Pernah aku bertanya pada diriku
sendiri, bagaimana rasanya menjadi sebuah tempat untuk menunggu, entah itu
bandara, dermaga, stasiun kereta ataupun halte bus. Jika mereka memiliki sebuah
jiwa dan hati layaknya manusia, aku ingin sekali bertanya kepada mereka,
bilakah dia bosan menunggu? Menunggu dan menanti seorang manusia, untuk singgah
atau mungkin berlama-lama berada disana. Menanti agar ramai kembali dikala pagi
hingga malam hari dan menanti kembali pagi, agar bisa melihat manusia.
Tidak hanya ingin bertanya,
perasaannya tentang menunggu. Aku juga ingin tahu, bagaimana gerangan hatinya,
ketika melihat sebuah bencana yang terjadi, yang menyisahkan sebuah kesedihan
cukup mendalam, apakah mereka akan ikut bersedih, seperti manusia yang lain.
Akankah mereka juga ikut bergembira, ketika manusia yang ada di tempat mereka,
sedang merasakan kegembiraan? Perasaan khawatir, menantikan kedatangan orang
yang dinantikan, belum kunjung tiba?
Mengapa aku ingin tahu? Aku kini
merasa seperti sebuah tempat menunggu, yang mungkin belum berani melangkah
untuk maju ataupun mundur, akan apa yang sebenarnya ingin aku raih dalam
hidupku. Aku hanya bisa menanti sembari melihat keadaan di sekelilingku. Ada
yang merasa bahagia, karena apa yang diraih oleh orang-orang sekitarku berhasil.
Ada yang merasa sedih, karena kehilangan. Kadang merasa iri, yang seharusnya
bukan ku anggap sebagai sainganku, tetapi berhasil meraih apa yang seharusnya
aku raih terlebih dahulu. Merasa khawatir, khawatir jika mimpiku tidak
terwujud. Merasa takut, akan apa yang terjadi hari esok. Merasa biasa, karena
merasa bosan menjalani hidup yang ritmenya sama saja.
Aku sadar, aku tidak pernah terbiasa
menunggu dan kini paham, mengapa menunggu itu menyakitkan dan membosankan,
karena ketidakpastian itu bisa menjelma menjadi apa saja yang dia inginkan
bukan yang aku inginkan. Sebelum ini, aku selalu mudah mendapatkan apa yang aku
inginkan-bukan impikan-tanpa perlu aku berjuang dengan kondisi yang saat ini,
harus bekerja keras bahkan harus sampai menangis, karena tidak rela impianku
hanya akan terkubur kembali di lembah paling dalam, yang siapapun bahkan aku
tidak tahu.
Aku tahu rasanya bahagia karena
mimpi, aku tahu sedihnya karena mimpi, aku tahu rasanya bosan karena mimpi, aku
tahu rasanya kecewa karena mimpi, aku tahu rasanya benci karena mimpi bahkan
aku pernah menyerah dan bagaimana rasanya, hanya karena mimpi.
Mengapa aku tahu semua itu, karena
aktivitas baruku yang terselip diantara aktivitasku yang lain yaitu menunggu. Menunggu
sebuah benih menunggu yang akan berbuah menjadi seperti apa. Apakah akan
berbuah manis atau membusuk dan terbuang begitu saja.
Sejujurnya aku sudah terlalu bosan
untuk menunggu, hingga hatiku terasa menjadi mati, mati karena terlalu sering
mendapatkan buah yang membusuk hingga aku buang begitu jauh. Namun, anehnya
benih itu terus menerus tumbuh dan menganggu pikiranku. Lelah, iya lelah untuk
terus memupuknya bahkan menunggunya.
Hingga ketika aku berjalan dan
melewati beberapa jenis tempat persinggahan, pemikiranku tergelisik akan suatu
pertanyaan, mengapa tempat persinggahan itu tidak pernah lelah untuk terus
menunggu entah itu manusia ataupun kendaraan, untuk sekedar singgah, berhenti
bahkan menyaksikan bermacam jenis kejadian hidup manusia. Harus rela kepanasan,
kedinginan, kehujanan, diberikan banyak debu bahkan menjadi tempat pembuangan
sampah.
Jawabannya hanya satu, karena dia
setia untuk menjalankan fungsinya sebagai tempat untuk menunggu. Walaupun hanya
sejenak, tetapi mereka tahu, apa yang mereka nantikan pasti akan didapatkan,
walaupun itu harus menunggu lama dan disertai dengan berbagai ujian yang
lainnya.
Sama dengan kita manusia, disatu
sisi kita boleh berusaha namun kita tetap harus menyerahkan segala rencana kita
kepada yang empunya hidup kita, meskipun kita harus menunggu hingga jawaban itu
diberikan kepada kita, yang memiliki impian. Walaupun, jawaban itu harus
membuat kita kembali menjadi sedih. Karena selain bekerja, kodrat manusia juga
adalah menunggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar