Jumat, 13 Maret 2015

Today I Found My Own Silver Linings

             Harusnya hari ini jadwal kegiatanku hanyalah menunggu interview di calon tempat bekerjaku yang akan datang (amin…) namun, berawal dari sebuah e-mail dan mention di FB, hari ini jadwalku bertambah yaitu datang ke acara launcing ACFfest, Anti Corruption Film Festival yang akan saya ikuti.
            Awalnya motivasiku hanyalah, hanya sekedar pingin tahu lebih dalam tentang kompetisi ini dan film-film pemenang tahun lalu, yang harusnya kami ikuti. Namun, setelah itu motivasi awalku itu hilang, karena ternyata aku menemukan banyak hal yang menginspirasiku untuk terus berkarya khususnya sebagai penulis di dunia film. Yes… menciptakan berbagai macam karya yang bisa menginspirasi orang lain.
            Film pertama dibuka dengan sejarah KPK, sebenarnya aku agak boring sih, karena film ini murni sejarah dokumenter biasa yang hanya berisi sejarah seperti film tentang berdirinya UK.Petra yang selama empat tahun berturut-turut aku lihat di kelas P3KMABA. Namun, ada pesan yang bisa aku dapat, tentang perjuangan para pejuang-pejuang untuk terus melawan dan mencegah korupsi.
            Film kedua, film ini berhasil memukauku dengan cerita dan teknis film yang indah dan menyentuh. Film ini berkisah tentang dua pemuda yang berkeinginan untuk melawan korupsi dengan talenta mereka masing-masing. Pemuda pertama berjuang lewat musik dan pemuda kedua berjuang lewat kuliahnya di bidang komunikasi khususnya di area psikologi dan relasi serta menjadi aktivisi di organisasi SPEAK. Pemuda pertama mendapatkan buahnya yaitu menang di beberapa festival dan pemuda kedua juga berhasil melakukan campaign lewat organisasinya.
            Setelah memutar dua film itu, panitia melakukan talkshow tentang garis besar acara dan juga mengapa campaign untuk mencegah korupsi ini diwujudkan dengan lomba film. Memang tidak salah kalau panitia memilih Film sebagai media untuk kampanye, karena masyarakat memang lebih senang disuguhkan dengan visual ketimbang membaca ataupun mendengarkan. Hanya bagaimana kita, untuk pandai-pandai melihat berbagai macam isu yang bisa kita angkat.

            Setelah talkshow, panitia memutar film nominasi Fiksi Pendek ACFfest 2013 yaitu Boncengan. Film ini sebenarnya ceritanya sederhana sekali tentang melakukan tindakan curang, agar bisa memenangkan perlombaan sepeda yaitu dengan meminta dibonceng baik itu temannya maupun ayahnya. Dan satu peserta lainnya, memilih untuk berjuang dengan jujur. Namun, yang membuat menarik adalah, film ini bener-bener natural banget baik itu secara cerita dan juga akting dari pemain. Pemain dibiarkan untuk berdialog dengan bahasa daerah mereka, menyuguhkan keindahan alam dan bertindak sesuai dengan apa adanya mereka. Sehingga, film ini benar-benar seperti melihat kisah nyata dari anak desa, mengingatkanku dengan laskar pelangi. Akhirnya, aku jadi tahu, seperti ini ternyata film yang layak masuk nominasi. Tidak perlu cerita yang rumit, cerita sederhana namun dikemas menarik.
            Setelah melihat film Boncengan, sayapun break untuk makan siang. Dan setelah break makan siang, puncak rasa syukurku terjadi, aku bisa melihat film pemenang ACFfest tahun yang harusnya kami ikuti beserta nominasi dari ACFfest tahun 2013. Aku begitu excited, karena benar-benar diliputi rasa penasaran.
            Jumrah, adalah film pemenang ACFfest 2014 dimana tahun yang harusnya kami ikut. Namun, ini silver lining pertamaku yang aku dapati setelah melihat film Jumrah. Film Jumrah ini, memang layak untuk menjadi pemenang selain dari story telling yang unik, konsep film dan cerita yang nggak biasa, film ini bukan hanya film yang sekedar menampilkan sebuah adegan yang diruntut menjadi film, namun ada pesan tentang suatu kemarahan dan kebencian rakyat terhadap satu institusi pemerintah. Dan setelah melihat film ini, wow… nggak salah film ini menang, aku hanya bisa kagum dan makin kagum ketika mendengar sharing dari directornya. Dan temanku berkata, “Ini lho film yang bener…” I just can wonder, ciamik bener nih screenwriter plus directornya, sampai bisa menghasilkan film yang seperti ini.
            Lewat film tadi, aku jadi belajar satu hal….kalau saja tahun lalu, aku bersikeras untuk ikut kompetisi ini dengan materi film yang sebenarnya belum layak untuk diikutkan, mungkin aku akan menyesali ini seumur hidup, karena filmku yang tahun lalu, masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan film Jumrah. Dan jika hari ini, aku duduk di kursi tadi dengan keadaan sebagai mantan peserta lomba tadi, mungkin aku akan menangisi lomba ini kedua kalinya, namun menangis karena menyesal.
            Dan setelah melihat film Jumrah tadi, aku jadi tertantang untuk makin meningkatkan kualitas tulisan dan skilkku untuk mengolah cerita khususnya metafora, yang dimana aku belum seberapa menguasainya. Di satu sisi, aku juga merasa senang, karena pemuda-pemudi Indonesia, juga banyak yang potensial, untuk menjadi filmmaker di tuan rumahnya sendiri. Aku sih berharap, orang-orang inilah, yang akan bisa merubah style film Indonesia yang makin tidak mendidik para generasi muda dan juga masyarakat.
            Film selanjutnya adalah penghulu, memang tidak sebagus Jumrah maupun Boncengan. Namun, aku suka juga sama film ini, film ini benar-benar dibiarkan mengalir dan berakhir apa adanya. Masyarakat Indonesia tidak mampu untuk melawan korupsi dan cenderung ikut arus. Harusnya sebenarnya bisa, namun karena terkendala dengan syarat administrasi yang mengikat dan harus diikuti, akhirnya mereka ikut. Menyindir banget sih….
            Meskipun aku pulang duluan, tapi aku tetap senang karena aku bisa pulang dengan membawa sesuatu dari acara tadi. Aku semakin yakin dengan passion dan mimpiku sendiri, untuk bisa terus berkarya di bidang ini. Mungkin rasa pesimis ada, karena melihat film tahun lalu, yang ternyata bagus sekali dan jika dibandingkan dengan filmku sendiri, mungkin tidak sebagus mereka. Tapi, aku melihat ini sebagai proses dari akhir perjuanganku dan juga tim filmku untuk film ini. Mungkin saat ini, ulat itu masih menjadi ulat namun dengan berbagai proses, ulat itu suatu saat akan berkembang menjadi kupu-kupu yang indah. Mungkin filmku masa untuk bisa berbuah bukan tahun kemarin ataupun awal tahun ini, tapi mungkin setelah melewati berbagai proses, film ini pasti akan menghasilkan buah yang manis.
            Dan ini, silver linings yang paling membekas di hatiku….aku menemukan harapan dan cahaya baru untuk film ini, passsionku, impianku bahkan ternyata aku juga punya teman yang nggak sedikit sama sepertiku, ingin berkarya dan karyanya bisa menginspirasi orang lain.

            Akupun pulang dengan hati yang senang serta berharap silver linings ini bisa berkembang menjadi sebuah pelangi yang indah setelah hujan….

2 komentar:

  1. Keren ka....
    Simple but inspiring
    Can feel ur spirit... and it is affected
    Never give up on your dream!

    BalasHapus
  2. Hihihihi....Makasih dekk.....
    Yeahh...keep pursue your dreams... =)

    BalasHapus