Sebulan ini aku begitu kecanduan
dengan satu flavour entah itu ice cream, frappe ataupun milkshake,
yaitu chocomint. Sebenarnya rasa ini
bukan pendatang baru di lidahku, aku sudah suka dengan rasa ini sejak beberapa
tahun yang lalu. Taste ini begitu
unik untukku yang tidak bisa aku ungkapkan dengan sebuah kata-kata.
Hingga dalam satu waktu, ketika aku
mulai menyadari akan sebuah realita hidup, hidup itu bagaikan taste yang selama ini menjadi favoritku
yaitu chocomint. Tidak selamanya
manis namun juga pedas, karena ada beberapa masalah-masalah hidup yang mau
tidak mau harus kita hadapi. Tapi, ketika dua rasa ini dikombinasikan, hasilnya
adalah delicious, tidaklah “eneg”.
Coba bayangkan, kalau hidup hanya manis-manis aja, lama-lama akan terasa
“eneg”. Begitu juga sebaliknya.
Bukannya aku penganut aliran, hidup
itu indah karena ada masalah, sehingga meminta masalah terus menerus datang
kepadaku. Aku juga masih merupakan manusia normal yang hidupnya ingin terus
menerus indah dan menyenangkan, layaknya seorang putri di kerajaan. Hidup
dikelilingi dengan kebahagiaan, kenyamanan, keajaiban dan kemudahan hanya
dengan menjetikkan jari. Beberapa tahun lalu, aku pernah berada di posisi
seperti itu dan itu memang menyenangkan, tidak ada air mata yang jatuh, tidak
terlalu bekerja keras, tidak ada kekecewaan, dan yang ada hanyalah kebahagiaan.
Namun,
sisi buruknya adalah…. Ketika aku harus dihadapkan dengan kenyataan hidup.
Dimana aku hanya seorang diri, tidak ada orang di sekitarku, hanya ada aku,
tembok kamar, langit-langit kamar dan bahkan di satu titik aku di posisi, semua
orang mungkin menganggap aku tidak ada. Aku terguncang, tidak terima, tidak
siap dan aku kecewa. Mengapa hidup, harus begini susahnya dan pahit. Mungkin
lebih dari pahit, pedas. Karena terlalu pedasnya, membuat sakit, ngilu, selalu
ingin marah, berteriak, menangis bahkan ingin rasanya lompat dan lari dari
kenyataan ini.
Ku
kira aku wanita paling kuat dan tegar, ternyata aku tidaklah berbeda seperti
putri-putri kerajaan yang selalu dilindungi oleh prajuritnya, karena dia lemah,
rapuh dan tidak berdaya. Bahkan untuk memutuskan bangkit dan memulai hidup
kembali, tidak tahu harus seperti apa. Hingga, aku benci dengan diriku yang
seperti itu dan aku belum terbiasa dengan pola serta kenyataan hidup ini. Satu
hal lain adalah, aku terbiasa melihat air mataku jatuh yang tidak pernah habis,
karena terbiasanya aku yang dulu dengan hidup manis.
Lambat
laun, aku mulai terbiasa dan mengakui, ternyata kenyataan hidup itu tidak
selamanya indah. Bahkan mungkin, untuk beberapa saat ini aku belum bisa melihat
keindahannya. Awan gelap itu masih terlalu pekat dan tebal, untuk dilalui
sebuah cahaya pengharapan yang hanya setitik kecil. Tapi, karena inilah, aku begitu
senang dengan hujan, karena aku bisa melihat pelangi. Selesai hujan datang,
selalu ada pelangi. Bahkan awan mendungpun, selalu ada silver linings. Itu pasti ada, yang dibutuhkan hanyalah menunggu
dengan sabar.
Tapi, satu hal yang aku syukuri
adalah, entah kenapa aku merasa beruntung dan bersyukur, ditempa dengan
sebegini menyakitkannya, hingga satu titik aku merasa lelah dan penat. Namun,
jika aku bandingkan dengan diriku yang dulu, I feel like reborn. Aku jauh lebih menghargai hidup, jauh lebih
menghargai kehadiran orang-orang di sekitarku, jauh lebih tahu tentang apa itu
ketulusan, jauh lebih tegar dan kuat, tidak takut menghadapi masalah dan jauh
lebih yakin, siapakah aku.
Terlambat? Tidak!!! Seperti kata
Disney, tidak pernah ada kata terlambat untuk merubah sesuatu. Aku bersyukur,
diberikan banyak waktu untuk tidak terlalu sibuk seperti dulu, diberikan waktu
untuk “break” beberapa saat,
diberikan banyak waktu untuk sendiri, diberikan banyak waktu untuk
di”jatuh”kan, diberikan banyak waktu untuk berefleksi, diberikan waktu yang
berjalan begitu lambat dan diberikan banyak waktu untuk menata kembali rencana
hidupku. Sehingga, aku bisa memberikan satu kesimpulan, hidup itu berwarna dan
berasa seperti taste favoritku chocomint. Weird taste but delicious.
Apa yang sudah terjadi entah itu
manis ataupun pedas, tidak akan bisa terulang, bahkan ke depannya, kita tidak
bisa meminta agar hidup kita selamanya manis. Yang bisa dilakukan hanyalah,
terbukalah akan semua rasa hidupmu dan nikmati saja. Layaknya kita menikmati
saat-saat kita makan ice cream dengan
rasa yang sesuai favorit kita. Karena apapun rasanya, pasti akan terasa enak
jika dinikmati dengan hati yang gembira. Seperti rasa favoritku, Chocomint, yang selalu bisa membuat
hatiku menjadi lebih baik, dengan keunikan rasanya, yang sebenarnya tidaklah
sinkron.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar