Rabu, 25 Maret 2015

Menulispun bisa membuatku jatuh cinta.....inilah ceritanya

            Beberapa hari ini aku bertemu dengan seorang teman yang memiliki interest yang berbeda-beda dengan interest yang aku miliki yaitu menulis. Berutntung dikarunai sisi introvert dan ekstrovert yang seimbang, sehingga kesempatan itu tidak aku lewatkan begitu saja, untuk aku bisa belajar mengenai dunia mereka.
            Hal ini sebenarnya harus dimiliki oleh para penulis, untuk menambah wawasan dan materi yang semakin beragam dalam tulisan mereka. Selain itu, memang pada dasarnya aku suka untuk belajar hal baru yang bagiku itu memiliki keunikan tersendiri, terlebih lagi ketika yang menceritakannya kepadaku adalah orang yang memang memiliki passion di bidang tersebut.
            Kemarin ketika bertemu dengan seorang teman, kami terlibat perbincangan yang menarik dan membuka pandanganku tentang sisi lain dunia nyata, yang memang tidak selamanya putih bahkan dunia itu begitu gelap sekali, hingga tidak nampak dari pandanganku. Waktu itu, aku menolongnya untuk membantu mengolah sebuah kalimat untuk pekerjaan dia yang mengingatkanku akan masa lalu.
            Entah mungkin karena dia menangkap pancaran kebahagiaan dan antusiasku, ketika membantunya sehingga membuat dia bertanya, mengapa aku begitu suka menulis dan menikmati sekali bidang yang bagi dia sangatlah sulit dan berat. Dan aku menceritakannya dengan nada yang begitu bahagia dan antusias, inilah waktu yang aku suka ketika bisa menceritakan dan membagikan apa yang menjadi passionku.
            Jujur saja, hingga sekarang aku tidak ingat kapan tepatnya rasa jatuh cintaku dengan tulis menulis mulai bertumbuh. Ketika aku tarik kembali, sangat tidak mungkin seorang Helen saat itu menyukai dunia menulis, karena pribadiku dulu tidak terlalu suka hal yang begitu merepotkan, hal yang aku suka adalah melakukan kegiatan yang menyenangkan dan membahagiakan diriku sendiri seperti ngeband, olahraga basket, badminton, jalan-jalan dan kumpul dengan teman-temanku. Hingga satu titik di masa SMA, semua itu diubahkan begitu drastis berawal dari sebuah novel teenlit  pertamaku (yang kini hilang entah kemana), dimana cerita itu hampir mirip dengan kisah yang aku alami didukung dengan celetukan teman yang mengatakan kisah hidupku mirip seperti kisah-kisah di novel. Namun, itu semua aku lakukan hanya ketika sempat dan pingin saja.
           Tindakan seperti itu, terbawa hingga masa awal kuliah sampai aku menghadapi masa di semester tiga, yang mau tidak mau aku harus rajin menulis dan membaca. Saat itu, tulisanku dipuji oleh salah satu dosen dan juga temanku yang merupakan penulis, hingga di satu titik aku belajar untuk menekuni dunia menulis pertamaku melalui media sosial facebook. Sungguh senang, karena mendapati beberapa temanku terberkati dan terinspirasi dengan tulisanku. Tidak hanya menulis, namun aku mulai disiplin untuk membaca novel, dan mulai merasa gelisah karena tertantang agar aku bisa memiliki novelku sendiri.
Penolakan demi penolakan, pernah aku alami ketika aku mulai memasukkan naskah novelku ke beberapa publisher, ada yang memberikan alasan dan ada pula yang tidak memberikan alasan mengapa. Sedih… namun karena kesibukkan kuliah dan kegiatan, aku meninggalkan sejenak duniaku ini. Aku mulai menekuni bidang kuliahku yaitu Public Relations dan menemukan keasyikan serta keunikan yang waktu itu menyilaukanku sejenak.
Lomba menulis berhadiah beasiswa kepenulisan dengan jaminan memiliki novel, titik yang membawaku kembali ke dunia menulis. Dibalik kehetic’anku akan masa-masa akhir kuliah serta beberapa kegiatan, entah mengapa aku selalu memiliki banyak cara dan akal, untuk tetap mengikuti lomba tersebut yang membawaku sampai menjadi lima besar nasional. Tidak kusangka juga, hadiah yang ditawarkan juga membuatku “galau” hingga tidak bisa tidur, namun karena idealismeku sendiri, aku merelakan beasiswa kepenulisanku dan memilih jalanku sendiri untuk bisa meraih impianku memiliki novel.
Namun, konsekuensi atas pilihanku ternyata memang jalan yang tidak mudah, aku masih saja mengalami penolakan di beberapa penerbit, hingga aku memutuskan untuk berhenti dan mengubur mimpiku ini. Tidak hanya mengubur, aku tidak lagi membicarakannya bahkan menekuninya kembalipun tidak terpikirkan. Dan yang aku lakukan adalah, setelah lulus, aku memilih untuk menekuni bidang pendidian menjadi pengajar. Masa inilah, yang membuatku aku lupa sejenak dengan mimpiku memiliki novel. Beruntungnya, masa itu aku tidak pernah memiliki waktu untuk pergi ke toko buku, mengupdate novel terbaru bahkan sebuah majalah yang dulu sering iseng-iseng untuk ku baca.
 Hakekat impian itu memang bagaikan hantu, selalu menghantuiku dengan berbagai cara walaupun aku mencoba untuk berlari ke dunia yang sudah aku jalani. Bahkan ketika aku mengajarpun. Saat itu, aku sedang mengajari murid-muridku untuk menulis sebuah kalimat, entah mengapa aku merasa rindu untuk menulis sehingga aku memutuskan untuk cepat pulang dan kembali membuka lappieku, menuangkan berbagai hal yang berkecamuk di pikiranku, lalu ku publish di facebook. Senang bahkan menjadi candu, setelah hari itu. Aku membuka lagi tulisan-tulisanku yang dulu, bahkan tulisanku yang dulu ditolak oleh beberapa penerbit. Dan, aku memutuskan untuk tetap menulis, meskipun hanya sekedar menuliskan hal-hal sederhana saja.
Temanku yang merupakan penulislah, yang menjadi sebuah titik balikku untuk terus setia menulis walaupun tidak membawaku menjadi penulis novel. Ketika dia bercerita, tentang sebuah majalah yang salah satu rubriknya bisa diisi oleh pembaca dan tulisannya di publish disana, membuatku tertantang untuk membacanya. Beruntung, akupun suka jalan-jalan dan rubriknya bercerita mengenai tempat wisata. Pergilah aku ke toko buku dan membeli majalah tersebut, ku pelajari tulisannya dan aku menulis.
Nah… disinilah semangatku untuk terus menulis muncul. Tulisanku diterima dan mendapatkan apresiasi, rasanya itu menyenangkan apalagi aku mendapatkan hasilnya melalui menulis yang sangat aku sukai. Setelah kejadian itu, selalu saja ada kesempatan untukku menulis, entah itu naskah drama, naskah puisi, kalimat-kalimat untuk MC bahkan comment untuk raportpun, aku dipercayakan. Kadang, aku diminta temanku untuk membantu menuliskan kalimat untuk promosi produk, kata-kata ulang tahun dan itu rasanya menyenangkan sekali.
Rasa menyenangkan itu berubah menjadi rasa jatuh cinta, setelah aku bertemu dengan teman yang mengajakku untuk membuat film dan dipercayakan menjadi penulis naskah. Dan saat itu, aku berhenti dari tempat kerjaku. Tiga bulan lebih, aku full bergelut dengan naskah, tidak hanya menghasilkan naskah namun menguji apa yang menjadi passionku sebenarnya. Tidak terelakkan lagi, menulis memang passionku yang sebenarnya dan aku merasa bodoh sekali, karena tidak menyadarinya bahkan lari dan membuang waktuku dengan duniaku yang melenceng dari menulis. Namun, tidak sepenuhnya salah sih, karena masih cukup bermanfaat untuk beberapa hal. Dan disinilah, pandanganku berubah. Aku tidak lagi hanya ingin memiliki novel, namun aku ingin menjadi penulis yang dimana tulisanku bisa menginspirasi banyak orang dan puncak mimpiku adalah menjadi penulis naskah film.
Setelah aku menyelesaikan filmku, aku mulai untuk menulis, menulis apapun yang bisa aku tulis. Berbagai respon aku terima, ada yang merasa terinspirasi, ada yang merasa wawasannya bertambah dan ada juga yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis juga. Setelah aku renungkan, akupun menemukan banyak alasan mengapa aku memutuskan untuk menekuni bahkan berani untuk memiliki mimpi menjadi penulis.
Aku bersyukur, dikaruniai talenta menulis meskipun jalanku masilah terseok-seok bahkan belum memiliki titik terang. Namun, ketika aku menulis entah mengapa aku merasa diriku begitu beruntung dengan orang-orang yang juga beruntung lewat dunianya itu sendiri. Lewat menulis, aku bisa mengekspresikan apapun yang menjadi isi hatiku, dengan menulis aku bisa menginspirasi orang lain, dengan menulis aku bisa membuka pandangan orang lain yang belum tentu orang itu tahu. Dan yang terpenting, lewat menulis aku bisa bertemu dengan passionku dan bisa menjadi berkat untuk orang banyak. Bahkan kalau kita sadari, film yang box officepun juga sukses karena tulisan yang brilliant dari penulis naskah. Sebuah lagupun, bisa dikagumi oleh para pendengarnya juga tidak lepas dari penulis lagu. Bahkan sebuah produk yang terkenalpun, bisa melekat di hati penggunanya, juga tidak lepas dari copywriternya yang berpikir secara kreatif untuk mengolah agar produknya ini melekat di hati penggunanya.
Itulah sisi magic dari tulisan, lewat tulisan yang sederhanapun bisa memiliki kekuatan magic yang mencengangkan. Mungkin semua orang bisa menulis, namun setelah aku pikirkan dan banyak berproses, semua orang bisa menulis namun tidak semua orang memiliki talenta untuk menjadi penulis. Karena menjadi penulis, tidak hanya sekedar bisa menulis namun penulis haruslah memiliki sebuah rasa cinta, skill bahkan kerelaan untuk berkorban. Mengapa rela untuk berkorban, ketika ide terlintas kita harus rela untuk berhenti sejenak, untuk menuliskan di media yang ada, rela bergadang untuk menyelesaikan tulisan kita, rela untuk dikritik demi tulisannya lebih baik lagi, rela untuk membaca dan melihat karya orang lain untuk suplemen kreatif kita, bahkan rela kerja keras untuk menggapai impian kita yaitu sebuah karya tulis.
Tidak mudah….namun, entah mengapa aku tetap rela hati dan sukacita untuk mengerjakannya….alasannya? Karena aku jatuh cinta dengan menulis dan tidak mudah perjalanannya untuk aku jatuh cinta dengan menulis.Sehingga, aku mau terus berjuang.

So, carilah cintamu dan kejarlah cintamu, walaupun harus jatuh berkali-kali….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar