Selasa, 24 Februari 2015

Refleksi sederhana dari perjalanan meraih mimpi

      Sudah setengah tahun, aku meninggalkan dunia pendidikan dan mencari kemana aku akan berkarier dan berkarya. Setengah tahun, aku isi dengan melanjutkan passionku yaitu menulis dan merencanakan segala hal, tentu di dalamnya aku isi dengan kuliah dan berkarier sebagai penulis. Dengan pertimbangan, aku ingin lebih produktif untuk berkarya dan meraih mimpiku, yang mungkin bagi orang itu terlalu besar, apalagi aku belum memulai dan memiliki apa-apa yang bisa aku jadikan modal.
            But… everything has changed!!! Dua bulan aku kabur dari Surabaya dan kembali lagi karena ingin mengikuti job fair dengan perencanaan, aku akan tetap bersembunyi dari banyak orang (karena suatu hal), justru disinilah my dream will be begin to be come true, guys…..
Aku orang yang suka membuat sebuah cerita, namun salah satu alasan kenapa aku belum menemukan jalan untuk mimpiku sendiri adalah, aku menyimpan mimpiku ini hanya di dalam hati. Aku tidak pernah menceritakan mimpiku ini, kepada siapapun, yang ku ceritakan hanyalah pekerjaan yang berdasarkan akademisiku sendiri, aku terlalu takut untuk menceritakan impianku yang sebenarnya apa. Dan, pasca acara itu, hanya karena sekedar menanyakan kabar lamarannya di kompas, semuanya berkembang menjadi satu perjalanan meraih mimpi yang menyenangkan dan mengesankan.
Perbincangan kami hanya berawal dari lamaran pekerjaan, berkembang menjadi satu ajakan untuk membuat film, dan terhormat sekali dipercayakan menjadi penulis scenario yang sama sekali belum pernah aku lakukan sebelumnya. Dan itu semua, hanya bermodal percaya dan motivasi untuk mengerjakan semua ini. Awalnya terasa aneh, kami bekerjasama dalam satu tim, yang dimana kami belum kenal terlalu dalam, tapi kupikir inilah kehidupan, kita tidak akan pernah tahu, kejutan seperti apa yang akan didapatkan, di tiap bab kisahnya.
Dan hal yang ingin aku sharekan adalah, lewat project itu aku belajar banyak hal tentang di balik layar sebuah film. Bagaimana mengkonsep cerita, menuliskannya di dalam naskah, membeda karakter pemain dalam naskah dan mencari orang yang bisa memerankannya. Dalam hari H syuting, aku belajar bagaimana mengarahkan pemain agar bisa menyampaikan dialognya dengan baik, mempersiapkan lokasi, menjaga mood pemain.
Hal yang tak terlupakan adalah, menyusun dialog naskah hingga pagi, kebingungan mencari lokasi, khawatirnya kami karena lokasi yang mendadak tidak jadi, mencari pemain yang sesuai, hingga akhirnya kami merubah dialog agar sesuai dengan pemainnya. Proses editing film yang cukup menghasilkan perasaan yang campur aduk dan aku hanya bisa bersyukur bisa ikut hingga akhir produksi film ini, bahkan aku tidak menyesal untuk memilih keluar dari tempat kerjaku yang dahulu.
Namun, dari semua itu…. Setelah produksi film ini, aku semakin yakin jiwaku dimana, apa passionku dan mimpi terbesarku lewat passionku ini. Dan, aku bersyukur bisa memulai untuk mewujudkannya lewat film ini. Pasca film itu, aku semakin semangat untuk menulis, mencari pekerjaan yang sesuai dengan passionku, meskipun belum menemukan dimana aku akan memulai untuk berkarier dan berkarya. Tapi, aku selalu percaya ketika aku memiliki passion dan mimpi yang tidak merugikan orang lain, suatu saat pasti akan ditunjukkan dimana aku akan berkarier dan berkarya.
Aku selalu berharap, bisa berkarier sebagai penulis dan menginspirasi banyak orang lewat hasil tulisanku, entah apapun bentuk hasil tulisannya. Meskipun jalannya akan terseok-seok, namun sejauh ini aku cukup menikmati bidang yang membutuhkan referensi dan perbendaharaan kata-kata yang tidak sedikit. Hidup kita hanya sekali dan tidak akan terulang, apakah kita mau membawa sebuah sesal di akhir hidup kita, karena kita belum atau tidak mewujudkan impian kita. Mungkin tidak hanya sebuah sesal, namun sebuah tanya, apakah sebenarnya kita bisa mewujudkan impian kita.
Walaupun pada akhirnya, menulisku hanya sebuah freelance, tapi aku akan terus setia di bidang ini, setia untuk berkarya dan berkarier, hingga orang bisa terinspirasi dari tulisanku ini, walaupun itu hanya sedikit saja.
Ada sebuah kalimat yang mengatakan, tidak ada mimpi yang tidak terwujud, yang ada hanyalah kita tidak mau mengerjakan mimpi itu, untuk menjadi nyata.
So, will you?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar