Jika
aku bisa terlahir kembali….
Aku
tetap ingin dengan orangtuaku yang sekarang
Aku
tetap ingin dengan teman-temanku yang saat ini ada di sisiku
Aku
tetap ingin memiliki talenta yang saat ini aku miliki
Aku
tetap ingin dengan kondisi keluarga yang saat ini, tidak berkekurangan
Aku
tetap ingin bisa bermimpi dan menyenangkan hati banyak orang
Jika
aku bisa terlahir kembali….
Aku
tidak ingin pindah dari Surabaya ketika SMA
Aku
tidak ingin memilih jurusan yang aku pernah ambil
Aku
tidak ingin hanya sekedar menjadi patuh
Aku
tidak ingin tidak bisa bersuara
Aku
tidak ingin lulus tepat waktu, mungkin.
Jika
aku bisa terlahir kembali…
Aku
ingin meminta dia tetap hidup
Aku
ingin meminta agar aku bisa dimengerti sekali saja
Aku
ingin meminta agar aku bisa menata hidupku sendiri
Aku
ingin meminta agar aku sepenuhnya bebas
Aku
ingin meminta agar aku bisa sedikit egois
Jika
aku bisa terlahir kembali…
Aku
tidak perlu memiliki rasa takut untuk menceritakan mimpiku
Aku
tidak perlu ragu untuk mengambil hal yang harusnya aku ambil
Aku
tidak perlu ragu untuk mengutarakan kemana aku ingin berkuliah
Aku
tidak perlu melupakan dan mengubur rapat mimpiku
Aku
tidak perlu takut untuk memilih apa yang aku mau.
Namun….
Itu
hanya sebuah kata “jika” sebuah kata yang sifatnya bisa terjadi bahkan mungkin
tidak akan mungkin terjadi. Hanya sebuah kata, untuk memanggil masa lalu yang
sekiranya pahit dirasa. Hanya sebuah kata untuk menghibur diri, dikala merasa terpuruk,
karena apa yang diinginkan telah terlambat untuk dijangkau.
Bukannya
aku tidak bersyukur dengan hidup dan diriku saat ini, hanya saja….
Lima tahun mungkin bahkan lebih, aku
hidup menjadi anak yang patuh bahkan mungkin terlalu patuh, hingga aku tidak
bisa dan tidak berani untuk menampilkan siapa aku yang sebenarnya, termasuk
impianku. Tidak berani menceritakan mimpiku, menunjukan karyaku, menulis dikala
orang tidak tahu, hingga berpura-pura menjadi amnesia untuk bisa mengikari
mimpiku ini.
Aku
hanya merasa iri dan juga termotivasi…..
Diluar hidupku, aku melihat banyak orang
bisa bebas meraih dan menata hidupnya sendiri, termasuk mimpinya. Aku bahkan
tidak tahu, apakah orangtuaku mendukung aku jika aku benar-benar nekat untuk
menjadi penulis. Menjadi penulis yang ingin menggerakkan orang lain untuk bisa
bermimpi setinggi-tingginya tanpa perlu malu dan takut untuk menunjukkan ke
dunia. Karena aku tahu, hidup ini hanya sekali dan aku tidak ingin meninggal
dengan penyesalan.
Mimpiku,
ya….mimpiku yang indah, idealis, besar dan mungkin sangat kecil untuk terjadi…
Karena aku mengalami masa kecil yang
indah dan aku selalu peraya bahwa hidup ini sangatlah indah, maka aku ingin
memiliki mimpi yang indah, sehingga aku bisa mengubah dunia ini menjadi lebih
indah, karena dengan memiliki impian, hidupmu akan menjadi lebih indah.
Dan
aku pernah mengalaminya, menghidupi impian itu sangatlah indah. Mengubur
impian, sangatlah menyakitkan. Aku tidak lagi ingin merasa sakit dan meratapi
hal yang akan aku sesali nantinya. Aku tidak ingin menambah masa terpenjara, aku
hanya ingin menambah waktu untuk bisa hidup layaknya burung yang bebas terbang
kemana mereka mau. Hingga, waktunya nanti aku benar-benar pulang ke sangkar
dengan rasa benar-benar bahagia.
Bukannya
aku tidak ingin menjadi anak yang patuh dan tidak sedikitpun aku ingin
mengecewakan hati orang-orang yang berharap banyak kepadaku. Dan pada dasarnya,
aku bukan Tuhan, aku memang tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang,
karena hidup ini adalah tentang memilih. Aku hanya rindu, bisa menikmati hidup
sesuai mauku dan mimpiku. Karena, aku tahu, aku tidak akan pernah tahu sampai
kapan aku bisa bernafas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar