Kamis, 26 Februari 2015

Berani Bermimpi Bersama Tuhan

Efesus 3:20 “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,”
            Allah menciptakan kita di dunia ini, tidak mungkin tanpa suatu alasan. Disediakan olehNya, segala hal di sekeliling kita, mulai dari tempat kita berpijak, alam, hewan-hewan, bahkan akal budi. Jika tidak memiliki sebuah makna, maka mungkin semuanya itu tidak akan ada untuk kita. Lalu, apa tujuan Allah menciptakan semua itu? Tuhan menciptakan semua itu untuk mendukung pekerjaan Allah di muka bumi ini.
            Dan yang menjadi pertanyaannya adalah, bagaimana caranya kita mendukung pekerjaan Allah di muka bumi ini? Salah satu cara yang paling nyata adalah berkaryalah untuk Tuhan lewat segala hal yang sudah dipercayakan Tuhan kepada kita. Mulailah dengan memiliki impian. Bermimpilah dan raihlah semua impian kita, bersama Tuhan.
Apa pandangan orang tentang impian?
Kita semua pasti pernah bermimpi di kala tertridur, bukan? Entah mimpi yang baik atau yang buruk. Atau mungkin mimpi yang aneh-aneh. Tetapi kalau di tanya tentang impian? Apakah semua orang memiliki impian? Mungkin, tidak banyak orang yang memiliki impian. Ada beberapa orang yang menganggap bahwa, hidup itu dijalani saja, ikuti arus saja, yang penting bisa mendapatkan pekerjaan, mendapatkan gaji, hidup bahagia, bisa beli ini itu dan disenangi oleh orang banyak.

Namun, ketika manusia dipercayakan oleh Tuhan untuk hidup di muka bumi ini, hingga tenggat waktu tertentu, rasanya akan sia-sia sekali jika kita tidak memiliki suatu tujuan hidup. Akan sangat sayang sekali, ketika Tuhan sudah menciptakan kita dengan akal budi, dan tidak kita manfaatkan untuk membuat hidup kita semakin “seru” dan “berwarna” dengan satu impian.
Ketika di sekolah, mulai dari TK hingga kuliah kita selalu dipertanyakan “impianmu apa sih?” pasti akan ada yang menjawab “aku mau jadi dokter, bu guru,” ada yang menjawab “aku mau jadi penyanyi,” ada juga yang menjawab “aku mau jadi presiden,”
Dan jika kita sadari dan tarik kembali, para orang tua kita berusaha untuk membiayai kita bersekolah hingga tingkat tertentu, pasti memiliki harapan, anaknya akan sukses dan berhasil di bidangnya masing-masing. Menyentuh hati sekali, bukan? Jadi, ketika orang lain memiliki impian untuk kita, mengapa kita tidak?
Sebuah Kisah
            Ada satu mahasiswa baru, yang memasuki dunia kampus, dengan wajah yang cemberut dan tatapan kosong. Dira yang merupakan kakak kelas di kampus tersebut, menghampiri anak itu untuk berbicara sejenak. Dia bertanya kepada mahasiswa baru tersebut, mengapa wajahnya begitu cemberut. Mahasiswa baru tersebut yang bernama Ricky, berkata bahwa dia merasa malas untuk kuliah karena merasa kuliah itu tidak ada gunanya untuk hidupnya, karena untuk apa kuliah jika dia sudah pasti akan diwariskan perusahaan oleh orangtuanya. Diapun kuliah, hanya untuk sekedar menambah gelar dan ikut-ikutan teman. Dia tidak ingin terkena malu, karena tidak punya gelar sarjana. Jadi, ketika dia sudah merasa malas, hal yang akan dilakukan adalah membolos kuliah dan pergi. Dia akan belajar, hanya ketika akan ujian.
 Hasil yang didapat adalah, nilainya tidak maksimal. Lulus kuliah hanya sekedar lulus, dan apa yang sudah diajarkan menguap begitu saja layaknya angin. Puluhan juta dana pendidikan yang dikeluarkan, sia-sia begitu saja.
            Buatlah hidup kita makin berwarna dengan impian
            Entah kita sadari atau tidak sadari, hidup itu tidak seru kalau tidak ada tantangan, dan hidup juga akan terasa biasa saja kalau tidak punya impian. Kalau di jalan ada papan penunjuk arah, sama halnya dengan impian, impian itu bagaikan papan penunjuk arah, yang menuntun kita dalam berjalan. Mungkin ada sebagian yang berkata, meski tidak memiliki impian, kita masih bisa hidup dan bernafas. Pendapat tersebut, ada benarnya jika direnungkan. Dan, hidup kita terlalu singkat dan hidup kita terlalu berharga, jika tidak diisi dengan hal-hal yang berarti, dan dijalani dengan biasa-biasa saja tanpa impian. Tuhan telah memberikan kita kemampuan, kekreatifan dan beragam ladang pelayanan untuk dikerjakan. Hal inilah yang harus kita manfaatkan. Bagaimana kita bisa memanfaatkannya? Berawal dari impian kita. Impian kita yang akan menuntun kita kemana kita akan melangkah untuk mewujudkan dan mengembangkan talenta kita.
Impian kita tidak perlu “besar” ataupun “wah.” Meski impian kita sederhana, tidak se’wah’ orang lain, tapi impian kita bisa memberkati orang lain, itu akan jauh lebih berarti. Tidak ada mimpi yang sederhana tidak ada mimpi yang mewah, namun  yang ada adalah, impian kita apakah bisa menjadi berkat bagi orang lain? Apakah bisa menjadi dampak yang positif bagi orang lain? itulah yang harus direnungkan. Jika kita tarik kembali mengenai natur manusia, manusia adalah mahkluk sosial yang hidup dengan orang lain. Akan sangat egois jika, impian kita tidak bisa menjadi berkat untuk orang lain. Karena kembali lagi, kita sudah diberkati maka kita harus bisa menjadi berkat untuk orang lain. Salah satunya lewat impian kita.
Raihlah impian kita bersama Tuhan
            Jadi, kalau ada yang bilang tidak perlu memiliki impian yang tinggi, dan untuk apa kita bermimpi. Justru kita harus bersyukur kita punya impian, terlebih lagi jika impian kita berdampak positif untuk orang lain, karena kita menghargai kehidupan dan waktu hidup kita di dunia. Dan impian kita juga bisa sebagai, salah satu bentuk ucapan syukur kita kepada sang Empunya hidup, karena tidak mungkin kita ada di dunia ini tanpa ada tujuan. Dan tujuan hidup kita adalah impian kita.

                  Bermimpilah setinggi-tingginya dan tentu saja dengan hikmat Tuhan, raihlah itu dengan pertolongan dari Tuhan kita. Tidak perlu untuk takut bermimpi ataupun tidak bisa mewujudkan impian kita, karena kita memiliki Allah yang mampu melakukan segala hal melebihi apa yang kita inginkan dan impikan. Karena DIA adalah Allah yang berkuasa dan selalu memberikan yang terbaik untuk hidup kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar