Sabtu, 02 Mei 2015

Jika

            Jika aku bisa terlahir kembali….
            Aku tetap ingin dengan orangtuaku yang sekarang
            Aku tetap ingin dengan teman-temanku yang saat ini ada di sisiku
            Aku tetap ingin memiliki talenta yang saat ini aku miliki
            Aku tetap ingin dengan kondisi keluarga yang saat ini, tidak berkekurangan
            Aku tetap ingin bisa bermimpi dan menyenangkan hati banyak orang
           
            Jika aku bisa terlahir kembali….
            Aku tidak ingin pindah dari Surabaya ketika SMA
            Aku tidak ingin memilih jurusan yang aku pernah ambil
            Aku tidak ingin hanya sekedar menjadi patuh
            Aku tidak ingin tidak bisa bersuara
            Aku tidak ingin lulus tepat waktu, mungkin.

            Jika aku bisa terlahir kembali…
            Aku ingin meminta dia tetap hidup
            Aku ingin meminta agar aku bisa dimengerti sekali saja
            Aku ingin meminta agar aku bisa menata hidupku sendiri
            Aku ingin meminta agar aku sepenuhnya bebas
            Aku ingin meminta agar aku bisa sedikit egois

            Jika aku bisa terlahir kembali…
            Aku tidak perlu memiliki rasa takut untuk menceritakan mimpiku
            Aku tidak perlu ragu untuk mengambil hal yang harusnya aku ambil
            Aku tidak perlu ragu untuk mengutarakan kemana aku ingin berkuliah
            Aku tidak perlu melupakan dan mengubur rapat mimpiku
            Aku tidak perlu takut untuk memilih apa yang aku mau.
           
            Namun….
            Itu hanya sebuah kata “jika” sebuah kata yang sifatnya bisa terjadi bahkan mungkin tidak akan mungkin terjadi. Hanya sebuah kata, untuk memanggil masa lalu yang sekiranya pahit dirasa. Hanya sebuah kata untuk menghibur diri, dikala merasa terpuruk, karena apa yang diinginkan telah terlambat untuk dijangkau.
            Bukannya aku tidak bersyukur dengan hidup dan diriku saat ini, hanya saja….
Lima tahun mungkin bahkan lebih, aku hidup menjadi anak yang patuh bahkan mungkin terlalu patuh, hingga aku tidak bisa dan tidak berani untuk menampilkan siapa aku yang sebenarnya, termasuk impianku. Tidak berani menceritakan mimpiku, menunjukan karyaku, menulis dikala orang tidak tahu, hingga berpura-pura menjadi amnesia untuk bisa mengikari mimpiku ini.
            Aku hanya merasa iri dan juga termotivasi…..
Diluar hidupku, aku melihat banyak orang bisa bebas meraih dan menata hidupnya sendiri, termasuk mimpinya. Aku bahkan tidak tahu, apakah orangtuaku mendukung aku jika aku benar-benar nekat untuk menjadi penulis. Menjadi penulis yang ingin menggerakkan orang lain untuk bisa bermimpi setinggi-tingginya tanpa perlu malu dan takut untuk menunjukkan ke dunia. Karena aku tahu, hidup ini hanya sekali dan aku tidak ingin meninggal dengan penyesalan.
            Mimpiku, ya….mimpiku yang indah, idealis, besar dan mungkin sangat kecil untuk terjadi…
Karena aku mengalami masa kecil yang indah dan aku selalu peraya bahwa hidup ini sangatlah indah, maka aku ingin memiliki mimpi yang indah, sehingga aku bisa mengubah dunia ini menjadi lebih indah, karena dengan memiliki impian, hidupmu akan menjadi lebih indah.
            Dan aku pernah mengalaminya, menghidupi impian itu sangatlah indah. Mengubur impian, sangatlah menyakitkan. Aku tidak lagi ingin merasa sakit dan meratapi hal yang akan aku sesali nantinya. Aku tidak ingin menambah masa terpenjara, aku hanya ingin menambah waktu untuk bisa hidup layaknya burung yang bebas terbang kemana mereka mau. Hingga, waktunya nanti aku benar-benar pulang ke sangkar dengan rasa benar-benar bahagia.

            Bukannya aku tidak ingin menjadi anak yang patuh dan tidak sedikitpun aku ingin mengecewakan hati orang-orang yang berharap banyak kepadaku. Dan pada dasarnya, aku bukan Tuhan, aku memang tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, karena hidup ini adalah tentang memilih. Aku hanya rindu, bisa menikmati hidup sesuai mauku dan mimpiku. Karena, aku tahu, aku tidak akan pernah tahu sampai kapan aku bisa bernafas. 

Selasa, 28 April 2015

Finding a truly meaning of family from Fast and Furious Seven

Fast and Furious 7
Finding a meaning of truly Family
            Bittersweet movies, itulah yang ada di dalam benakku ketika selesai menonton film ini. Terlepas dari aku tahu film ini merupakan film yang di dedikasikan untuk salah satu actor terbaik mereka yaitu alm.Paul Walker. Aku berusaha untuk membuang jauh-jauh pemikiranku tentang hal itu, karena aku benar-benar ingin tahu, kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh filmmaker tersebut lewat film ini.
            Film ini dibuka dengan cerita kehidupan pribadi Toretto (Vin Diesel) dengan Letty (Michelle Rodriguez) yang ternyata sudah menikah, namun Toretto sengaja untuk tidak mengingatkan Letty yang di dalam cerita tersebut, karena dia mengalami sebuah kejadian yang membuat Letty tidak ingat akan masa lalunya dan sedang mencari jati diri dia yang sebenarnya (Lanjutan dari Fast and Furious 6) . Tidak hanya kehidupan Toretto namun juga kehidupan dan pergolakan batin dari Brian (Paul Walker) yang memutuskan untuk mengikatkan dirinya dalam sebuah keluarga bersama dengan istrinya yaitu Mia (Jordana Brewster), tidak lagi mengendarai mobil balap namun mengendarai mobil keluarga. Memiliki anak, tidak lagi ada peluru namun hidup untuk sepenuhnya dengan keluarga. Meskipun sebenarnya dalam hatinya dan sepanjang film berjalan, sangat nampak sekali betapa dia merindukan kehidupan di jalanan berpacu dengan peluru, bertaruhkan nyawa dan mendengarkan deru mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.
            Inti dan konflik cerita, dimulai dari adegan Hobbs(Dawyne Johnson) ketika dia bertemu dengan musuh besarnya yaitu Deckard Shaw (Jason Statham) dalam proses pekerjaannya bersama dengan Elena (Elsa Pataky) ketika Deckard ingin mencari tahu siapa yang membunuh adiknya yaitu Owen Shaw(Fast and Furious 6). Akhirnya, Hobbs terlibat pertarungan bersama dengan Deckard yang pada akhirnya membuat Hobbs harus terbaring di rumah sakit, karena terlempar keluar dari gedung yang sangat tinggi, dan dengan efek angle kamera terlihat bahwa Deckard mencari Han (Sung Kang).
            Konflik mulai meninggi, ketika esok harinya Dom mengunjungi Brian dan Mia yang dimana Brian akan mengantarkan anaknya pergi ke sekolahan. Dom, melihat di perkarangan rumah Mia ada sebuah paket besar yang Dom kira itu berasal dari Han karena berlabelkan alamat dari Tokyo. Namun, dari sebuah telepon Dom tahu bahwa sebuah perperangan di jalanan akan dimulai kembali, karena nyatanya itu adalah sebuah bom yang menghabiskan rumah Mia dan nyaris mencelakakan anaknya dan kandungan Mia.
            Siapa musuh yang akan dihadapi oleh Dom diketahui, setelah rekannya Elena yang merupakan istri dari Hobbs menelefon bahwa Hobbs ingin bertemu dengan dirinya di sebuah rumah sakit. Singkat cerita, Dom mengunjunginya dan Hobbs menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan keberhasilan Dom beserta crewnya di London tidak serta merta membuat kehidupan mereka bisa “Santai” namun ternyata harus membuat masalah baru yaitu Deckard Shaw mengincar mereka terutama Dom. Setelah mendapatkan pesan dari Hobbs untuk tidak gagal dalam mengagalkan rencana Deckard untuk membunuh satu persatu crew Dom, Dom segera pergi ke Tokyo untuk membawa pulang Han.
            Namun, disini bisa terlihat rasa persaudaraan yang begitu mendalam antar anggota Dom yang dari serial awal mereka bersama hingga serial tujuh ini. Begitu tiba di Tokyo setelah melalui beberapa balapan dan bertemu dengan Sean Boswell (Lukas Black) dan teman Han yang ada di serial Tokyo Drift, Dom tidaklah menemukan Han namun mendapatkan kalung salib yang Dom berikan kepada Han dan juga foto Giselle, karena Han telah meninggal di tangan Deckard yang berpararel dengan adegan rumah Brian hangus karena di bom oleh Deckard.
            Semakin geramlah Dom dan dia berjanji, akan melakukan hal yang sama kepada Deckard. Hal yang telah dia lakukan kepada keluarga Dom. Setelah menghandiri pemakaman Han bersama dengan keluarga Dom yang lain, di situ juga ada Roman (Tyrese Gibson), Dom merasa bahwa dia juga diikuti oleh Deckard, dan hal itu membuat Dom mengejar Deckard. Untuk pertama kalinya mereka bertemu dengan Deckard di sebuah terowongan dan bertarung. Dalam pertarungan itu, pertarungan mereka akhirnya digagalkan oleh sekelompok agent yang dipimpin oleh Mr. Nobody (Kurt Rassel). Dimana agent tersebut menawarkan sebuah bentuk kerjasama yang sama-sama menguntungkan.
            Setelah dibawa ke markas agent tersebut, Mr.Nobody menjelaskan bentuk kerjasama apa dan misi apa yang harus Dom selesaikan tentunya bersama dengan keluarga Dom. Misinya adalah merebut kembali angel eyes dan juga agentnya yaitu Ramsey (Nathalie Emmanuel). Dompun setuju dan disinilah jiwa dari film ini akhirnya muncul, berpacu di dalam jalanan, strategi dan juga solidaritas. Tidak lupa, tingkah konyol yang diwarnai oleh Roman dan Tej yang menjadi bumbu menarik dalam penyelesaian kedua misi besar ini. Oh ya, ketika Dom dan keluarganya bertemu di markas Mr.Nobody, Dom kembali bertemu dengan Letty, soulmatenya yang pada adegan awal tadi, berpisah karena terjadi sebuah konflik diantara mereka. Dan, akhirnya mereka kembali lagi bekerjasama.
            Misi diselesaikan dengan dibuka oleh adegan mobil yang terjun dari sebuah pesawat dengan ketinggian yang sangat tinggi, dan mendarat dengan suksesnya di sebuah bukit. Menangkis peluru, adegan Brian melompat dari mobilnya untuk bisa masuk ke sebuah truck yang menyandera Ramsey dengan akhir, Brian harus nyaris terjatuh ke sebuah jurang. Namun, disinilah adegan yang begitu menarik, dia berjuang untuk bisa keluar dari truck, mendaki kap depan truck dan berlari meninggalkan truck itu sebelum jatuh. Fiuhh, akhirnya Brian berhasil.
            Tidak hanya Brian yang harus mengalami kejadian mengerikan, Domminic ternyata dikejar oleh Deckard dan juga Jakande yang mengincar Dom juga. Namun, Domminic berhasil lolos meskipun harus mempertaruhkan hidupnya dengan cara lompat menuju jurang dan berhasil diselamatkan oleh keluarga Dom, meskipun itu harus membuat Ramsey mengalami shock.
            Yeah, perjalanan mereka untuk bisa mendapatkan angel’s eyes tidak mudah dan harus semakin jauh mereka berpetualang, karena Ramsey menitipkan angel’s eyes itu di temannya yang ada di Abu Dhabi. Pergilah mereka ke Abu Dhabi, dan bukan Dominic namanya jiga tidak membuat sebuah “kejutan” yang menonjolkan dirinya. Angel’s eyes itu ternyata sudah dijual kepada seorang miliader di Abu Dhabi dan ditaruh di dalam sebuah mobil yang harganya puluhan juta dolar amerika serikat dan mobil itu stocknya hanya ada tujuh. Bisa bayangkan, betapa kayanya miliader itu. Dan, jika mereka ingin mengambilnya, mereka haruslah menyusup ke dalam apartement dia esok hari, karena akan ada sebuah semacam privat party yang bisa dihadiri oleh semua orang yang ada disana.
            Disinilah Tej beraksi dengan Ramsey, untuk menyadap keamanan apartemen miliader itu. Dan, Brian serta Dom akan mengambil chip itu di mobil milik miliader. Sedangkan Letty, akan memutus jaringan keamanannya yang ada di kamar pribadi miliader. Namun, gerak-gerik Letty diketahui oleh bodyguard cewek (keren ya) dan rencana mereka nyaris digagalkan oleh bodyguard itu. Karena sudah dikejar waktu, ketangkap besah, mau tidak mau mereka harus kabur. Dan disinilah, sisi “pembuat kejutan” Dominic muncul dan itu keren banget. Ketika mereka tidak bisa mengambil chipnya, maka ambil saja mobilnya. Disinilah, keraguan Brian akan mobil tidak bisa terbang terhapuskan. Karena mobil itu tidak bisa keluar dari apartemen dengan sopannya, maka mobil itu akhirnya keluar dengan liarnya, yaitu terbang melewati tiga gedung apartement (disinilah rasa ingin tahuku muncul, bagaimana sang director yang bekerjasama dengan editor dan department yang menghandle adegan ini, bekerjasama untuk menciptakan adegan ini). Karena rem mobil itu blong, maka, mau tidak mau mereka berdua harus meninggalkan mobil ini agar tetap selamat. Setelah Brian mendapatkan chip itu, maka Dom merelakan mobil mahal itu terjun dengan indahnya hingga rusak ke lantai paling dasar. Dan, misi mereka selesai. Karena Dom dkk, berhasil mendapatkan chip dan Ramsey.
            Lalu bagaimana dengan Deckard? Wait…inti film ini barulah dimulai sebenarnya. Setelah Mr. Nobody mendapatkan kedua itu, dia menyerahkan chip itu kepada Dom dan mengambil alih tugas Mr.Nobody untuk menggerakkan pasukan agent berkerjasama dengan Dom. Setelah Ramsey melacak keberadaan dari Deckard, Dom dkk ditambah dengan pasukan dari Mr.Nobody bergerak untuk mengepung dan menghabisi Deckard. Sebenarnya waktu scene ini, sempat muncul kekecewaan apakah film ini akan berakhir hanya dengan cara seperti ini? The easiest ways? What? Yang bener ajaa? Karena berdasarkan sekuel sebelumnya, cara mereka untuk menyelesaikan film ini benar-benar perang jalanan, karena berada di jalan entah itu dengan mobilnya ataupun fisikly. Tapi, inilah yang membuat aku begitu cinta dengan film berkarakter manusia bukan robot. Simak saja terus ulasanku ^^
            Director dan writer menghapus kekecewaanku dengan cara, tertembaknya Mr.Nobody dan agentnya yang membawa angel’s eyes. Dominic yang memiliki rasa cinta dengan keluarganya, menyelamatkan Mr.Nobody dan memilih untuk segera meninggalkan gudang tersebut serta memerintahkan Brian untuk tidak perlu mengambil angel’s eyes yang tergeletak di ruangan persembunyian Deckard Shaw. Karena keberlangsungan hidup Mr.Nobody lebih penting, meskipun mereka tahu ketika angel’s eyes ada di tangan Shaw, terbaliklah posisi mereka. Awalnya, Dom dkk yang menyelidiki dan memburu Shaw maka sekarang Shaw dan pasukannya yang memburu Dom dkk.
            Mr.Nobody akhirnya meninggalkan Dom dkk untuk berobat dan menitipkan selama Ramsey masih hidup, mereka masih aman. Dan cara Dom untuk membalaskan dendam kepada Shaw kembali ke style lama mereka, mungkin mereka tidak memiliki chip itu dan alat-alat yang memungkinkan untuk melumpuhkan Shaw dkk. Tapi, selama mereka masih memiliki jalanan, itu sudah cukup. Dan aku setuju, karena inilah uniknya FF dibandingkan dengan cerita tentang balapan mobil yang lain, hingga aku bisa jatuh cinta sama film ini, meskipun film ini bukanlah style filmku.
            Singkat cerita, setelah mengalami pertarungan dan berburu dengan peluru (seperti apa yang dirindukan oleh Brian), Brian dkk berhasil meretas sistem lacak dari angel’s eyes. Dan, penyelesaian inti dari film ini, ada di adegan Dom bertarung dengan Shaw dengan cara jalanan. Bermodalkan alat untuk memodifikasi mobil (style anak otomotif banget). Sebenarnya agak sedikit kecewa karena Shaw berhasil mati tidak murni dengan tangan dari Dom, tapi juga dibantu oleh Jakande yang ternyata berkhianat dengan Shaw dengan cara membom gedung tempat Dom dan Shaw bertarung. Terjadilah sebuah keretakkan dan dimanfaatkan oleh Dom, untuk membuat patah tempat Shaw berdiri yang membuat dia terlempar hingga akhirnya mati.
            Tidak selesai dari situ, akhir dari cerita film ini mengangkat sisi kekeluargaan dan rasa cinta Dom dengan keluarga garasi Dom. Ramsey dan Letty yang ada dalam bahaya, karena diserang oleh Jakande. Dengan mengejar waktu dan sebelum gedung itu ambruk, Dom keluar dan berusaha untuk melemparkan bom yang sudah dia bawa ke pesawat milik Jakande. Bom itu berhasil menyangkut di pesawat Jakande, namun sayangnya Dom tertimbun gedung karena tidak sempat keluar dan Dom tidak sadarkan diri. Hal ini membuat Letty sedih dan ingat akan apa yang sudah terjadi antara Letty dengan Dom.
            Dom mati? Awalnya aku mengira begitu dan sedih, karena selain sudah kehilangan Paul Walker, film FF pasti akan berbeda tanpa adanya Dom, secara dia leader. Tapi, twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak, dia masihlah hidup dan mereka hidup bahagia. Dan, aku juga senang, karena Dom masihlah hidup. Ya iyalah wajar, nggak mungkin banget, tokoh utamanya mati.
            The last scene, it was make me standing applause for director, DOP and writer. Sangat indah sekali namun menyakitkan. Adegan perpisahan yang sangat personal antara Dom dengan Brian. Karena Dom menyadari bahwa sebenarnya yang terpenting untuk Brian, adalah keluarganya, meskipun dia harus berhadapan dengan peluru, jalanan dan nyawa, hal yang terpenting adalah keluarga. Hingga, hal itu membuat Dom untuk pergi tanpa pamit, meskipun Brian akhirnya mengejarnya dan mendapatinya di lampu merah. Mengingatkan akan awal mula mereka bertemu di serial awal FF, hingga membuat Brian menjadi saudara Dom. Dan, mereka akhirnya sama-sama menyetir menyusuri jalanan yang diiringi dengan Voice Over dari Domminic, tentang perasaannya kepada Brian, walaupun sudah pergi jauh, miles away, Brian tetaplah saudaranya, hingga mereka berpisah di persimpangan. Ending yang indah meskipun simple (tapi kalau aku berada di posisi writer itu, apakah aku bisa menciptakan adegan seindah itu?) namun menyakitkan, it was make me cry a lot. Hingga, aku pribadi bisa merasakan kesedihan dari sutradara, penulis, DOP, bahkan Dom.
 Namun setelah ku pikirkan lebih jauh, adegan ini membuatku bertanya, yang aku sendiri tidak tahu, apakah pertanyaanku ini konyol atau tidak. Bagaimana kelanjutannya film ini pada nantinya? Meskipun aku tahu, secara person as a character on film, masihlah ada. Tapi, jiwa asli sang paul walker, apakah akan tetap sama? Karena bagiku pribadi, Paul Walker tetaplah Paul Walker, tak akan tergantikan. Pemikiran inilah yang membuat aku menantikan, kelanjutan dari sekuel ini. Dan, relasi yang dalam antara Brian dan Dom, apakah akan masih terasa? I just can wait and see at that’s time.
Terlepas film ini sebagai bentuk tribute mereka untuk Paul, ada adegan romance, fight, drive. Bagiku film ini, bukanlah film yang hanya bicara tentang speed, mission, strategy, rival, balas dendam tapi KELUARGA dan relasi. Mungkin Dom, bisa memilih untuk tidak perlu balas dendam, Brian tidak perlu join kembali dalam misi ini tapi karena ini menyangkut tentang keluarga, maka mereka dengan rela hati untuk melakukannya bahkan hingga bertaruh nyawa. Quote-quote Dom yang terselip dalam dialognya, tentang keluarga, sangat makin mengentalkan sisi humanis film ini tentang keluarga dan apa makna keluarga untuk Dom, hingga dia mau bertaruh nyawa untuk misi ini. Hal ini juga sangat terlihat jelas dari scene awal film ini, Brian yang memilih untuk berkeluarga, Dom yang rajin mengunjungi adiknya Mia dan iparnya Brian, Dom yang pada akhirnya menikahi Letty, Han yang begitu sedih kehilangan pacarnya. Roman dan Jet, meskipun dengan gaya konyolnya dan sempat ragu, memilih untuk join juga di misi ini. Hal-hal itulah yang membuat, sisi humanis keluarga dan relasi, begitu kental. Bahkan dalam adegan fight dan penyelesaian misi mereka, sangat kental sekali.
Setelah aku membaca dan melihat beberapa artikel, tentang di balik layar “pengadaan” Paul Walker, saya salut dengan produser, director, editor, DOP, cast department karena berhasil membuat Brian “ADA” dalam film ini. Wajar juga sih, SDM dan SDT(Sumber Daya Teknologi) mereka mumpuni banget. Dan hal inilah, yang makin membuatku penasaran dan mendorongku untuk bisa belajar film di luar negeri. Crew film disana, layaknya TUHAN, bisa menciptakan yang tidak ada menjadi ada, sama persis. Serta adegan-adegan, yang aku kemarin pikirkan, kalau itu dilakukan oleh SDM Indonesia, apakah mungkin untuk dilakukan? Dan apakah masih selamat? Hahaha…*sinis mode on*

Standing applause for those behind this movie, you did amazing job. And I will miss the truly of Paul Walker, I’m so sure, you proud and happy after watch it up there ^^

Minggu, 26 April 2015

Sepenggal rasa tentang menunggu

            Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana rasanya menjadi sebuah tempat untuk menunggu, entah itu bandara, dermaga, stasiun kereta ataupun halte bus. Jika mereka memiliki sebuah jiwa dan hati layaknya manusia, aku ingin sekali bertanya kepada mereka, bilakah dia bosan menunggu? Menunggu dan menanti seorang manusia, untuk singgah atau mungkin berlama-lama berada disana. Menanti agar ramai kembali dikala pagi hingga malam hari dan menanti kembali pagi, agar bisa melihat manusia.
            Tidak hanya ingin bertanya, perasaannya tentang menunggu. Aku juga ingin tahu, bagaimana gerangan hatinya, ketika melihat sebuah bencana yang terjadi, yang menyisahkan sebuah kesedihan cukup mendalam, apakah mereka akan ikut bersedih, seperti manusia yang lain. Akankah mereka juga ikut bergembira, ketika manusia yang ada di tempat mereka, sedang merasakan kegembiraan? Perasaan khawatir, menantikan kedatangan orang yang dinantikan, belum kunjung tiba?
            Mengapa aku ingin tahu? Aku kini merasa seperti sebuah tempat menunggu, yang mungkin belum berani melangkah untuk maju ataupun mundur, akan apa yang sebenarnya ingin aku raih dalam hidupku. Aku hanya bisa menanti sembari melihat keadaan di sekelilingku. Ada yang merasa bahagia, karena apa yang diraih oleh orang-orang sekitarku berhasil. Ada yang merasa sedih, karena kehilangan. Kadang merasa iri, yang seharusnya bukan ku anggap sebagai sainganku, tetapi berhasil meraih apa yang seharusnya aku raih terlebih dahulu. Merasa khawatir, khawatir jika mimpiku tidak terwujud. Merasa takut, akan apa yang terjadi hari esok. Merasa biasa, karena merasa bosan menjalani hidup yang ritmenya sama saja.
            Aku sadar, aku tidak pernah terbiasa menunggu dan kini paham, mengapa menunggu itu menyakitkan dan membosankan, karena ketidakpastian itu bisa menjelma menjadi apa saja yang dia inginkan bukan yang aku inginkan. Sebelum ini, aku selalu mudah mendapatkan apa yang aku inginkan-bukan impikan-tanpa perlu aku berjuang dengan kondisi yang saat ini, harus bekerja keras bahkan harus sampai menangis, karena tidak rela impianku hanya akan terkubur kembali di lembah paling dalam, yang siapapun bahkan aku tidak tahu.
            Aku tahu rasanya bahagia karena mimpi, aku tahu sedihnya karena mimpi, aku tahu rasanya bosan karena mimpi, aku tahu rasanya kecewa karena mimpi, aku tahu rasanya benci karena mimpi bahkan aku pernah menyerah dan bagaimana rasanya, hanya karena mimpi.
            Mengapa aku tahu semua itu, karena aktivitas baruku yang terselip diantara aktivitasku yang lain yaitu menunggu. Menunggu sebuah benih menunggu yang akan berbuah menjadi seperti apa. Apakah akan berbuah manis atau membusuk dan terbuang begitu saja.
            Sejujurnya aku sudah terlalu bosan untuk menunggu, hingga hatiku terasa menjadi mati, mati karena terlalu sering mendapatkan buah yang membusuk hingga aku buang begitu jauh. Namun, anehnya benih itu terus menerus tumbuh dan menganggu pikiranku. Lelah, iya lelah untuk terus memupuknya bahkan menunggunya.
            Hingga ketika aku berjalan dan melewati beberapa jenis tempat persinggahan, pemikiranku tergelisik akan suatu pertanyaan, mengapa tempat persinggahan itu tidak pernah lelah untuk terus menunggu entah itu manusia ataupun kendaraan, untuk sekedar singgah, berhenti bahkan menyaksikan bermacam jenis kejadian hidup manusia. Harus rela kepanasan, kedinginan, kehujanan, diberikan banyak debu bahkan menjadi tempat pembuangan sampah.
            Jawabannya hanya satu, karena dia setia untuk menjalankan fungsinya sebagai tempat untuk menunggu. Walaupun hanya sejenak, tetapi mereka tahu, apa yang mereka nantikan pasti akan didapatkan, walaupun itu harus menunggu lama dan disertai dengan berbagai ujian yang lainnya.

          Sama dengan kita manusia, disatu sisi kita boleh berusaha namun kita tetap harus menyerahkan segala rencana kita kepada yang empunya hidup kita, meskipun kita harus menunggu hingga jawaban itu diberikan kepada kita, yang memiliki impian. Walaupun, jawaban itu harus membuat kita kembali menjadi sedih. Karena selain bekerja, kodrat manusia juga adalah menunggu.