Kamis, 26 Februari 2015

Keindahan Pulau Osi yang Tersembunyi

Berawal dari sebuah keisengan untuk merayakan moment Natal dengan suasana yang berbeda, maka tercetuslah sebuah ide untuk mengunjungi sebuah kepulauan yang letaknya cukup jauh dari kota Ambon. Ide tersebut tercetus jam tiga sore waktu Indonesia Timur dan saya beserta keluarga, memutuskan untuk mengunjungi pulau Osi, yang terletak di pulau Seram.
Dengan modal nekad, jam empat sore waktu setempat, saya  pergi ke pelabuhan Hunimua yang terletak di sebelah pantai Liang. Dari kota Ambon, untuk menuju ke pelabuhan tersebut, memakan waktu empat puluh lima menit. Untuk menuju pelabuhan Hunimua, kita bisa menggunakan angkutan umum, motor dan mobil. Saya sekeluarga, memutuskan menggunakan mobil pribadi, karena saya ingin mengelilingi pulau Seram dan melihat tempat-tempat menarik, yang bisa dijadikan untuk obyek foto. Karena menggunakan mobil pribadi, saya membayar dua ratus ribu untuk satu kali jalan.
Dua jam tigapuluh menit, waktu yang harus ditempuh untuk menuju pelabuhan Waipirit, Seram. Karena baru berangkat dari pantai Liang sekitar setengah delapan malam, maka saya tiba di pulau Seram, sekitar sepuluh malam waktu setempat. Oh ya, di atas feri kita bisa mendapatkan fasilitas ruang VIP. Di dalam ruangan tersebut, dilengkapi dengan sofa, TV, ruang tanpa asap rokok, kamar mandi dan AC. Namun, untuk menikmati fasilitas tersebut, kita harus menambah lima ribu rupiah per orang dan pembayarannya dilakukan di atas feri.
Karena sudah larut malam, maka saya memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di pulau Seram. Meskipun fasilitasnya cukup standart, namun itu sudah cukup lumayan untuk mengistirahatkan kaki dan badan, yang sudah cukup lelah, karena melakukan perjalanan jarak jauh. Oh ya, keunikan dari pulau Seram di malam hari adalah, toko-toko beroperasi hingga larut malam. Contohnya seperti, toko bangunan, mini market, warung makan dan ini sangat membantu ketika saya ingin mencari “T” dan makan malam. Hal ini sangat berbeda seperti di Ambon atau kota Surabaya, di mana toko-toko banyak tutup setelah jam sepuluh malam, kecuali mini market atau warung makan yang memang beroperasi selama dua puluh empat jam.
Untuk sekedar info, pulau Seram merupakan daerah transmigran yang didominasi oleh orang Jawa. Hal ini sangat terasa, ketika keesokan paginya saya pergi ke pasar untuk mencari makan pagi. Ketika masuk ke pasar, saya mendengar para penjual makanan, menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan rekan penjual yang lainnya.
Hal ini sangat menguntungkan untuk saya, yang merupakan pendatang dari Jawa. Saya memutuskan menggunakan bahasa Jawa untuk membeli makanan. Dan beruntungnya, saya bisa mendapatkan tiga porsi nasi pecel, tiga porsi nasi kuning dan teh manis hangat dengan gratis. Kalau membayar,  per porsinya dihargai dengan tujuh ribu rupiah. Sangat murah kan?
Selepas makan, saya melanjutkan perjalanan untuk menuju pulau Osi. Perjalanan menuju pulau Osi ini, didukung dengan cerahnya cuaca, matahari yang bersinar tidak terlalu terik. Sepanjang perjalanan menuju pulau Osi, terhampar hijaunya sawah-sawah dan juga perbukitan yang sangat menyejukkan mata. Awalnya, saya mengira jalan menuju pulau Osi, adalah jalan yang datar. Namun ternyata, jalan menuju pulau Osi adalah jalan yang berkelok-kelok dan tikungannya relatif tajam. Kalau kita tidak berhati-hati dan rajin menekan klakson kendaraan, maka bisa terjadi kecelakaan atau tabrakan, karena di tiap tikungan tidak disediakan kaca untuk melihat kendaraan yang akan menikung. Oh ya, sangat disarankan bagi pengguna mobil, untuk membuka kaca mobil, agar dapat merasakan sejuknya angin yang berhembus.
Selepas dua jam perjalanan dengan pemandangan yang menakjubkan, saya disambut dengan gapura yang bertuliskan “Welcome to Pulau Osi” dengan hamparan jembatan kayu sepanjang dua kilometer. Saya pun memarkirkan mobil dan menggunakan jasa ojek motor, untuk mencapai pulau Osi. Dengan harga lima ribu rupiah dan tukang ojek yang sangat ramah, saya dihantar menuju pulau Osi serta disuguhkan indahnya hutan mangrove dan birunya lautan yang terhampar di depan mata. Sebagai bonusnya, udara yang sejuk dan bebas dari bisingnya kota, menjadi pengiring perjalanan saya menuju pulau Osi.
“Sangat menakjubkan dan indah” itulah kesan pertama ketika sampai di sana. Jika selama ini pulau dan pantai yang indah, hanya bisa ditemukan di wisata luar negeri, ternyata di negara Indonesia, khususnya Indonesia Timur, masih menyimpan keindahan pantainya. Dan salah satunya adalah, pulau Osi. Hijaunya masih sangat terjaga, birunya laut tanpa adanya sampah, sejuknya udara dan saya  masih bisa melihat ikan yang menari-nari di dalam laut.
Karena dekat dengan pantai, maka panasnya matahari sangatlah terasa, sehingga disarankan untuk menggunakan sunblock. Pulau ini memang masih sedikit orang yang tahu, bahkan, orang lokal Ambonpun tidak banyak yang tahu. Dan saya  sebagai pendatang dari Pulau Jawa, sangat senang bisa sampai dan mengunjungi pulau ini. Birunya air laut dan teriknya matahari, sangat menggoda untuk berenang, namun  saya  tidak jadi berenang, justru yang  saya  lakukan adalah mengabadikan keindahan pulau Osi dalam foto.
Di sebelah kiri jalan, saya menemukan sebuah resort yang sekaligus restoran, di mana tempat itu bisa dijadikan untuk beristirahat sembari menikmati keindahan pulau Osi. Salah satu hiburannya adalah, atraksi penduduk lokal yang melakukan snorkeling untuk menangkap ikan. Dan ikan itu, juga dijual untuk para pengunjung. Nikmatnya memandang pulau Osi, tertahan dengan laparnya perut, dan saya memesan ikan bakar sebagai menu makan siang. Setelah makan siang, saya berkeliling pantai Osi dengan menggunakan perahu dan mencoba untuk memancing ikan.
Tak terasa dua jam berlalu, saya mendadak mendapatkan info bahwa salah satu pejabat di kota Ambon akan datang. Dan saya memutuskan, untuk secepatnya pulang. Dengan dibantu oleh penduduk lokal pulau Osi dan pihak kepolisian, saya kembali ke tempat untuk memarkir mobil, untuk kembali ke kota Ambon. Sebelum pulang, saya tak lupa untuk bertanya harga untuk menginap di resort tersebut. Sekedar info, harga untuk menginap di sana adalah tiga ratus lima puluh ribu rupiah per malam. Hmm… cukup terjangkau, kan?
 Saya melakukan perjalanan pulang ke Ambon dengan sukacita, meskipun cukup sedih karena tak bisa membeli souvenir khas pulau Osi. Di sana, saya tak menemukan pedagang yang menjual cinderamata khas pulau Osi. Untuk saran ke depan, penduduk di sana bisa membuat cinderamata yang bisa dijual ke pengunjung pulau Osi.
Pulau Osi, meskipun namanya tidak terlalu indah, namun pulau Osi memiliki pemandangan yang sangat indah dan dapat menjadi obyek wisata yang cukup potensial jika dikembangkan oleh penduduk lokal serta jajaran pemerintah kota Ambon dengan baik. Dan pulau Osi, telah menjadikan liburan Natal saya, sangat berkesan dan indah untuk dikenang dalam perjalanan hidup  saya.

Thank you Osi Island, Thank you God for Your creation.

1 komentar:

  1. Hello Everybody,
    My name is Mrs Sharon Sim. I live in Singapore and i am a happy woman today? and i told my self that any lender that rescue my family from our poor situation, i will refer any person that is looking for loan to him, he gave me happiness to me and my family, i was in need of a loan of S$250,000.00 to start my life all over as i am a single mother with 3 kids I met this honest and GOD fearing man loan lender that help me with a loan of S$250,000.00 SG. Dollar, he is a GOD fearing man, if you are in need of loan and you will pay back the loan please contact him tell him that is Mrs Sharon, that refer you to him. contact Dr Purva Pius,via email:(urgentloan22@gmail.com) Thank you.

    BORROWERS APPLICATION DETAILS


    1. Name Of Applicant in Full:……..
    2. Telephone Numbers:……….
    3. Address and Location:…….
    4. Amount in request………..
    5. Repayment Period:………..
    6. Purpose Of Loan………….
    7. country…………………
    8. phone…………………..
    9. occupation………………
    10.age/sex…………………
    11.Monthly Income…………..
    12.Email……………..

    Regards.
    Managements
    Email Kindly Contact: urgentloan22@gmail.com

    BalasHapus