Berawal dari sebuah keisengan
untuk merayakan moment Natal dengan
suasana yang berbeda, maka tercetuslah sebuah ide untuk mengunjungi sebuah
kepulauan yang letaknya cukup jauh dari kota Ambon. Ide tersebut tercetus jam
tiga sore waktu Indonesia Timur dan saya beserta keluarga, memutuskan untuk
mengunjungi pulau Osi, yang terletak di pulau Seram.
Dengan modal nekad, jam
empat sore waktu setempat, saya pergi ke
pelabuhan Hunimua yang terletak di sebelah pantai Liang. Dari kota Ambon, untuk
menuju ke pelabuhan tersebut, memakan waktu empat puluh lima menit. Untuk
menuju pelabuhan Hunimua, kita bisa menggunakan angkutan umum, motor dan mobil.
Saya sekeluarga, memutuskan menggunakan mobil pribadi, karena saya ingin
mengelilingi pulau Seram dan melihat tempat-tempat menarik, yang bisa dijadikan
untuk obyek foto. Karena menggunakan mobil pribadi, saya membayar dua ratus
ribu untuk satu kali jalan.
Dua jam tigapuluh
menit, waktu yang harus ditempuh untuk menuju pelabuhan Waipirit, Seram. Karena
baru berangkat dari pantai Liang sekitar setengah delapan malam, maka saya tiba
di pulau Seram, sekitar sepuluh malam waktu setempat. Oh ya, di atas feri kita
bisa mendapatkan fasilitas ruang VIP. Di dalam ruangan tersebut, dilengkapi
dengan sofa, TV, ruang tanpa asap rokok, kamar mandi dan AC. Namun, untuk
menikmati fasilitas tersebut, kita harus menambah lima ribu rupiah per orang
dan pembayarannya dilakukan di atas feri.
Karena sudah larut
malam, maka saya memutuskan untuk menginap di salah satu penginapan yang ada di
pulau Seram. Meskipun fasilitasnya cukup standart, namun itu sudah cukup
lumayan untuk mengistirahatkan kaki dan badan, yang sudah cukup lelah, karena
melakukan perjalanan jarak jauh. Oh ya, keunikan dari pulau Seram di malam hari
adalah, toko-toko beroperasi hingga larut malam. Contohnya seperti, toko
bangunan, mini market, warung makan dan ini sangat membantu ketika saya ingin
mencari “T” dan makan malam. Hal ini sangat berbeda seperti di Ambon atau kota
Surabaya, di mana toko-toko banyak tutup setelah jam sepuluh malam, kecuali
mini market atau warung makan yang memang beroperasi selama dua puluh empat
jam.
Untuk sekedar info, pulau
Seram merupakan daerah transmigran yang didominasi oleh orang Jawa. Hal ini
sangat terasa, ketika keesokan paginya saya pergi ke pasar untuk mencari makan
pagi. Ketika masuk ke pasar, saya mendengar para penjual makanan, menggunakan
bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan rekan penjual yang lainnya.
Hal ini sangat menguntungkan untuk saya,
yang merupakan pendatang dari Jawa. Saya memutuskan menggunakan bahasa Jawa
untuk membeli makanan. Dan beruntungnya, saya bisa mendapatkan tiga porsi nasi
pecel, tiga porsi nasi kuning dan teh manis hangat dengan gratis. Kalau membayar, per porsinya dihargai dengan tujuh ribu rupiah.
Sangat murah kan?
Selepas makan, saya melanjutkan
perjalanan untuk menuju pulau Osi. Perjalanan menuju pulau Osi ini, didukung
dengan cerahnya cuaca, matahari yang bersinar tidak terlalu terik. Sepanjang
perjalanan menuju pulau Osi, terhampar hijaunya sawah-sawah dan juga perbukitan
yang sangat menyejukkan mata. Awalnya, saya mengira jalan menuju pulau Osi,
adalah jalan yang datar. Namun ternyata, jalan menuju pulau Osi adalah jalan
yang berkelok-kelok dan tikungannya relatif tajam. Kalau kita tidak
berhati-hati dan rajin menekan klakson kendaraan, maka bisa terjadi kecelakaan
atau tabrakan, karena di tiap tikungan tidak disediakan kaca untuk melihat
kendaraan yang akan menikung. Oh ya, sangat disarankan bagi pengguna mobil, untuk
membuka kaca mobil, agar dapat merasakan sejuknya angin yang berhembus.
Selepas dua jam
perjalanan dengan pemandangan yang menakjubkan, saya disambut dengan gapura
yang bertuliskan “Welcome to Pulau Osi”
dengan hamparan jembatan kayu sepanjang dua kilometer. Saya pun memarkirkan
mobil dan menggunakan jasa ojek motor, untuk mencapai pulau Osi. Dengan harga
lima ribu rupiah dan tukang ojek yang sangat ramah, saya dihantar menuju pulau
Osi serta disuguhkan indahnya hutan mangrove
dan birunya lautan yang terhampar di depan mata. Sebagai bonusnya, udara yang
sejuk dan bebas dari bisingnya kota, menjadi pengiring perjalanan saya menuju pulau
Osi.
“Sangat menakjubkan dan
indah” itulah kesan pertama ketika sampai di sana. Jika selama ini pulau dan
pantai yang indah, hanya bisa ditemukan di wisata luar negeri, ternyata di
negara Indonesia, khususnya Indonesia Timur, masih menyimpan keindahan
pantainya. Dan salah satunya adalah, pulau Osi. Hijaunya masih sangat terjaga,
birunya laut tanpa adanya sampah, sejuknya udara dan saya masih bisa melihat ikan yang menari-nari di
dalam laut.
Karena dekat dengan pantai,
maka panasnya matahari sangatlah terasa, sehingga disarankan untuk menggunakan sunblock. Pulau ini memang masih sedikit
orang yang tahu, bahkan, orang lokal Ambonpun tidak banyak yang tahu. Dan saya sebagai pendatang dari Pulau Jawa, sangat
senang bisa sampai dan mengunjungi pulau ini. Birunya air laut dan teriknya
matahari, sangat menggoda untuk berenang, namun saya tidak jadi berenang, justru yang saya lakukan adalah mengabadikan keindahan pulau
Osi dalam foto.
Di sebelah kiri jalan, saya
menemukan sebuah resort yang
sekaligus restoran, di mana tempat itu bisa dijadikan untuk beristirahat
sembari menikmati keindahan pulau Osi. Salah satu hiburannya adalah, atraksi penduduk
lokal yang melakukan snorkeling untuk
menangkap ikan. Dan ikan itu, juga dijual untuk para pengunjung. Nikmatnya
memandang pulau Osi, tertahan dengan laparnya perut, dan saya memesan ikan
bakar sebagai menu makan siang. Setelah makan siang, saya berkeliling pantai
Osi dengan menggunakan perahu dan mencoba untuk memancing ikan.
Tak terasa dua jam
berlalu, saya mendadak mendapatkan info bahwa salah satu pejabat di kota Ambon
akan datang. Dan saya memutuskan, untuk secepatnya pulang. Dengan dibantu oleh
penduduk lokal pulau Osi dan pihak kepolisian, saya kembali ke tempat untuk
memarkir mobil, untuk kembali ke kota Ambon. Sebelum pulang, saya tak lupa
untuk bertanya harga untuk menginap di
resort tersebut. Sekedar info, harga untuk menginap di sana adalah tiga
ratus lima puluh ribu rupiah per malam. Hmm… cukup terjangkau, kan?
Saya melakukan perjalanan pulang ke Ambon
dengan sukacita, meskipun cukup sedih karena tak bisa membeli souvenir khas pulau Osi. Di sana, saya tak
menemukan pedagang yang menjual cinderamata khas pulau Osi. Untuk saran ke
depan, penduduk di sana bisa membuat cinderamata yang bisa dijual ke pengunjung
pulau Osi.
Pulau Osi, meskipun
namanya tidak terlalu indah, namun pulau Osi memiliki pemandangan yang sangat
indah dan dapat menjadi obyek wisata yang cukup potensial jika dikembangkan oleh
penduduk lokal serta jajaran pemerintah kota Ambon dengan baik. Dan pulau Osi,
telah menjadikan liburan Natal saya, sangat berkesan dan indah untuk dikenang
dalam perjalanan hidup saya.
Thank
you Osi Island, Thank you God for Your creation.

Hello Everybody,
BalasHapusMy name is Mrs Sharon Sim. I live in Singapore and i am a happy woman today? and i told my self that any lender that rescue my family from our poor situation, i will refer any person that is looking for loan to him, he gave me happiness to me and my family, i was in need of a loan of S$250,000.00 to start my life all over as i am a single mother with 3 kids I met this honest and GOD fearing man loan lender that help me with a loan of S$250,000.00 SG. Dollar, he is a GOD fearing man, if you are in need of loan and you will pay back the loan please contact him tell him that is Mrs Sharon, that refer you to him. contact Dr Purva Pius,via email:(urgentloan22@gmail.com) Thank you.
BORROWERS APPLICATION DETAILS
1. Name Of Applicant in Full:……..
2. Telephone Numbers:……….
3. Address and Location:…….
4. Amount in request………..
5. Repayment Period:………..
6. Purpose Of Loan………….
7. country…………………
8. phone…………………..
9. occupation………………
10.age/sex…………………
11.Monthly Income…………..
12.Email……………..
Regards.
Managements
Email Kindly Contact: urgentloan22@gmail.com