yang selalu aku cari.
Hingga setahun berlalu, aku bertemu
dengan teman-temanku yang sudah sukses, punya jabatan, bercerita tentang
pekerjaannya, tidak hanya itu, tekanan-tekanan itu mulai terasa menyesakkanku,
membuat air mataku ini mulai mengeluarkan stocknya,
bahkan sampai di titik aku merasa lelah untuk menangis. Aku mulai memikirkan
ulang tentang MIMPI, keyakinanku untuk berjuang, kerelaan hatiku yang dulu
untuk menunggu bahkan kepikiran untuk menulis, aku buang jauh untuk sementara.
Dia terasa begitu jauh semakin
menjauh, apa yang aku harapkan untuk aku raih, ternyata menghilang. Segala planning
hidupku, aku terlalu lelah untuk menata terus menerus. Mimpiku yang dulu aku
lihat bagaikan pelangi, kini entah kenapa mengapa menjadi embun yang hanya
sekedar muncul di kala hujan, namun bahkan hujanpun, yang aku lihat tidak lagi
menyisahkan sebuah embun. Hujan hanya menyiratkan sebuah petir yang membuat
telingaku begitu sakit hingga membuat hatiku menjadi kelu.
Di kala apa yang aku harapkan
tidaklah terjadi, namun yang tidak aku harapkan terjadi, hatiku kembali menjadi
bimbang bahkan sakit. Hanya berselang sehari, kabar buruk dan kabar (tidak)
baik datang. Aku hanya berteriak di kelunya lidahku, apa maksudnya ini? Mengapa
semuanya serba mempermainkan perasaanku bahkan logikaku. Aku tidak ingin
menyalahkan siapa-siapa, bahkan keadaan, namun aku begitu kecewa sama diriku
sendiri bahkan harapanku sendiri, respon hati seperti apa yang semestinya aku
berikan dan harapan apa yang semestinya aku buat. Impian seperti apa yang
semestinya aku buat, apa aku nggak boleh bermimpi? Untuk apa aku punya mimpi,
jika segala sesuatunya hanya membuat aku seperti bola ping pong.
Aku
tahu, aku masih punya pilihan. Kebahagiaanpun juga merupakan pilihan. Mimpipun juga
pilihan. Aku memilih untuk bermimpi karena aku tahu dan percaya, ketika aku
meraih mimpiku, hidupku tidaklah sia-sia, aku jauh lebih memiliki alasan untuk
hidup dan berjuang. Aku tidak ingin mengisi waktuku dengan hal yang sia-sia. Aku
ingin menjadikan hidupku seperti buku yang terbaca oleh semua orang dan orang
lain bisa terinspirasi lewat hidupku, karena aku percaya bermimpi adalah HAK
untuk setiap orang. Tidak ada yang bisa membatasi kita untuk bermimpi. Hidupku juga
pasti akan jauh lebih bahagia, dibandingkan oleh orang lain yang tidak memiliki
mimpi.
Namun,
ketika mimpi terkadang menjadi sebuah kutuk yang membuatku merasa tidak
bahagia, seakan menderita. Bahkan mimpiku sendiri, menjadi ketakutanku untuk
bisa kuceritakan kepada orang di sekitarku, karena takut dianggap tidak normal,
tidak berprospek, tidak patuh sama orangtua, hanyalah sebuah khayalan, hanya
akan membuang waktu karena menanti yang tidak pasti. Bukankah itu akan menjadi
sebuah beban? Bukankah itu bisa menjadi sebuah duri dalam hati. Semestinya bisa
membuat bahagia namun malah menyiksa.
MIMPI
mengapa kehadiranmu selalu membuat hati manusia menjadi tidak tentram dan
gelisah? Mengapa kehadiranmu bagaikan dua sisi mata uang yang bersifat
kontradiktif? Aku percaya kehadiranmu akan membuat hidupku menjadi bahagia,
berwarna bahkan bermakna, karena tidak akan ada yang namanya mimpi bersifat
mencelakakan. Namun, kadang kehadiranmu tidak jarang membuat hatiku sakit dan
hancur.
Namun,
berapa lama lagi aku bisa mencapai dreamlandku?
Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa mendaki pelangi? Kapan lagi aku
bisa mendapati silver liningsku? Kapan
aku bisa menyaksikan dengan mataku sendiri, kekuatan impian mengalahkan segala kebahagiaan
semu? Tapi, aku berterimakasih kepadamu, karena kamu, aku tahu rasanya
berjuang, aku tahu rasanya beriman, aku tahu rasanya gagal, aku tahu rasanya
bahagia karena mimpi, aku tahu dan belajar untuk menghargai proses, aku lebih
belajar menghargai hidup orang lain dan kehadiran orang di sekelilingku yang
mendukungku, aku tahu rasanya menunggu dan bersabar.
Aku
juga ingin bahagia, bisa hidup bebas bahkan berani untuk menceritakan apa yang
ada dalam hatiku. Namun aku percaya dan terus ingin percaya, semua itu akan
jauh lebih berarti jika disertai dengan impian. Aku ingin terus belajar untuk
percaya, akan kekuatan IMPIAN.