Minggu, 26 April 2015

Sepenggal rasa tentang menunggu

            Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana rasanya menjadi sebuah tempat untuk menunggu, entah itu bandara, dermaga, stasiun kereta ataupun halte bus. Jika mereka memiliki sebuah jiwa dan hati layaknya manusia, aku ingin sekali bertanya kepada mereka, bilakah dia bosan menunggu? Menunggu dan menanti seorang manusia, untuk singgah atau mungkin berlama-lama berada disana. Menanti agar ramai kembali dikala pagi hingga malam hari dan menanti kembali pagi, agar bisa melihat manusia.
            Tidak hanya ingin bertanya, perasaannya tentang menunggu. Aku juga ingin tahu, bagaimana gerangan hatinya, ketika melihat sebuah bencana yang terjadi, yang menyisahkan sebuah kesedihan cukup mendalam, apakah mereka akan ikut bersedih, seperti manusia yang lain. Akankah mereka juga ikut bergembira, ketika manusia yang ada di tempat mereka, sedang merasakan kegembiraan? Perasaan khawatir, menantikan kedatangan orang yang dinantikan, belum kunjung tiba?
            Mengapa aku ingin tahu? Aku kini merasa seperti sebuah tempat menunggu, yang mungkin belum berani melangkah untuk maju ataupun mundur, akan apa yang sebenarnya ingin aku raih dalam hidupku. Aku hanya bisa menanti sembari melihat keadaan di sekelilingku. Ada yang merasa bahagia, karena apa yang diraih oleh orang-orang sekitarku berhasil. Ada yang merasa sedih, karena kehilangan. Kadang merasa iri, yang seharusnya bukan ku anggap sebagai sainganku, tetapi berhasil meraih apa yang seharusnya aku raih terlebih dahulu. Merasa khawatir, khawatir jika mimpiku tidak terwujud. Merasa takut, akan apa yang terjadi hari esok. Merasa biasa, karena merasa bosan menjalani hidup yang ritmenya sama saja.
            Aku sadar, aku tidak pernah terbiasa menunggu dan kini paham, mengapa menunggu itu menyakitkan dan membosankan, karena ketidakpastian itu bisa menjelma menjadi apa saja yang dia inginkan bukan yang aku inginkan. Sebelum ini, aku selalu mudah mendapatkan apa yang aku inginkan-bukan impikan-tanpa perlu aku berjuang dengan kondisi yang saat ini, harus bekerja keras bahkan harus sampai menangis, karena tidak rela impianku hanya akan terkubur kembali di lembah paling dalam, yang siapapun bahkan aku tidak tahu.
            Aku tahu rasanya bahagia karena mimpi, aku tahu sedihnya karena mimpi, aku tahu rasanya bosan karena mimpi, aku tahu rasanya kecewa karena mimpi, aku tahu rasanya benci karena mimpi bahkan aku pernah menyerah dan bagaimana rasanya, hanya karena mimpi.
            Mengapa aku tahu semua itu, karena aktivitas baruku yang terselip diantara aktivitasku yang lain yaitu menunggu. Menunggu sebuah benih menunggu yang akan berbuah menjadi seperti apa. Apakah akan berbuah manis atau membusuk dan terbuang begitu saja.
            Sejujurnya aku sudah terlalu bosan untuk menunggu, hingga hatiku terasa menjadi mati, mati karena terlalu sering mendapatkan buah yang membusuk hingga aku buang begitu jauh. Namun, anehnya benih itu terus menerus tumbuh dan menganggu pikiranku. Lelah, iya lelah untuk terus memupuknya bahkan menunggunya.
            Hingga ketika aku berjalan dan melewati beberapa jenis tempat persinggahan, pemikiranku tergelisik akan suatu pertanyaan, mengapa tempat persinggahan itu tidak pernah lelah untuk terus menunggu entah itu manusia ataupun kendaraan, untuk sekedar singgah, berhenti bahkan menyaksikan bermacam jenis kejadian hidup manusia. Harus rela kepanasan, kedinginan, kehujanan, diberikan banyak debu bahkan menjadi tempat pembuangan sampah.
            Jawabannya hanya satu, karena dia setia untuk menjalankan fungsinya sebagai tempat untuk menunggu. Walaupun hanya sejenak, tetapi mereka tahu, apa yang mereka nantikan pasti akan didapatkan, walaupun itu harus menunggu lama dan disertai dengan berbagai ujian yang lainnya.

          Sama dengan kita manusia, disatu sisi kita boleh berusaha namun kita tetap harus menyerahkan segala rencana kita kepada yang empunya hidup kita, meskipun kita harus menunggu hingga jawaban itu diberikan kepada kita, yang memiliki impian. Walaupun, jawaban itu harus membuat kita kembali menjadi sedih. Karena selain bekerja, kodrat manusia juga adalah menunggu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar