Jumat, 27 Februari 2015

Seberkas Asa di Kelabunya Langit

          Agustus tahun lalu, seorang teman merekomendasikan kepadaku sebuah film yang berjudul Silver Linings yang bercerita tentang seorang pemuda dan pemudi yang berjuang dengan latar belakang yang berbeda, untuk memenuhi impiannya, di balik keterbatasannya. Film itu meskipun, memiliki banyak kata-kata kasar untuk beberapa dialog, namun ketika kita melihatnya baik-baik, memiliki banyak pesan manis yang sangat mengugah hati dan bahkan emosi, untuk terus memiliki harapan walaupun hanya seberkas titik kecil.
            Sampai pagi, iya….sampai pagi aku dan dia mendiskusikan value ini, value yang sebenarnya tidaklah baru, namun value ini membuka pandangan dan caraku untuk terus melanjutkan impian, yang sempat aku pendam beberapa lama. Dan, ini memberiku banyak harapan bahkan idealisme yang baru, untuk aku memperjuangkan impianku bahkan passionku, di tulis menulis. Dan, aku menjadi begitu bersemangat dan optimis, untuk merancang strategi baru.
            Tiga bulan setelah kami bertemu, aku benar-benar merasakan dan mendapati banyak silver linings, bahkan untuk project film kamipun, baik aku maupun dia, menemukan banyak silver linings bahkan arah hidup kami, perlahan-lahan berubah, khususnya aku, aku yang dulu hanya ingin menjadi penulis cerita dan novel romance yang biasa, tetapi aku tahu, penulis seperti itu emang udah banyak dan udah biasa, kenapa enggak, aku memanfaatkan passionku ini untuk menciptakan sebuah karya humanis, inspiring dan itu bisa memiliki dampak positif untuk banyak orang. Screenwriter, yes…mimpi besarku adalah menjadi penulis naskah dan Riri Riza adalah role modelku, untuk itu.
            Setelah film project kami selesai, kamipun kembali ke dunia kami masing-masing dan melanjutkan kehidupan, yang diharapkan kami masih terus berkarier dan menata jalan kami untuk meraih mimpi-mimpi kami. Aku sendiri, mencari banyak pintu untuk meraih impianku ini dan aku menemukan salah satu pintu yaitu pitching forum, ujungnya adalah kami bisa membuat sebuah film pendek, yang akan ditayangkan di rangkaian acara movie day XXI festival, dengan membuat synopsis film pendek. Bertemulah kami sekali lagi, untuk mengerjakan dan diharapkan dengan ini, kami bisa membuka satu pintu, untuk menuju impian kami.
           
Namun sayangnya, kami gagal bahkan lomba film pendekpun, gagal. Sedangkan, aku memiliki resolusi, tahun depan aku bisa memiliki sebuah jalan, untuk menggapai impianku menjadi seorang penulis naskah. Memang hidup, tidak selamanya memberikanmu kemudahan, walaupun kamu sudah berada di jalur yang benar. Dan, marilah membuat planning baru….
Semakin hari, kadang aku semakin terlupa untuk terus berkaca dan melihat sisi indah dibalik sebuah kegagalan. Hari-hari yang aku jalani, kadang membuatku berasa berat dan melelahkan, bahkan pedih. Hingga, aku kehilangan identitas asliku seperti apa, yang dulu aku suka menebarkan virus semangat dan harapan, mungkin aku tetap menuliskannya, namun hatiku merasa hambar, bahkan ketika aku menuliskan tulisan ini, di hari yang bertepatan dengan bertambahnya usiaku, akupun tetap merasakan hambar. Senang, sukacita, mungkin aku rasakan namun hanya sepintas lalu pergi.
Pernah aku memutuskan, untuk tidak menulis dan berhenti memimpikan menjadi penulis, jalani saja apa adanya, kalau ada kesempatan ambillah. Akupun mengikuti arus tersebut, namun hati ini tidak bisa dibohongi, udah sakit aku malah semakin sakit. Setiap jalan yang aku rintis, satu demi satu hilang, dan aku merasa stuck, bingung mau kemana. Aku ingin pergi ke satu tempat yang seharusnya, namun jalanku untuk menuju itu sudah rubuh. Ingin berbalik, tetapi aku akan menjauhi, ingin mendekati, there’s no way!!!!
Sisi melanku, sepertinya semakin berkembang…..seperti kata salah satu temanku, menjadi rapuh bahkan down. Hingga puncaknya, aku menghapus Silver Linings-ku dan aku menjalani hidup dengan mengikuti arus. Namun, ketika aku berada di puncak itu, sebuah halilintar menerjangku, aku ditampar dengan begitu kerasnya, hingga aku menangis, karena aku berhenti untuk percaya dan berharap. Sakit, tapi aku jadi sadar. Aku jadi sadar kembali, untuk apa aku menjadi penulis, mengapa aku terus menulis, dan yang terpenting adalah mimpi serta passion. Satu hal yang selalu dikumandangkan ke aku, “Ini kah, yang namanya calon penulis yang ingin menginspirasi, untuk terus mengejar mimpi?” aku hanya bisa diam dan, ya, kalau aku berani bermimpi dan selangkah untuk mewujudkannya, aku harus bisa menyelesaikannya. Karena mimpi dan passion ini, tidaklah murah….mahal sekali harganya dan membutuhkan banyak hal untuk mewujudkannya, bahkan harus mengorbankan banyak hal sekalipun. Tidak semua orang, bisa tahu passionnya apa dan hidupnya menjadi nggak bermakna, jadi ketika kita punya passion, apa iya kita mau jadi nggak bermakna, hidupnya?
Aku terhibur dengan, satu artikelku sudah publish dan akan publish di bulan April, serta hasil keisengan dan kerinduanku akan lomba, aku akan mengikuti lomba yang diharapkan dapat membantuku, untuk membuka jalan menuju impianku yaitu menjadi seorang penulis. Tidak hanya dihibur lewat hasil karya dan lomba, beberapa hari ini aku selalu diingatkan tentang harapan, janji, menjadi kuat, tabah, tegar dan yang terpenting tidak berhenti untuk berjuang. Beberapa temanku, juga tidak pernah lelah untuk bisa terus melihat hasil karyaku, bahkan untuk novel atau mungkin film. Karena mereka percaya, aku bisa.
Di kala aku semakin dikuatkan kalau aku bisa, itu tak ayal, juga membutuhkan banyak effort dariku, entah itu tenaga, uang, keringat, pikiran, jam tidur bahkan aku harus keluar dari zona nyamanku, kepalaku yang terus pening, mata yang semakin bengkak, bahkan mungkin nggak sepaham dengan orangtua, itu harus aku jalani, mau tidak mau. Aku yang sebenarnya adalah pecinta damai, yang ingin selalu damai, nggak bisa selamanya akan terus begitu.
 Berkaca dari teman seperjuangku untuk meraih mimpi, dia memiliki passion yang kuat, daya juang yang kuat, meskipun dia harus mengalami hal yang mungkin nggak enak, tetapi dia nggak perduli, dia harus bisa mewujudkan impiannya. Iri banget, dia bisa berkarakter seperti itu dan aku nggak ingin mengulang kesalahanku untuk ke dua kali, sudah cukup hampir empat tahun, aku terperangkap di lubang yang salah, ketika saat ini aku bisa memiliki banyak kesempatan untuk memilih dan merencanakan, aku ingin memanfaatkan itu.
Kini, aku memasang statusku kembali dan berharap, aku bisa kembali mengalami Silver Linings serta mengerjakan passionku kembali, seperti yang aku kerjakan di tahun lalu dengan tim produksi filmku. Akupun masih mengikuti beberapa lomba dan berharap entah lewat lomba, perencanaan hidup yang baru, penurunan ekspetasiku, hati dan semangat yang baru, bisa kembali membangun jembatan yang baru, untuk menuju my dreamland dan mewujudkan semua impianku serta menginspirasi banyak orang.
So, let’s find our silver linings into your darkest skies….

Inilah sekelumit asa, di tahun dan usia yang baru di balik begitu banyak kelabunya hari yang aku jalani…Happy birthday to me ^^

Kamis, 26 Februari 2015

Keindahan Pulau Osi yang Tersembunyi

Berawal dari sebuah keisengan untuk merayakan moment Natal dengan suasana yang berbeda, maka tercetuslah sebuah ide untuk mengunjungi sebuah kepulauan yang letaknya cukup jauh dari kota Ambon. Ide tersebut tercetus jam tiga sore waktu Indonesia Timur dan saya beserta keluarga, memutuskan untuk mengunjungi pulau Osi, yang terletak di pulau Seram.
Dengan modal nekad, jam empat sore waktu setempat, saya  pergi ke pelabuhan Hunimua yang terletak di sebelah pantai Liang. Dari kota Ambon, untuk menuju ke pelabuhan tersebut, memakan waktu empat puluh lima menit. Untuk menuju pelabuhan Hunimua, kita bisa menggunakan angkutan umum, motor dan mobil. Saya sekeluarga, memutuskan menggunakan mobil pribadi, karena saya ingin mengelilingi pulau Seram dan melihat tempat-tempat menarik, yang bisa dijadikan untuk obyek foto. Karena menggunakan mobil pribadi, saya membayar dua ratus ribu untuk satu kali jalan.
Dua jam tigapuluh menit, waktu yang harus ditempuh untuk menuju pelabuhan Waipirit, Seram. Karena baru berangkat dari pantai Liang sekitar setengah delapan malam, maka saya tiba di pulau Seram, sekitar sepuluh malam waktu setempat. Oh ya, di atas feri kita bisa mendapatkan fasilitas ruang VIP. Di dalam ruangan tersebut, dilengkapi dengan sofa, TV, ruang tanpa asap rokok, kamar mandi dan AC. Namun, untuk menikmati fasilitas tersebut, kita harus menambah lima ribu rupiah per orang dan pembayarannya dilakukan di atas feri.
Karena sudah larut malam, maka saya memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di pulau Seram. Meskipun fasilitasnya cukup standart, namun itu sudah cukup lumayan untuk mengistirahatkan kaki dan badan, yang sudah cukup lelah, karena melakukan perjalanan jarak jauh. Oh ya, keunikan dari pulau Seram di malam hari adalah, toko-toko beroperasi hingga larut malam. Contohnya seperti, toko bangunan, mini market, warung makan dan ini sangat membantu ketika saya ingin mencari “T” dan makan malam. Hal ini sangat berbeda seperti di Ambon atau kota Surabaya, di mana toko-toko banyak tutup setelah jam sepuluh malam, kecuali mini market atau warung makan yang memang beroperasi selama dua puluh empat jam.
Untuk sekedar info, pulau Seram merupakan daerah transmigran yang didominasi oleh orang Jawa. Hal ini sangat terasa, ketika keesokan paginya saya pergi ke pasar untuk mencari makan pagi. Ketika masuk ke pasar, saya mendengar para penjual makanan, menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan rekan penjual yang lainnya.
Hal ini sangat menguntungkan untuk saya, yang merupakan pendatang dari Jawa. Saya memutuskan menggunakan bahasa Jawa untuk membeli makanan. Dan beruntungnya, saya bisa mendapatkan tiga porsi nasi pecel, tiga porsi nasi kuning dan teh manis hangat dengan gratis. Kalau membayar,  per porsinya dihargai dengan tujuh ribu rupiah. Sangat murah kan?
Selepas makan, saya melanjutkan perjalanan untuk menuju pulau Osi. Perjalanan menuju pulau Osi ini, didukung dengan cerahnya cuaca, matahari yang bersinar tidak terlalu terik. Sepanjang perjalanan menuju pulau Osi, terhampar hijaunya sawah-sawah dan juga perbukitan yang sangat menyejukkan mata. Awalnya, saya mengira jalan menuju pulau Osi, adalah jalan yang datar. Namun ternyata, jalan menuju pulau Osi adalah jalan yang berkelok-kelok dan tikungannya relatif tajam. Kalau kita tidak berhati-hati dan rajin menekan klakson kendaraan, maka bisa terjadi kecelakaan atau tabrakan, karena di tiap tikungan tidak disediakan kaca untuk melihat kendaraan yang akan menikung. Oh ya, sangat disarankan bagi pengguna mobil, untuk membuka kaca mobil, agar dapat merasakan sejuknya angin yang berhembus.
Selepas dua jam perjalanan dengan pemandangan yang menakjubkan, saya disambut dengan gapura yang bertuliskan “Welcome to Pulau Osi” dengan hamparan jembatan kayu sepanjang dua kilometer. Saya pun memarkirkan mobil dan menggunakan jasa ojek motor, untuk mencapai pulau Osi. Dengan harga lima ribu rupiah dan tukang ojek yang sangat ramah, saya dihantar menuju pulau Osi serta disuguhkan indahnya hutan mangrove dan birunya lautan yang terhampar di depan mata. Sebagai bonusnya, udara yang sejuk dan bebas dari bisingnya kota, menjadi pengiring perjalanan saya menuju pulau Osi.
“Sangat menakjubkan dan indah” itulah kesan pertama ketika sampai di sana. Jika selama ini pulau dan pantai yang indah, hanya bisa ditemukan di wisata luar negeri, ternyata di negara Indonesia, khususnya Indonesia Timur, masih menyimpan keindahan pantainya. Dan salah satunya adalah, pulau Osi. Hijaunya masih sangat terjaga, birunya laut tanpa adanya sampah, sejuknya udara dan saya  masih bisa melihat ikan yang menari-nari di dalam laut.
Karena dekat dengan pantai, maka panasnya matahari sangatlah terasa, sehingga disarankan untuk menggunakan sunblock. Pulau ini memang masih sedikit orang yang tahu, bahkan, orang lokal Ambonpun tidak banyak yang tahu. Dan saya  sebagai pendatang dari Pulau Jawa, sangat senang bisa sampai dan mengunjungi pulau ini. Birunya air laut dan teriknya matahari, sangat menggoda untuk berenang, namun  saya  tidak jadi berenang, justru yang  saya  lakukan adalah mengabadikan keindahan pulau Osi dalam foto.
Di sebelah kiri jalan, saya menemukan sebuah resort yang sekaligus restoran, di mana tempat itu bisa dijadikan untuk beristirahat sembari menikmati keindahan pulau Osi. Salah satu hiburannya adalah, atraksi penduduk lokal yang melakukan snorkeling untuk menangkap ikan. Dan ikan itu, juga dijual untuk para pengunjung. Nikmatnya memandang pulau Osi, tertahan dengan laparnya perut, dan saya memesan ikan bakar sebagai menu makan siang. Setelah makan siang, saya berkeliling pantai Osi dengan menggunakan perahu dan mencoba untuk memancing ikan.
Tak terasa dua jam berlalu, saya mendadak mendapatkan info bahwa salah satu pejabat di kota Ambon akan datang. Dan saya memutuskan, untuk secepatnya pulang. Dengan dibantu oleh penduduk lokal pulau Osi dan pihak kepolisian, saya kembali ke tempat untuk memarkir mobil, untuk kembali ke kota Ambon. Sebelum pulang, saya tak lupa untuk bertanya harga untuk menginap di resort tersebut. Sekedar info, harga untuk menginap di sana adalah tiga ratus lima puluh ribu rupiah per malam. Hmm… cukup terjangkau, kan?
 Saya melakukan perjalanan pulang ke Ambon dengan sukacita, meskipun cukup sedih karena tak bisa membeli souvenir khas pulau Osi. Di sana, saya tak menemukan pedagang yang menjual cinderamata khas pulau Osi. Untuk saran ke depan, penduduk di sana bisa membuat cinderamata yang bisa dijual ke pengunjung pulau Osi.
Pulau Osi, meskipun namanya tidak terlalu indah, namun pulau Osi memiliki pemandangan yang sangat indah dan dapat menjadi obyek wisata yang cukup potensial jika dikembangkan oleh penduduk lokal serta jajaran pemerintah kota Ambon dengan baik. Dan pulau Osi, telah menjadikan liburan Natal saya, sangat berkesan dan indah untuk dikenang dalam perjalanan hidup  saya.

Thank you Osi Island, Thank you God for Your creation.

Berani Bermimpi Bersama Tuhan

Efesus 3:20 “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,”
            Allah menciptakan kita di dunia ini, tidak mungkin tanpa suatu alasan. Disediakan olehNya, segala hal di sekeliling kita, mulai dari tempat kita berpijak, alam, hewan-hewan, bahkan akal budi. Jika tidak memiliki sebuah makna, maka mungkin semuanya itu tidak akan ada untuk kita. Lalu, apa tujuan Allah menciptakan semua itu? Tuhan menciptakan semua itu untuk mendukung pekerjaan Allah di muka bumi ini.
            Dan yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana caranya kita mendukung pekerjaan Allah di muka bumi ini? Salah satu cara yang paling nyata adalah berkaryalah untuk Tuhan lewat segala hal yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita. Mulailah dengan memiliki impian. Bermimpilah dan raihlah semua impian kita, bersama Tuhan.
Apa pandangan orang tentang impian?
Kita semua pasti pernah bermimpi di kala tertridur, bukan? Entah mimpi yang baik atau yang buruk. Atau mungkin mimpi yang aneh-aneh. Tetapi kalau di tanya tentang impian? Apakah semua orang memiliki impian? Mungkin, tidak banyak orang yang memiliki impian. Ada beberapa orang yang menganggap bahwa, hidup itu dijalani saja, ikuti arus saja, yang penting bisa mendapatkan pekerjaan, mendapatkan gaji, hidup bahagia, bisa beli ini itu dan disenangi oleh orang banyak.

Namun, ketika manusia dipercayakan oleh Tuhan untuk hidup di muka bumi ini, hingga tenggat waktu tertentu, rasanya akan sia-sia sekali jika kita tidak memiliki suatu tujuan hidup. Akan sangat sayang sekali, ketika Tuhan sudah menciptakan kita dengan akal budi, dan tidak kita manfaatkan untuk membuat hidup kita semakin “seru” dan “berwarna” dengan satu impian.
Ketika di sekolah, mulai dari TK hingga kuliah kita selalu dipertanyakan “impianmu apa sih?” pasti akan ada yang menjawab “aku mau jadi dokter, bu guru,” ada yang menjawab “aku mau jadi penyanyi,” ada juga yang menjawab “aku mau jadi presiden,”
Dan jika kita sadari dan tarik kembali, para orang tua kita berusaha untuk membiayai kita bersekolah hingga tingkat tertentu, pasti memiliki harapan, anaknya akan sukses dan berhasil di bidangnya masing-masing. Menyentuh hati sekali, bukan? Jadi, ketika orang lain memiliki impian untuk kita, mengapa kita tidak?
Sebuah Kisah
            Ada satu mahasiswa baru, yang memasuki dunia kampus, dengan wajah yang cemberut dan tatapan kosong. Dira yang merupakan kakak kelas di kampus tersebut, menghampiri anak itu untuk berbicara sejenak. Dia bertanya kepada mahasiswa baru tersebut, mengapa wajahnya begitu cemberut. Mahasiswa baru tersebut yang bernama Ricky, berkata bahwa dia merasa malas untuk kuliah karena merasa kuliah itu tidak ada gunanya untuk hidupnya, karena untuk apa kuliah jika dia sudah pasti akan diwariskan perusahaan oleh orangtuanya. Diapun kuliah, hanya untuk sekedar menambah gelar dan ikut-ikutan teman. Dia tidak ingin terkena malu, karena tidak punya gelar sarjana. Jadi, ketika dia sudah merasa malas, hal yang akan dilakukan adalah membolos kuliah dan pergi. Dia akan belajar, hanya ketika akan ujian.
 Hasil yang didapat adalah, nilainya tidak maksimal. Lulus kuliah hanya sekedar lulus, dan apa yang sudah diajarkan menguap begitu saja layaknya angin. Puluhan juta dana pendidikan yang dikeluarkan, sia-sia begitu saja.
            Buatlah hidup kita makin berwarna dengan impian
            Entah kita sadari atau tidak sadari, hidup itu tidak seru kalau tidak ada tantangan, dan hidup juga akan terasa biasa saja kalau tidak punya impian. Kalau di jalan ada papan penunjuk arah, sama halnya dengan impian, impian itu bagaikan papan penunjuk arah, yang menuntun kita dalam berjalan. Mungkin ada sebagian yang berkata, meski tidak memiliki impian, kita masih bisa hidup dan bernafas. Pendapat tersebut, ada benarnya jika direnungkan. Dan, hidup kita terlalu singkat dan hidup kita terlalu berharga, jika tidak diisi dengan hal-hal yang berarti, dan dijalani dengan biasa-biasa saja tanpa impian. Tuhan telah memberikan kita kemampuan, kekreatifan dan beragam ladang pelayanan untuk dikerjakan. Hal inilah yang harus kita manfaatkan. Bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Berawal dari impian kita. Impian kita yang akan menuntun kita kemana kita akan melangkah untuk mewujudkan dan mengembangkan talenta kita.
Impian kita tidak perlu “besar” ataupun “wah.” Meski impian kita sederhana, tidak se’wah’ orang lain, tapi impian kita bisa memberkati orang lain, itu akan jauh lebih berarti. Tidak ada mimpi yang sederhana tidak ada mimpi yang mewah, namun  yang ada adalah, impian kita apakah bisa menjadi berkat bagi orang lain? Apakah bisa menjadi dampak yang positif bagi orang lain? itulah yang harus direnungkan. Jika kita tarik kembali mengenai natur manusia, manusia adalah mahkluk sosial yang hidup dengan orang lain. Akan sangat egois jika, impian kita tidak bisa menjadi berkat untuk orang lain. Karena kembali lagi, kita sudah diberkati maka kita harus bisa menjadi berkat untuk orang lain. Salah satunya lewat impian kita.
Raihlah impian kita bersama Tuhan
            Jadi, kalau ada yang bilang tidak perlu memiliki impian yang tinggi, dan untuk apa kita bermimpi. Justru kita harus bersyukur kita punya impian, terlebih lagi jika impian kita berdampak positif untuk orang lain, karena kita menghargai kehidupan dan waktu hidup kita di dunia. Dan impian kita juga bisa sebagai, salah satu bentuk ucapan syukur kita kepada sang Empunya hidup, karena tidak mungkin kita ada di dunia ini tanpa ada tujuan. Dan tujuan hidup kita adalah impian kita.

                  Bermimpilah setinggi-tingginya dan tentu saja dengan hikmat Tuhan, raihlah itu dengan pertolongan dari Tuhan kita. Tidak perlu untuk takut bermimpi ataupun tidak bisa mewujudkan impian kita, karena kita memiliki Allah yang mampu melakukan segala hal melebihi apa yang kita inginkan dan impikan. Karena DIA adalah Allah yang berkuasa dan selalu memberikan yang terbaik untuk hidup kita. 

Selasa, 24 Februari 2015

Refleksi sederhana dari perjalanan meraih mimpi

      Sudah setengah tahun, aku meninggalkan dunia pendidikan dan mencari kemana aku akan berkarier dan berkarya. Setengah tahun, aku isi dengan melanjutkan passionku yaitu menulis dan merencanakan segala hal, tentu di dalamnya aku isi dengan kuliah dan berkarier sebagai penulis. Dengan pertimbangan, aku ingin lebih produktif untuk berkarya dan meraih mimpiku, yang mungkin bagi orang itu terlalu besar, apalagi aku belum memulai dan memiliki apa-apa yang bisa aku jadikan modal.
            But… everything has changed!!! Dua bulan aku kabur dari Surabaya dan kembali lagi karena ingin mengikuti job fair dengan perencanaan, aku akan tetap bersembunyi dari banyak orang (karena suatu hal), justru disinilah my dream will be begin to be come true, guys…..
Aku orang yang suka membuat sebuah cerita, namun salah satu alasan kenapa aku belum menemukan jalan untuk mimpiku sendiri adalah, aku menyimpan mimpiku ini hanya di dalam hati. Aku tidak pernah menceritakan mimpiku ini, kepada siapapun, yang ku ceritakan hanyalah pekerjaan yang berdasarkan akademisiku sendiri, aku terlalu takut untuk menceritakan impianku yang sebenarnya apa. Dan, pasca acara itu, hanya karena sekedar menanyakan kabar lamarannya di kompas, semuanya berkembang menjadi satu perjalanan meraih mimpi yang menyenangkan dan mengesankan.
Perbincangan kami hanya berawal dari lamaran pekerjaan, berkembang menjadi satu ajakan untuk membuat film, dan terhormat sekali dipercayakan menjadi penulis scenario yang sama sekali belum pernah aku lakukan sebelumnya. Dan itu semua, hanya bermodal percaya dan motivasi untuk mengerjakan semua ini. Awalnya terasa aneh, kami bekerjasama dalam satu tim, yang dimana kami belum kenal terlalu dalam, tapi kupikir inilah kehidupan, kita tidak akan pernah tahu, kejutan seperti apa yang akan didapatkan, di tiap bab kisahnya.
Dan hal yang ingin aku sharekan adalah, lewat project itu aku belajar banyak hal tentang di balik layar sebuah film. Bagaimana mengkonsep cerita, menuliskannya di dalam naskah, membeda karakter pemain dalam naskah dan mencari orang yang bisa memerankannya. Dalam hari H syuting, aku belajar bagaimana mengarahkan pemain agar bisa menyampaikan dialognya dengan baik, mempersiapkan lokasi, menjaga mood pemain.
Hal yang tak terlupakan adalah, menyusun dialog naskah hingga pagi, kebingungan mencari lokasi, khawatirnya kami karena lokasi yang mendadak tidak jadi, mencari pemain yang sesuai, hingga akhirnya kami merubah dialog agar sesuai dengan pemainnya. Proses editing film yang cukup menghasilkan perasaan yang campur aduk dan aku hanya bisa bersyukur bisa ikut hingga akhir produksi film ini, bahkan aku tidak menyesal untuk memilih keluar dari tempat kerjaku yang dahulu.
Namun, dari semua itu…. Setelah produksi film ini, aku semakin yakin jiwaku dimana, apa passionku dan mimpi terbesarku lewat passionku ini. Dan, aku bersyukur bisa memulai untuk mewujudkannya lewat film ini. Pasca film itu, aku semakin semangat untuk menulis, mencari pekerjaan yang sesuai dengan passionku, meskipun belum menemukan dimana aku akan memulai untuk berkarier dan berkarya. Tapi, aku selalu percaya ketika aku memiliki passion dan mimpi yang tidak merugikan orang lain, suatu saat pasti akan ditunjukkan dimana aku akan berkarier dan berkarya.
Aku selalu berharap, bisa berkarier sebagai penulis dan menginspirasi banyak orang lewat hasil tulisanku, entah apapun bentuk hasil tulisannya. Meskipun jalannya akan terseok-seok, namun sejauh ini aku cukup menikmati bidang yang membutuhkan referensi dan perbendaharaan kata-kata yang tidak sedikit. Hidup kita hanya sekali dan tidak akan terulang, apakah kita mau membawa sebuah sesal di akhir hidup kita, karena kita belum atau tidak mewujudkan impian kita. Mungkin tidak hanya sebuah sesal, namun sebuah tanya, apakah sebenarnya kita bisa mewujudkan impian kita.
Walaupun pada akhirnya, menulisku hanya sebuah freelance, tapi aku akan terus setia di bidang ini, setia untuk berkarya dan berkarier, hingga orang bisa terinspirasi dari tulisanku ini, walaupun itu hanya sedikit saja.
Ada sebuah kalimat yang mengatakan, tidak ada mimpi yang tidak terwujud, yang ada hanyalah kita tidak mau mengerjakan mimpi itu, untuk menjadi nyata.
So, will you?


Passion vs Realita

            Dalam perjalanan hidup manusia, tidak akan terlepas dari yang namanya sebuah pilihan. Bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun, seperti baju yang akan kita kenakan dalam keseharian kita, akan diperhadapkan dengan sebuah proses memilih. Mungkin, hanya proses kelahiran dan kematian, yang tidak melibatkan proses untuk memilih, karena itu sudah teratur dan pasti akan terjadi, sesuai dengan kehendak sang empunya hidup.
            Proses dan cara kita untuk menentukan sebuah pilihan, dengan alami akan terbentuk dan terasah oleh waktu. Tiap kisah yang tertulis dalam lembar hidup manusia, akan selalu diwarnai dengan adegan merencanakan dan memilih, dan adegan itulah yang akan membentuk karakter para manusia, baik itu kedewasaan, kebijaksanaan dan juga kedalaman kita untuk berpikir dan bersikap untuk dua hal itu.
            Begitu juga denganku, banyaklah rancangan dan rencana dalam hidupku yang ingin aku jalani. Baik itu rencana jangka singkat hingga rencana jangka panjang, namun karakteristik dari rencana adalah tidak kekal dan tidaklah mutlak, maka fleksibilitas bahkan rentannya menuju kata gagal, haruslah aku tetap hadapi. Mau tidak mau, aku harus memilih rencana apa yang harus aku pertahankan dan mana yang harus aku lupakan, bahkan rencana untuk impianku sendiri dan juga untuk segala pandangan kesuksesanku.
            Awalnya aku tetap berpegang kepada idealisme dan keyakinanku sendiri, bahwa aku harus berjalan sesuai rencana yang sudah aku perhitungkan dan aku susun. Namun, hal itu semakin lama, semakin terkikis dan pandanganku semakin tergoyahkan dengan realita yang aku alami sekarang. Tidak terima, pasti. Kecewa, iya. Bingung dan merasa putus asa, terkadang menghantuiku. Realita atau idealismeku akan sebuah mimpi dan passion, mana yang harus aku pilih?
            Berkaca dari hati kecil, aku ingin terus mengikuti idealismeku. Namun, realita dan banyak hal yang aku terima dari sekitar, cukup mempengaruhiku untuk hidup berkaca dari realita. Awalnya mungkin biasa dan everything will be fine, tapi…fine never mean with good and happy from your inside to outside. The right thing is everything will be great and enjoyable. Aku tahu secara teori, hidup seusiaku masihlah panjang, namun aku selalu percaya dengan satu kalimat, hiduplah seakan besok tidak ada. So, use your time with wisely and fill it with your right thing.
            Aku selalu percaya, hidup kita telah dirancang dengan impian, harapan, talenta, passion, dan juga dengan kelengkapan untuk meraih semuanya itu. Aku juga yakin, hidup kita dirancang hanya sekali, dengan tujuan kita semua diharapkan untuk bisa mengisi hidup tanpa ada penyesalan dan sebuah tanda tanya diakhir hidup manusia, tenntang bagaimana kualitas hidup kita sebelum terbaring kaku.
            So, bagaimana kita menjalani hidup tanpa sesal. Carilah, bermimpilah, wujudkanlah dan bersyukurlah. Hidup dalam sebuah realita, tanpa kita sadari, tiap hari manusia selalu hidup dengan dikelilingi oleh realita kehidupan. Dan aku percaya, titik itulah yang membuat adanya passion, bagaimana talenta kita bisa menjawab kebutuhan manusia. Ketika talenta kita bisa menjawab itu, maka itulah sukses, dan itu dimulai dari diri kita sendiri.
            Mungkin, ketika kita memilih hidup untuk mengerjakan passion kita, banyak orang yang akan mengatakan kita aneh, gila dan mungkin justru buang-buang waktu karena tidak menghasilkan banyak uang. Jalani dan lakukan terus, karena aku percaya passion tidak akan pernah salah dan akan selalu menang, sebab kita telah memilih jalan yang benar.
            Berhenti sejenak dan untuk beristirahat, mungkin tidak masalah, tapi jangan lupakan passion kita. Teruslah berjuang, meski sulit dan bahkan kabur ataupun gelap. Ketika itu gagal, bersyukurlah karena perjalanan menuju passion, sesungguhnya baru saja dimulai.
            Tidak ada kemenangan tanpa kegagalan. Berbahagialah sempat gagal, kegagalan akan menghasilkan pemenang yang berkarakter, karena menghargai sebuah proses, yang membuat dia menjadi pribadi yang kuat dan berkualitas bahkan menginspirasi banyak orang.
            Percayalah, passion kita jauh lebih berharga dibandingkan materi yang lainnya. Karena passionlah, yang membuat kita ada dan lahir di dunia ini.

            So, which one that you will choose