Senin, 15 Juni 2015

HE Leadeth Me Perfectly

Minggu kemarin, merupakan hari yang sungguh menyenangkan dan memberkatiku terutama untuk apa yang menjadi passionku sendiri yaitu menulis serta penyertaan Tuhan yang begitu sempurna dalam kehidupanku, terutama untuk keluargaku.
            Keputusanku untuk mengejar mimpiku yaitu menjadi seorang penulis, tentulah bukan perkara mudah, semudah ketika aku mulai merancang apa yang menjadi mimpi-mimpiku bahkan bucket listku, sebelum aku tidak bisa bernafas. Begitu banyak hal terjadi, entah itu dalam diriku sendiri, relasiku dengan orang lain, relasiku juga dengan Tuhan terutama relasiku sendiri dengan keluargaku.
            Sempat ingin menyerah akan mimpiku sendiri yang belum membuahkan hasil, karena juga merasa lelah, namun entah bagaimana caranya, Tuhan tetap bekerja dan terus mengingatkanku untuk terus saja berjalan dan percaya. Memang, fase-fase sebelum hari minggu kemarin adalah fase-fase terpahit dan menyedihkan dalam sepanjang hidupku. Namun, ada saja penghiburan-penghiburan yang Tuhan kirimkan untukku. Entah itu lewat ayat-ayat Saat Teduh, orang-orang yang Tuhan tempatkan, bacaan-bacaan yang aku baca, sahabat-sahabat yang selalu ada untukku, bahkan lagu-lagu yang terlintas di kepalaku ataupun yang sengaja aku dengarkan. Tidak hanya memberikan penghiburan bahkan penguatan untukku sendiri. Sekaligus, menyembuhkanku.
Dan, bersyukur sekali, aku semakin dikuatkan dan diyakinkan mengenai passionku sendiri yaitu menulis. Tuhan meyakinkanku untuk terus bertahan dan berjuang bersamaNya dengan memberiku berkat lewat setiap kesempatan-kesempatanku untuk berkarya entah itu menjadi editor, proyek novel kolaborasi, menuliskan content untuk tugas teman-teman bahkan karya tulisku yang akan kembali naik cetak. Sungguh menyenangkan dan mengharukan.
Hal yang paling membahagiakan adalah, Tuhan juga bekerja untuk keluargaku. Awalnya, mereka ingin sekali aku bisa bekerja sesuai dengan apa yang mereka mau. Hingga, akhirnya pada satu titik aku begitu jenuh dan sedih, bahkan berpengaruh akan kondisi hatiku sendiri. Fase itu membuatku begitu rapuh, sedih bahkan benar-benar putus asa, akan keadaanku sendiri. Bingung, apa yang harus aku lakukan, hingga sepanjang fase itu, aku menjadi begitu tidak stabil.
            Satu lagi pekerjaan Tuhan yang begitu menakjubkan, entah bagaimana caranya, Tuhan melembutkan hati kedua orangtuaku. Mereka mulai belajar untuk memahamiku dan begitu juga sebaliknya. Suasana keluargaku mulai membaik, bahkan mereka mulai mendukung apa yang menjadi mimpiku, hingga pekerjaan apa yang nantinya akan aku ambil. Pada akhirnya, aku bisa dengan bebas menceritakan, project apa saja yang sedang aku kerjakan bahkan rencana-rencana kedepanku seperti apa yang ingin aku ambil.
            Dalam hari Minggu kemarin ketika aku ibadah, bahkan dalam doa-doaku, aku terbuka, pada awalnya merasa lelah dan jenuh. Bahkan, aku ingin menyerah. Namun, berkali-kali aku berkata ingin menyerah, berulang kali juga DIA memintaku untuk diam dan bertahan, terus saja melihat apa yang Tuhan ingin kerjakan dalam kehidupanku. Meskipun, hingga detik ini Tuhan masih terus memprosesku, bahkan yang aku capai saat ini belumlah semua. Namun, aku bersyukur akan setiap kesempatan yang kini ada di tanganku saat ini. Dan melalui firman Tuhan dan juga lagu-lagu pujian yang aku nyanyikan, DIA selalu berkata bahwa, DIA akan terus turun tangan untuk menolongku berjuang dalam meraih impianku. Karena DIA ingin terus mengajariku, karena Tuhan yang memberikan impian, talent bahkan kesempatan yang ada, DIA ingin juga, aku meraih impianku bersama Tuhan juga.
Puncak ucapan syukurku adalah ketika hari Minggu kemarin aku bisa mendengarkan sharing dari salah satu idolaku yang menginspirasiku untuk terus menulis, yaitu Pongki Barata. Dimana, dia begitu semangat dan terus mengambil begitu banyak cara, untuk bisa terus bertahan menjadi musisi. Bahkan, cara-cara dia untuk menulis lagu yang tidak hanya indah namun hingga detik ini, masih enak untuk didengarkan. Bahkan hal yang makin membuatku kagum adalah, dia memiliki prinsip yang sama denganku akan sebuah kesuksesan dalam berkarya, bukanlah tentang uang namun bagaimana karyamu bisa menginspirasi bahkan menjadi berkat untuk orang lain. Wuahh…. Itu semakin membuatku semangat dan termotivasi, untuk terus berkarya. Thanks for sharing, Kak Pongki.
            Selesai acara itu dan akan kesempatan-kesempatan yang Tuhan berikan, aku semakin yakin akan apa yang menjadi passionku yaitu, menulis. Entah itu menjadi screenwriter, songwriter, novelist, penulis buku, editor, ghostwriter, atau penulis artikel, maupun blogger, itu bukanlah masalah. Namun, yang aku yakini adalah, apapun medianya ataupun profesinya, disana aku bisa menuliskan segala hal dan apapun yang aku mau, dan tulisanku bisa menginspirasi banyak orang.

            Dua minggu yang meletihkan, namun aku belajar satu hal yaitu, When I ask HIM to lead me, HE leadeth me perfectly and amazingly. Thanks God J

Senin, 08 Juni 2015

My Thought about farewell

Sejak aku menginjakkan kembali kakiku di Surabaya, bulan lalu. Begitu banyak orang-orang yang pergi dari Surabaya, entah itu untuk bekerja, pelayanan, pulang kampung bahkan juga untuk kuliah lanjut. Dan, orang-orang itu adalah, orang-orang terdekatku, bahkan mereka yang pernah ikut terlibat dalam proses hidupku. Kami mungkin tidak bersama setiap hari, tidak berkomunikasi secara rutin, tidak bisa bertemu setiap saat. Tapi apa yang mereka telah goreskan dalam buku kehidupanku, itulah yang melekat dan teringat, selama aku masih bernafas. Kenangan itulah, yang tidak bisa dibeli oleh uang. Meskipun, mungkin ketika kami bersama, kami pasti mengeluarkan uang, namun apa yang melekat di hati itulah, yang tidak bisa digantikan oleh uang.
Apa yang aku rasakan? Nano-nano… bahagia karena akhirnya mereka bisa mengerjakan apa yang telah menjadi keinginannya selama aku mengenalnya. Sedih karena tidak akan mungkin bisa bertemu kembali. Kecewa karena aku tidak sempat menghabiskan hari lebih banyak dengan mereka dan mungkin bisa sedikit iri, karena aku masih tertinggal disini dengan segala mimpiku. Tapi, aku juga memiliki suatu rasa pengharapan, suatu saat nanti kami pasti bisa bertemu kembali, dengan berbagi cerita yang jauh lebih menyenangkan dan membahagiakan hati. Karena Tuhan telah memproses mereka, di tempat yang baru.
Satu hal lagi yang ku pelajari adalah, kehilangan mungkin salah satu pengajaran dalam kehidupan yang mampu mengingatkan kita, betapa berartinya orang-orang tersebut dalam kehidupan kita. Ketika orang itu pergi, kenangan yang mereka torehkan itulah yang tertinggal dalam hidup kita. Dan ketika kita mengenangnya, selalu saja ada hal-hal yang kita syukuri. Bayangkan saja, apakah tanpa mereka, kehidupan yang kita miliki apakah akan berwarna seperti ini? Belum tentu berwarna, bukan? Karena merekalah, hidup kita menjadi berwarna. Entah, warna apapun itu. Karena proses hidup lewat orang-orang sekitar kita, tidak selamanya harus indah? Proses yang Tuhan izinkan terjadi lewat orang-orang sekitar kita, bisa juga berwarna kelabu, namun pasti ada pelajaran dan makna, yang bisa kita pelajari. Ku rasa itulah, yang berharga.
Namun, apakah kita harus mengalami kehilangan terlebih dahulu, untuk membuat orang itu berarti? Ku rasa tidak… Tuhan memberikan nafas hidup untuk kita tiap hari dan waktu untuk mengerjakan segala sesuatunya, hal-hal itulah yang bisa kita jadikan kesempatan, untuk menciptakan kenangan-kenangan sebanyak mungkin, sebelum kita tidak bisa memiliki waktu untuk bertemu kembali. Karena, kehilangan dan penyesalan, adalah moment hidup yang cukup menyakitkan, apalagi kita sebelumnya tidak sempat menghabiskan waktu yang berkualitas dengan mereka. Dan sekali lagi, kenangan itulah yang dunia tidak bisa berikan. Karena, kenangan itu, urusannya dengan hati secara personal dan bukan materi.
Apalah arti memiliki dunia, namun dalam hati kita tidak memiliki siapa-siapa. Karena berkat “siapa-siapa” itulah kita bisa memiliki dunia. Mereka yang senantiasa mendukung kamu, mungkin tidak sepenuhnya dalam materi, tapi menyediakan bahu untuk menyandarkan segala beban di hati, hati untuk terus menerus tulus mendukung dan juga menegur, air mata yang juga turut mengalir ketika kamu terjatuh, senyuman ketika kamu berhasil, bibir untuk terus menerus mendoakan dan juga memberikan nasihat, bahkan kaki untuk melangkah bersama ketika kita takut untuk melangkah sendiri.
Ku rasa, itu jauh lebih berharga dibandingkan apa yang ditawarkan oleh dunia saat ini. Materi, tahta, jabatan, fasilitas supermewah, mungkin bahkan kesempatan untuk berkeliling dunia. Uang mungkin bisa membeli segalanya yang kelihatan, namun kesempatan untuk merasa dicintai dan disayangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita, tidak bisa dibeli oleh uang. Mengapa? Karena itu adalah anugerah dan hadiah yang diberikan oleh Tuhan dalam perjalanan kehidupan kita.
Jadi, bersyukurlah akan orang-orang sekitarmu dengan memberikan waktu-waktu berharga kita untuk mereka. Karena, waktu itu terus berjalan maju, musim terus berganti dan kehidupan ini singkat. Kita tidak akan pernah tahu, sampai kapan mereka ada dan bisa terus bersama kita. Janganlah sampai, ucapan sampai jumpa kita, diiringi dengan sesal. Biarlah ucapan sampai jumpa kita, diiringi dengan senyuman kebahagiaan dan harapan, untuk bisa bertemu kembali.
Thank you for all my friend to give another colour in my life…I always hope can see you again…Good luck, wherever you are now. Love you all.


Senin, 01 Juni 2015

Filosofi Chocomint

            Sebulan ini aku begitu kecanduan dengan satu flavour entah itu ice cream, frappe ataupun milkshake, yaitu chocomint. Sebenarnya rasa ini bukan pendatang baru di lidahku, aku sudah suka dengan rasa ini sejak beberapa tahun yang lalu. Taste ini begitu unik untukku yang tidak bisa aku ungkapkan dengan sebuah kata-kata.
            Hingga dalam satu waktu, ketika aku mulai menyadari akan sebuah realita hidup, hidup itu bagaikan taste yang selama ini menjadi favoritku yaitu chocomint. Tidak selamanya manis namun juga pedas, karena ada beberapa masalah-masalah hidup yang mau tidak mau harus kita hadapi. Tapi, ketika dua rasa ini dikombinasikan, hasilnya adalah delicious, tidaklah “eneg”. Coba bayangkan, kalau hidup hanya manis-manis aja, lama-lama akan terasa “eneg”. Begitu juga sebaliknya.
            Bukannya aku penganut aliran, hidup itu indah karena ada masalah, sehingga meminta masalah terus menerus datang kepadaku. Aku juga masih merupakan manusia normal yang hidupnya ingin terus menerus indah dan menyenangkan, layaknya seorang putri di kerajaan. Hidup dikelilingi dengan kebahagiaan, kenyamanan, keajaiban dan kemudahan hanya dengan menjetikkan jari. Beberapa tahun lalu, aku pernah berada di posisi seperti itu dan itu memang menyenangkan, tidak ada air mata yang jatuh, tidak terlalu bekerja keras, tidak ada kekecewaan, dan yang ada hanyalah kebahagiaan.
Namun, sisi buruknya adalah…. Ketika aku harus dihadapkan dengan kenyataan hidup. Dimana aku hanya seorang diri, tidak ada orang di sekitarku, hanya ada aku, tembok kamar, langit-langit kamar dan bahkan di satu titik aku di posisi, semua orang mungkin menganggap aku tidak ada. Aku terguncang, tidak terima, tidak siap dan aku kecewa. Mengapa hidup, harus begini susahnya dan pahit. Mungkin lebih dari pahit, pedas. Karena terlalu pedasnya, membuat sakit, ngilu, selalu ingin marah, berteriak, menangis bahkan ingin rasanya lompat dan lari dari kenyataan ini.
Ku kira aku wanita paling kuat dan tegar, ternyata aku tidaklah berbeda seperti putri-putri kerajaan yang selalu dilindungi oleh prajuritnya, karena dia lemah, rapuh dan tidak berdaya. Bahkan untuk memutuskan bangkit dan memulai hidup kembali, tidak tahu harus seperti apa. Hingga, aku benci dengan diriku yang seperti itu dan aku belum terbiasa dengan pola serta kenyataan hidup ini. Satu hal lain adalah, aku terbiasa melihat air mataku jatuh yang tidak pernah habis, karena terbiasanya aku yang dulu dengan hidup manis.
Lambat laun, aku mulai terbiasa dan mengakui, ternyata kenyataan hidup itu tidak selamanya indah. Bahkan mungkin, untuk beberapa saat ini aku belum bisa melihat keindahannya. Awan gelap itu masih terlalu pekat dan tebal, untuk dilalui sebuah cahaya pengharapan yang hanya setitik kecil. Tapi, karena inilah, aku begitu senang dengan hujan, karena aku bisa melihat pelangi. Selesai hujan datang, selalu ada pelangi. Bahkan awan mendungpun, selalu ada silver linings. Itu pasti ada, yang dibutuhkan hanyalah menunggu dengan sabar.
            Tapi, satu hal yang aku syukuri adalah, entah kenapa aku merasa beruntung dan bersyukur, ditempa dengan sebegini menyakitkannya, hingga satu titik aku merasa lelah dan penat. Namun, jika aku bandingkan dengan diriku yang dulu, I feel like reborn. Aku jauh lebih menghargai hidup, jauh lebih menghargai kehadiran orang-orang di sekitarku, jauh lebih tahu tentang apa itu ketulusan, jauh lebih tegar dan kuat, tidak takut menghadapi masalah dan jauh lebih yakin, siapakah aku.
            Terlambat? Tidak!!! Seperti kata Disney, tidak pernah ada kata terlambat untuk merubah sesuatu. Aku bersyukur, diberikan banyak waktu untuk tidak terlalu sibuk seperti dulu, diberikan waktu untuk “break” beberapa saat, diberikan banyak waktu untuk sendiri, diberikan banyak waktu untuk di”jatuh”kan, diberikan banyak waktu untuk berefleksi, diberikan waktu yang berjalan begitu lambat dan diberikan banyak waktu untuk menata kembali rencana hidupku. Sehingga, aku bisa memberikan satu kesimpulan, hidup itu berwarna dan berasa seperti taste favoritku chocomint. Weird taste but delicious.
            Apa yang sudah terjadi entah itu manis ataupun pedas, tidak akan bisa terulang, bahkan ke depannya, kita tidak bisa meminta agar hidup kita selamanya manis. Yang bisa dilakukan hanyalah, terbukalah akan semua rasa hidupmu dan nikmati saja. Layaknya kita menikmati saat-saat kita makan ice cream dengan rasa yang sesuai favorit kita. Karena apapun rasanya, pasti akan terasa enak jika dinikmati dengan hati yang gembira. Seperti rasa favoritku, Chocomint, yang selalu bisa membuat hatiku menjadi lebih baik, dengan keunikan rasanya, yang sebenarnya tidaklah sinkron.


Kamis, 07 Mei 2015

Heart's voice

            Aku lelah…..
            Lelah membohongi hati dan berpura-pura
            Tidak pernah memiliki kesempatan menjadi aku
            Hingga aku tak mampu mengenali siapa aku
            Yang ku tahu hanya membuat kalian bahagia.
           
            Aku penat….
            Terlalu banyak beban yang disandarkan
            Terlalu banyak pertimbangan untuk dipikirkan
            Hingga aku tak tahu apa yang aku cari di hidupku
            Meskipun sudah ada jelas di depan mataku

            Aku jenuh…..
            Kehidupan yang dulu aku jalani adalah palsu
            Kehidupan yang aku inginkan makin menjauh
            Kini aku harus membangun lagi dari sisa harapan masa lalu
            Walaupun aku tak tahu kapan bisa ku raih.

            Maaf….
            Maaf, kalau akhirnya aku harus menyerah
            Menyerah dari harapan dan impian kalian
            Aku hanya ingin bisa benar-benar hidup
            Selama aku masih dipercayakan untuk hidup

            Ijinkan aku bebas….
            Ijinkan aku benar-benar hidup
            Ijinkan aku bisa benar-benar bernafas
            Menghirup kebebasan dan impian.

            Percayalah….

            Aku akan tetap menjadi pribadi yang tetap sama.

Sabtu, 02 Mei 2015

Jika

            Jika aku bisa terlahir kembali….
            Aku tetap ingin dengan orangtuaku yang sekarang
            Aku tetap ingin dengan teman-temanku yang saat ini ada di sisiku
            Aku tetap ingin memiliki talenta yang saat ini aku miliki
            Aku tetap ingin dengan kondisi keluarga yang saat ini, tidak berkekurangan
            Aku tetap ingin bisa bermimpi dan menyenangkan hati banyak orang
           
            Jika aku bisa terlahir kembali….
            Aku tidak ingin pindah dari Surabaya ketika SMA
            Aku tidak ingin memilih jurusan yang aku pernah ambil
            Aku tidak ingin hanya sekedar menjadi patuh
            Aku tidak ingin tidak bisa bersuara
            Aku tidak ingin lulus tepat waktu, mungkin.

            Jika aku bisa terlahir kembali…
            Aku ingin meminta dia tetap hidup
            Aku ingin meminta agar aku bisa dimengerti sekali saja
            Aku ingin meminta agar aku bisa menata hidupku sendiri
            Aku ingin meminta agar aku sepenuhnya bebas
            Aku ingin meminta agar aku bisa sedikit egois

            Jika aku bisa terlahir kembali…
            Aku tidak perlu memiliki rasa takut untuk menceritakan mimpiku
            Aku tidak perlu ragu untuk mengambil hal yang harusnya aku ambil
            Aku tidak perlu ragu untuk mengutarakan kemana aku ingin berkuliah
            Aku tidak perlu melupakan dan mengubur rapat mimpiku
            Aku tidak perlu takut untuk memilih apa yang aku mau.
           
            Namun….
            Itu hanya sebuah kata “jika” sebuah kata yang sifatnya bisa terjadi bahkan mungkin tidak akan mungkin terjadi. Hanya sebuah kata, untuk memanggil masa lalu yang sekiranya pahit dirasa. Hanya sebuah kata untuk menghibur diri, dikala merasa terpuruk, karena apa yang diinginkan telah terlambat untuk dijangkau.
            Bukannya aku tidak bersyukur dengan hidup dan diriku saat ini, hanya saja….
Lima tahun mungkin bahkan lebih, aku hidup menjadi anak yang patuh bahkan mungkin terlalu patuh, hingga aku tidak bisa dan tidak berani untuk menampilkan siapa aku yang sebenarnya, termasuk impianku. Tidak berani menceritakan mimpiku, menunjukan karyaku, menulis dikala orang tidak tahu, hingga berpura-pura menjadi amnesia untuk bisa mengikari mimpiku ini.
            Aku hanya merasa iri dan juga termotivasi…..
Diluar hidupku, aku melihat banyak orang bisa bebas meraih dan menata hidupnya sendiri, termasuk mimpinya. Aku bahkan tidak tahu, apakah orangtuaku mendukung aku jika aku benar-benar nekat untuk menjadi penulis. Menjadi penulis yang ingin menggerakkan orang lain untuk bisa bermimpi setinggi-tingginya tanpa perlu malu dan takut untuk menunjukkan ke dunia. Karena aku tahu, hidup ini hanya sekali dan aku tidak ingin meninggal dengan penyesalan.
            Mimpiku, ya….mimpiku yang indah, idealis, besar dan mungkin sangat kecil untuk terjadi…
Karena aku mengalami masa kecil yang indah dan aku selalu peraya bahwa hidup ini sangatlah indah, maka aku ingin memiliki mimpi yang indah, sehingga aku bisa mengubah dunia ini menjadi lebih indah, karena dengan memiliki impian, hidupmu akan menjadi lebih indah.
            Dan aku pernah mengalaminya, menghidupi impian itu sangatlah indah. Mengubur impian, sangatlah menyakitkan. Aku tidak lagi ingin merasa sakit dan meratapi hal yang akan aku sesali nantinya. Aku tidak ingin menambah masa terpenjara, aku hanya ingin menambah waktu untuk bisa hidup layaknya burung yang bebas terbang kemana mereka mau. Hingga, waktunya nanti aku benar-benar pulang ke sangkar dengan rasa benar-benar bahagia.

            Bukannya aku tidak ingin menjadi anak yang patuh dan tidak sedikitpun aku ingin mengecewakan hati orang-orang yang berharap banyak kepadaku. Dan pada dasarnya, aku bukan Tuhan, aku memang tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, karena hidup ini adalah tentang memilih. Aku hanya rindu, bisa menikmati hidup sesuai mauku dan mimpiku. Karena, aku tahu, aku tidak akan pernah tahu sampai kapan aku bisa bernafas. 

Selasa, 28 April 2015

Finding a truly meaning of family from Fast and Furious Seven

Fast and Furious 7
Finding a meaning of truly Family
            Bittersweet movies, itulah yang ada di dalam benakku ketika selesai menonton film ini. Terlepas dari aku tahu film ini merupakan film yang di dedikasikan untuk salah satu actor terbaik mereka yaitu alm.Paul Walker. Aku berusaha untuk membuang jauh-jauh pemikiranku tentang hal itu, karena aku benar-benar ingin tahu, kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh filmmaker tersebut lewat film ini.
            Film ini dibuka dengan cerita kehidupan pribadi Toretto (Vin Diesel) dengan Letty (Michelle Rodriguez) yang ternyata sudah menikah, namun Toretto sengaja untuk tidak mengingatkan Letty yang di dalam cerita tersebut, karena dia mengalami sebuah kejadian yang membuat Letty tidak ingat akan masa lalunya dan sedang mencari jati diri dia yang sebenarnya (Lanjutan dari Fast and Furious 6) . Tidak hanya kehidupan Toretto namun juga kehidupan dan pergolakan batin dari Brian (Paul Walker) yang memutuskan untuk mengikatkan dirinya dalam sebuah keluarga bersama dengan istrinya yaitu Mia (Jordana Brewster), tidak lagi mengendarai mobil balap namun mengendarai mobil keluarga. Memiliki anak, tidak lagi ada peluru namun hidup untuk sepenuhnya dengan keluarga. Meskipun sebenarnya dalam hatinya dan sepanjang film berjalan, sangat nampak sekali betapa dia merindukan kehidupan di jalanan berpacu dengan peluru, bertaruhkan nyawa dan mendengarkan deru mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi.
            Inti dan konflik cerita, dimulai dari adegan Hobbs(Dawyne Johnson) ketika dia bertemu dengan musuh besarnya yaitu Deckard Shaw (Jason Statham) dalam proses pekerjaannya bersama dengan Elena (Elsa Pataky) ketika Deckard ingin mencari tahu siapa yang membunuh adiknya yaitu Owen Shaw(Fast and Furious 6). Akhirnya, Hobbs terlibat pertarungan bersama dengan Deckard yang pada akhirnya membuat Hobbs harus terbaring di rumah sakit, karena terlempar keluar dari gedung yang sangat tinggi, dan dengan efek angle kamera terlihat bahwa Deckard mencari Han (Sung Kang).
            Konflik mulai meninggi, ketika esok harinya Dom mengunjungi Brian dan Mia yang dimana Brian akan mengantarkan anaknya pergi ke sekolahan. Dom, melihat di perkarangan rumah Mia ada sebuah paket besar yang Dom kira itu berasal dari Han karena berlabelkan alamat dari Tokyo. Namun, dari sebuah telepon Dom tahu bahwa sebuah perperangan di jalanan akan dimulai kembali, karena nyatanya itu adalah sebuah bom yang menghabiskan rumah Mia dan nyaris mencelakakan anaknya dan kandungan Mia.
            Siapa musuh yang akan dihadapi oleh Dom diketahui, setelah rekannya Elena yang merupakan istri dari Hobbs menelefon bahwa Hobbs ingin bertemu dengan dirinya di sebuah rumah sakit. Singkat cerita, Dom mengunjunginya dan Hobbs menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya dan keberhasilan Dom beserta crewnya di London tidak serta merta membuat kehidupan mereka bisa “Santai” namun ternyata harus membuat masalah baru yaitu Deckard Shaw mengincar mereka terutama Dom. Setelah mendapatkan pesan dari Hobbs untuk tidak gagal dalam mengagalkan rencana Deckard untuk membunuh satu persatu crew Dom, Dom segera pergi ke Tokyo untuk membawa pulang Han.
            Namun, disini bisa terlihat rasa persaudaraan yang begitu mendalam antar anggota Dom yang dari serial awal mereka bersama hingga serial tujuh ini. Begitu tiba di Tokyo setelah melalui beberapa balapan dan bertemu dengan Sean Boswell (Lukas Black) dan teman Han yang ada di serial Tokyo Drift, Dom tidaklah menemukan Han namun mendapatkan kalung salib yang Dom berikan kepada Han dan juga foto Giselle, karena Han telah meninggal di tangan Deckard yang berpararel dengan adegan rumah Brian hangus karena di bom oleh Deckard.
            Semakin geramlah Dom dan dia berjanji, akan melakukan hal yang sama kepada Deckard. Hal yang telah dia lakukan kepada keluarga Dom. Setelah menghandiri pemakaman Han bersama dengan keluarga Dom yang lain, di situ juga ada Roman (Tyrese Gibson), Dom merasa bahwa dia juga diikuti oleh Deckard, dan hal itu membuat Dom mengejar Deckard. Untuk pertama kalinya mereka bertemu dengan Deckard di sebuah terowongan dan bertarung. Dalam pertarungan itu, pertarungan mereka akhirnya digagalkan oleh sekelompok agent yang dipimpin oleh Mr. Nobody (Kurt Rassel). Dimana agent tersebut menawarkan sebuah bentuk kerjasama yang sama-sama menguntungkan.
            Setelah dibawa ke markas agent tersebut, Mr.Nobody menjelaskan bentuk kerjasama apa dan misi apa yang harus Dom selesaikan tentunya bersama dengan keluarga Dom. Misinya adalah merebut kembali angel eyes dan juga agentnya yaitu Ramsey (Nathalie Emmanuel). Dompun setuju dan disinilah jiwa dari film ini akhirnya muncul, berpacu di dalam jalanan, strategi dan juga solidaritas. Tidak lupa, tingkah konyol yang diwarnai oleh Roman dan Tej yang menjadi bumbu menarik dalam penyelesaian kedua misi besar ini. Oh ya, ketika Dom dan keluarganya bertemu di markas Mr.Nobody, Dom kembali bertemu dengan Letty, soulmatenya yang pada adegan awal tadi, berpisah karena terjadi sebuah konflik diantara mereka. Dan, akhirnya mereka kembali lagi bekerjasama.
            Misi diselesaikan dengan dibuka oleh adegan mobil yang terjun dari sebuah pesawat dengan ketinggian yang sangat tinggi, dan mendarat dengan suksesnya di sebuah bukit. Menangkis peluru, adegan Brian melompat dari mobilnya untuk bisa masuk ke sebuah truck yang menyandera Ramsey dengan akhir, Brian harus nyaris terjatuh ke sebuah jurang. Namun, disinilah adegan yang begitu menarik, dia berjuang untuk bisa keluar dari truck, mendaki kap depan truck dan berlari meninggalkan truck itu sebelum jatuh. Fiuhh, akhirnya Brian berhasil.
            Tidak hanya Brian yang harus mengalami kejadian mengerikan, Domminic ternyata dikejar oleh Deckard dan juga Jakande yang mengincar Dom juga. Namun, Domminic berhasil lolos meskipun harus mempertaruhkan hidupnya dengan cara lompat menuju jurang dan berhasil diselamatkan oleh keluarga Dom, meskipun itu harus membuat Ramsey mengalami shock.
            Yeah, perjalanan mereka untuk bisa mendapatkan angel’s eyes tidak mudah dan harus semakin jauh mereka berpetualang, karena Ramsey menitipkan angel’s eyes itu di temannya yang ada di Abu Dhabi. Pergilah mereka ke Abu Dhabi, dan bukan Dominic namanya jiga tidak membuat sebuah “kejutan” yang menonjolkan dirinya. Angel’s eyes itu ternyata sudah dijual kepada seorang miliader di Abu Dhabi dan ditaruh di dalam sebuah mobil yang harganya puluhan juta dolar amerika serikat dan mobil itu stocknya hanya ada tujuh. Bisa bayangkan, betapa kayanya miliader itu. Dan, jika mereka ingin mengambilnya, mereka haruslah menyusup ke dalam apartement dia esok hari, karena akan ada sebuah semacam privat party yang bisa dihadiri oleh semua orang yang ada disana.
            Disinilah Tej beraksi dengan Ramsey, untuk menyadap keamanan apartemen miliader itu. Dan, Brian serta Dom akan mengambil chip itu di mobil milik miliader. Sedangkan Letty, akan memutus jaringan keamanannya yang ada di kamar pribadi miliader. Namun, gerak-gerik Letty diketahui oleh bodyguard cewek (keren ya) dan rencana mereka nyaris digagalkan oleh bodyguard itu. Karena sudah dikejar waktu, ketangkap besah, mau tidak mau mereka harus kabur. Dan disinilah, sisi “pembuat kejutan” Dominic muncul dan itu keren banget. Ketika mereka tidak bisa mengambil chipnya, maka ambil saja mobilnya. Disinilah, keraguan Brian akan mobil tidak bisa terbang terhapuskan. Karena mobil itu tidak bisa keluar dari apartemen dengan sopannya, maka mobil itu akhirnya keluar dengan liarnya, yaitu terbang melewati tiga gedung apartement (disinilah rasa ingin tahuku muncul, bagaimana sang director yang bekerjasama dengan editor dan department yang menghandle adegan ini, bekerjasama untuk menciptakan adegan ini). Karena rem mobil itu blong, maka, mau tidak mau mereka berdua harus meninggalkan mobil ini agar tetap selamat. Setelah Brian mendapatkan chip itu, maka Dom merelakan mobil mahal itu terjun dengan indahnya hingga rusak ke lantai paling dasar. Dan, misi mereka selesai. Karena Dom dkk, berhasil mendapatkan chip dan Ramsey.
            Lalu bagaimana dengan Deckard? Wait…inti film ini barulah dimulai sebenarnya. Setelah Mr. Nobody mendapatkan kedua itu, dia menyerahkan chip itu kepada Dom dan mengambil alih tugas Mr.Nobody untuk menggerakkan pasukan agent berkerjasama dengan Dom. Setelah Ramsey melacak keberadaan dari Deckard, Dom dkk ditambah dengan pasukan dari Mr.Nobody bergerak untuk mengepung dan menghabisi Deckard. Sebenarnya waktu scene ini, sempat muncul kekecewaan apakah film ini akan berakhir hanya dengan cara seperti ini? The easiest ways? What? Yang bener ajaa? Karena berdasarkan sekuel sebelumnya, cara mereka untuk menyelesaikan film ini benar-benar perang jalanan, karena berada di jalan entah itu dengan mobilnya ataupun fisikly. Tapi, inilah yang membuat aku begitu cinta dengan film berkarakter manusia bukan robot. Simak saja terus ulasanku ^^
            Director dan writer menghapus kekecewaanku dengan cara, tertembaknya Mr.Nobody dan agentnya yang membawa angel’s eyes. Dominic yang memiliki rasa cinta dengan keluarganya, menyelamatkan Mr.Nobody dan memilih untuk segera meninggalkan gudang tersebut serta memerintahkan Brian untuk tidak perlu mengambil angel’s eyes yang tergeletak di ruangan persembunyian Deckard Shaw. Karena keberlangsungan hidup Mr.Nobody lebih penting, meskipun mereka tahu ketika angel’s eyes ada di tangan Shaw, terbaliklah posisi mereka. Awalnya, Dom dkk yang menyelidiki dan memburu Shaw maka sekarang Shaw dan pasukannya yang memburu Dom dkk.
            Mr.Nobody akhirnya meninggalkan Dom dkk untuk berobat dan menitipkan selama Ramsey masih hidup, mereka masih aman. Dan cara Dom untuk membalaskan dendam kepada Shaw kembali ke style lama mereka, mungkin mereka tidak memiliki chip itu dan alat-alat yang memungkinkan untuk melumpuhkan Shaw dkk. Tapi, selama mereka masih memiliki jalanan, itu sudah cukup. Dan aku setuju, karena inilah uniknya FF dibandingkan dengan cerita tentang balapan mobil yang lain, hingga aku bisa jatuh cinta sama film ini, meskipun film ini bukanlah style filmku.
            Singkat cerita, setelah mengalami pertarungan dan berburu dengan peluru (seperti apa yang dirindukan oleh Brian), Brian dkk berhasil meretas sistem lacak dari angel’s eyes. Dan, penyelesaian inti dari film ini, ada di adegan Dom bertarung dengan Shaw dengan cara jalanan. Bermodalkan alat untuk memodifikasi mobil (style anak otomotif banget). Sebenarnya agak sedikit kecewa karena Shaw berhasil mati tidak murni dengan tangan dari Dom, tapi juga dibantu oleh Jakande yang ternyata berkhianat dengan Shaw dengan cara membom gedung tempat Dom dan Shaw bertarung. Terjadilah sebuah keretakkan dan dimanfaatkan oleh Dom, untuk membuat patah tempat Shaw berdiri yang membuat dia terlempar hingga akhirnya mati.
            Tidak selesai dari situ, akhir dari cerita film ini mengangkat sisi kekeluargaan dan rasa cinta Dom dengan keluarga garasi Dom. Ramsey dan Letty yang ada dalam bahaya, karena diserang oleh Jakande. Dengan mengejar waktu dan sebelum gedung itu ambruk, Dom keluar dan berusaha untuk melemparkan bom yang sudah dia bawa ke pesawat milik Jakande. Bom itu berhasil menyangkut di pesawat Jakande, namun sayangnya Dom tertimbun gedung karena tidak sempat keluar dan Dom tidak sadarkan diri. Hal ini membuat Letty sedih dan ingat akan apa yang sudah terjadi antara Letty dengan Dom.
            Dom mati? Awalnya aku mengira begitu dan sedih, karena selain sudah kehilangan Paul Walker, film FF pasti akan berbeda tanpa adanya Dom, secara dia leader. Tapi, twist yang sebenarnya sudah bisa ditebak, dia masihlah hidup dan mereka hidup bahagia. Dan, aku juga senang, karena Dom masihlah hidup. Ya iyalah wajar, nggak mungkin banget, tokoh utamanya mati.
            The last scene, it was make me standing applause for director, DOP and writer. Sangat indah sekali namun menyakitkan. Adegan perpisahan yang sangat personal antara Dom dengan Brian. Karena Dom menyadari bahwa sebenarnya yang terpenting untuk Brian, adalah keluarganya, meskipun dia harus berhadapan dengan peluru, jalanan dan nyawa, hal yang terpenting adalah keluarga. Hingga, hal itu membuat Dom untuk pergi tanpa pamit, meskipun Brian akhirnya mengejarnya dan mendapatinya di lampu merah. Mengingatkan akan awal mula mereka bertemu di serial awal FF, hingga membuat Brian menjadi saudara Dom. Dan, mereka akhirnya sama-sama menyetir menyusuri jalanan yang diiringi dengan Voice Over dari Domminic, tentang perasaannya kepada Brian, walaupun sudah pergi jauh, miles away, Brian tetaplah saudaranya, hingga mereka berpisah di persimpangan. Ending yang indah meskipun simple (tapi kalau aku berada di posisi writer itu, apakah aku bisa menciptakan adegan seindah itu?) namun menyakitkan, it was make me cry a lot. Hingga, aku pribadi bisa merasakan kesedihan dari sutradara, penulis, DOP, bahkan Dom.
 Namun setelah ku pikirkan lebih jauh, adegan ini membuatku bertanya, yang aku sendiri tidak tahu, apakah pertanyaanku ini konyol atau tidak. Bagaimana kelanjutannya film ini pada nantinya? Meskipun aku tahu, secara person as a character on film, masihlah ada. Tapi, jiwa asli sang paul walker, apakah akan tetap sama? Karena bagiku pribadi, Paul Walker tetaplah Paul Walker, tak akan tergantikan. Pemikiran inilah yang membuat aku menantikan, kelanjutan dari sekuel ini. Dan, relasi yang dalam antara Brian dan Dom, apakah akan masih terasa? I just can wait and see at that’s time.
Terlepas film ini sebagai bentuk tribute mereka untuk Paul, ada adegan romance, fight, drive. Bagiku film ini, bukanlah film yang hanya bicara tentang speed, mission, strategy, rival, balas dendam tapi KELUARGA dan relasi. Mungkin Dom, bisa memilih untuk tidak perlu balas dendam, Brian tidak perlu join kembali dalam misi ini tapi karena ini menyangkut tentang keluarga, maka mereka dengan rela hati untuk melakukannya bahkan hingga bertaruh nyawa. Quote-quote Dom yang terselip dalam dialognya, tentang keluarga, sangat makin mengentalkan sisi humanis film ini tentang keluarga dan apa makna keluarga untuk Dom, hingga dia mau bertaruh nyawa untuk misi ini. Hal ini juga sangat terlihat jelas dari scene awal film ini, Brian yang memilih untuk berkeluarga, Dom yang rajin mengunjungi adiknya Mia dan iparnya Brian, Dom yang pada akhirnya menikahi Letty, Han yang begitu sedih kehilangan pacarnya. Roman dan Jet, meskipun dengan gaya konyolnya dan sempat ragu, memilih untuk join juga di misi ini. Hal-hal itulah yang membuat, sisi humanis keluarga dan relasi, begitu kental. Bahkan dalam adegan fight dan penyelesaian misi mereka, sangat kental sekali.
Setelah aku membaca dan melihat beberapa artikel, tentang di balik layar “pengadaan” Paul Walker, saya salut dengan produser, director, editor, DOP, cast department karena berhasil membuat Brian “ADA” dalam film ini. Wajar juga sih, SDM dan SDT(Sumber Daya Teknologi) mereka mumpuni banget. Dan hal inilah, yang makin membuatku penasaran dan mendorongku untuk bisa belajar film di luar negeri. Crew film disana, layaknya TUHAN, bisa menciptakan yang tidak ada menjadi ada, sama persis. Serta adegan-adegan, yang aku kemarin pikirkan, kalau itu dilakukan oleh SDM Indonesia, apakah mungkin untuk dilakukan? Dan apakah masih selamat? Hahaha…*sinis mode on*

Standing applause for those behind this movie, you did amazing job. And I will miss the truly of Paul Walker, I’m so sure, you proud and happy after watch it up there ^^

Minggu, 26 April 2015

Sepenggal rasa tentang menunggu

            Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana rasanya menjadi sebuah tempat untuk menunggu, entah itu bandara, dermaga, stasiun kereta ataupun halte bus. Jika mereka memiliki sebuah jiwa dan hati layaknya manusia, aku ingin sekali bertanya kepada mereka, bilakah dia bosan menunggu? Menunggu dan menanti seorang manusia, untuk singgah atau mungkin berlama-lama berada disana. Menanti agar ramai kembali dikala pagi hingga malam hari dan menanti kembali pagi, agar bisa melihat manusia.
            Tidak hanya ingin bertanya, perasaannya tentang menunggu. Aku juga ingin tahu, bagaimana gerangan hatinya, ketika melihat sebuah bencana yang terjadi, yang menyisahkan sebuah kesedihan cukup mendalam, apakah mereka akan ikut bersedih, seperti manusia yang lain. Akankah mereka juga ikut bergembira, ketika manusia yang ada di tempat mereka, sedang merasakan kegembiraan? Perasaan khawatir, menantikan kedatangan orang yang dinantikan, belum kunjung tiba?
            Mengapa aku ingin tahu? Aku kini merasa seperti sebuah tempat menunggu, yang mungkin belum berani melangkah untuk maju ataupun mundur, akan apa yang sebenarnya ingin aku raih dalam hidupku. Aku hanya bisa menanti sembari melihat keadaan di sekelilingku. Ada yang merasa bahagia, karena apa yang diraih oleh orang-orang sekitarku berhasil. Ada yang merasa sedih, karena kehilangan. Kadang merasa iri, yang seharusnya bukan ku anggap sebagai sainganku, tetapi berhasil meraih apa yang seharusnya aku raih terlebih dahulu. Merasa khawatir, khawatir jika mimpiku tidak terwujud. Merasa takut, akan apa yang terjadi hari esok. Merasa biasa, karena merasa bosan menjalani hidup yang ritmenya sama saja.
            Aku sadar, aku tidak pernah terbiasa menunggu dan kini paham, mengapa menunggu itu menyakitkan dan membosankan, karena ketidakpastian itu bisa menjelma menjadi apa saja yang dia inginkan bukan yang aku inginkan. Sebelum ini, aku selalu mudah mendapatkan apa yang aku inginkan-bukan impikan-tanpa perlu aku berjuang dengan kondisi yang saat ini, harus bekerja keras bahkan harus sampai menangis, karena tidak rela impianku hanya akan terkubur kembali di lembah paling dalam, yang siapapun bahkan aku tidak tahu.
            Aku tahu rasanya bahagia karena mimpi, aku tahu sedihnya karena mimpi, aku tahu rasanya bosan karena mimpi, aku tahu rasanya kecewa karena mimpi, aku tahu rasanya benci karena mimpi bahkan aku pernah menyerah dan bagaimana rasanya, hanya karena mimpi.
            Mengapa aku tahu semua itu, karena aktivitas baruku yang terselip diantara aktivitasku yang lain yaitu menunggu. Menunggu sebuah benih menunggu yang akan berbuah menjadi seperti apa. Apakah akan berbuah manis atau membusuk dan terbuang begitu saja.
            Sejujurnya aku sudah terlalu bosan untuk menunggu, hingga hatiku terasa menjadi mati, mati karena terlalu sering mendapatkan buah yang membusuk hingga aku buang begitu jauh. Namun, anehnya benih itu terus menerus tumbuh dan menganggu pikiranku. Lelah, iya lelah untuk terus memupuknya bahkan menunggunya.
            Hingga ketika aku berjalan dan melewati beberapa jenis tempat persinggahan, pemikiranku tergelisik akan suatu pertanyaan, mengapa tempat persinggahan itu tidak pernah lelah untuk terus menunggu entah itu manusia ataupun kendaraan, untuk sekedar singgah, berhenti bahkan menyaksikan bermacam jenis kejadian hidup manusia. Harus rela kepanasan, kedinginan, kehujanan, diberikan banyak debu bahkan menjadi tempat pembuangan sampah.
            Jawabannya hanya satu, karena dia setia untuk menjalankan fungsinya sebagai tempat untuk menunggu. Walaupun hanya sejenak, tetapi mereka tahu, apa yang mereka nantikan pasti akan didapatkan, walaupun itu harus menunggu lama dan disertai dengan berbagai ujian yang lainnya.

          Sama dengan kita manusia, disatu sisi kita boleh berusaha namun kita tetap harus menyerahkan segala rencana kita kepada yang empunya hidup kita, meskipun kita harus menunggu hingga jawaban itu diberikan kepada kita, yang memiliki impian. Walaupun, jawaban itu harus membuat kita kembali menjadi sedih. Karena selain bekerja, kodrat manusia juga adalah menunggu. 

Kamis, 02 April 2015

Aku dan Mimpiku

            Jika ditanya, apakah semua orang ingin bahagia pasti hampir seluruh penghuni di bumi ini, akan berkata “IYA” karena tidak ada satupun orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Begitupun juga aku, sedari kecil hingga sekarang aku selalu memimpikan dan berusaha untuk meraih kehidupan yang bahagia, meskipun itu hanya dengan cara yang sederhana.
            Ketika kecil hingga sebelum aku hidup terpisah dengan orangtuaku, aku selalu mendapatkan hal yang bahagia, begitu lengkapnya, hingga rasanya aku jarang sekali menangis. Hingga, aku merasakan yang namanya kehilangan mulai dari pacar hingga tinggal sendiri tanpa orangtua. Dari situlah aku sadar, hidup itu tidak selamanya bagaikan gula begitu manis, hidup itu juga ada rasa pahitnya layaknya daun mint di campuran ice cream.
            Selang berproses di Petra, mendapatkan begitu banyak seminar dan pembekalan yang membawaku ke dalam arti bahagia yang sebenarnya, yaitu bahagia adalah berhasil membuat hidup itu menjadi lebih bermakna, lewat sebuah hal yang jauh lebih berarti yaitu MIMPI. Impian, Passion, Vission, Tujuan Hidup, Target Hidup, Hidup yang berdampak. Selama empat tahun aku di Petra, aku begitu kenyang bahkan aku bisa memotivasi para juniorku untuk memikirkan kembali arti hidup mereka. Mereka terkagum dan aku merasa bahagia. Dari situlah awal pemikiranku yang ternyata sangat dangkal, tentang apa itu bahagia.
            Dan setelah mengalami banyak kemudahan hidup, hingga aku memutuskan untuk berhenti dari tempat kerjaku dan berproses melalui orang-orang di sekitarku, keberhasilanku selama empat tahun di Petra, rasanya seakan tidak berarti, rasanya bagaikan omong kosong yang melebur dan lenyap begitu saja terbawa oleh angin, sama sekali tidak terlihat. Aku merasa hancur, karena aku melupakan dan tidak memikirkan bahkan tidak memperjuangkan apa yang menjadi mimpiku sebenarnya yaitu Penulis.
            Hingga aku merasa, begitu kecil, dangkal, merasa diriku begitu bodoh karena harusnya aku memperjuangkan apa yang menjadi mimpiku, namun aku bertindak seperti melupakannya bahkan menguburnya rapat dalam hatiku, hingga tidak banyak yang tahu. Bahkan mungkin, aku berusaha tidak ingin tahu, karena aku mengikuti arus layaknya orang, yang mungkin hidupnya sebenarnya tidak bermakna, karena hanya sekedar hidup. Sedangkan aku tahu, hidupku punya waktu yang terbatas, semestinya aku isi dengan hal yang jauh lebih bermakna dan bisa berdampak untuk orang lain.
            Setelah mengalami tempaan sana sini, aku memutuskan untuk mengejar mimpiku menjadi penulis. Disinilah, aku mengalami pasang surut dan ujian yang tak pernah kusangka akan sangat berat untukku, yang menghadapkanku pada dua pilihan yaitu menyerah atau terus berjuang, hingga aku mendapatkannya. Awalnya, karena begitu berkobar, aku memilih untuk berjuang hingga aku rela untuk menunggu sampai aku mendapatkannya. Karena aku mengalami, bagaimana rasanya melakukan hal yang sesuai dengan passion itu seperti apa rasanya. Dan, perasaan seperti ini yang selalu aku cari.
            Hingga setahun berlalu, aku bertemu dengan teman-temanku yang sudah sukses, punya jabatan, bercerita tentang pekerjaannya, tidak hanya itu, tekanan-tekanan itu mulai terasa menyesakkanku, membuat air mataku ini mulai mengeluarkan stocknya, bahkan sampai di titik aku merasa lelah untuk menangis. Aku mulai memikirkan ulang tentang MIMPI, keyakinanku untuk berjuang, kerelaan hatiku yang dulu untuk menunggu bahkan kepikiran untuk menulis, aku buang jauh untuk sementara.
            Dia terasa begitu jauh semakin menjauh, apa yang aku harapkan untuk aku raih, ternyata menghilang. Segala planning hidupku, aku terlalu lelah untuk menata terus menerus. Mimpiku yang dulu aku lihat bagaikan pelangi, kini entah kenapa mengapa menjadi embun yang hanya sekedar muncul di kala hujan, namun bahkan hujanpun, yang aku lihat tidak lagi menyisahkan sebuah embun. Hujan hanya menyiratkan sebuah petir yang membuat telingaku begitu sakit hingga membuat hatiku menjadi kelu.
            Di kala apa yang aku harapkan tidaklah terjadi, namun yang tidak aku harapkan terjadi, hatiku kembali menjadi bimbang bahkan sakit. Hanya berselang sehari, kabar buruk dan kabar (tidak) baik datang. Aku hanya berteriak di kelunya lidahku, apa maksudnya ini? Mengapa semuanya serba mempermainkan perasaanku bahkan logikaku. Aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, bahkan keadaan, namun aku begitu kecewa sama diriku sendiri bahkan harapanku sendiri, respon hati seperti apa yang semestinya aku berikan dan harapan apa yang semestinya aku buat. Impian seperti apa yang semestinya aku buat, apa aku nggak boleh bermimpi? Untuk apa aku punya mimpi, jika segala sesuatunya hanya membuat aku seperti bola ping pong.
           Aku tahu, aku masih punya pilihan. Kebahagiaanpun juga merupakan pilihan. Mimpipun juga pilihan. Aku memilih untuk bermimpi karena aku tahu dan percaya, ketika aku meraih mimpiku, hidupku tidaklah sia-sia, aku jauh lebih memiliki alasan untuk hidup dan berjuang. Aku tidak ingin mengisi waktuku dengan hal yang sia-sia. Aku ingin menjadikan hidupku seperti buku yang terbaca oleh semua orang dan orang lain bisa terinspirasi lewat hidupku, karena aku percaya bermimpi adalah HAK untuk setiap orang. Tidak ada yang bisa membatasi kita untuk bermimpi. Hidupku juga pasti akan jauh lebih bahagia, dibandingkan oleh orang lain yang tidak memiliki mimpi.
Namun, ketika mimpi terkadang menjadi sebuah kutuk yang membuatku merasa tidak bahagia, seakan menderita. Bahkan mimpiku sendiri, menjadi ketakutanku untuk bisa kuceritakan kepada orang di sekitarku, karena takut dianggap tidak normal, tidak berprospek, tidak patuh sama orangtua, hanyalah sebuah khayalan, hanya akan membuang waktu karena menanti yang tidak pasti. Bukankah itu akan menjadi sebuah beban? Bukankah itu bisa menjadi sebuah duri dalam hati. Semestinya bisa membuat bahagia namun malah menyiksa.
MIMPI mengapa kehadiranmu selalu membuat hati manusia menjadi tidak tentram dan gelisah? Mengapa kehadiranmu bagaikan dua sisi mata uang yang bersifat kontradiktif? Aku percaya kehadiranmu akan membuat hidupku menjadi bahagia, berwarna bahkan bermakna, karena tidak akan ada yang namanya mimpi bersifat mencelakakan. Namun, kadang kehadiranmu tidak jarang membuat hatiku sakit dan hancur.
Namun, berapa lama lagi aku bisa mencapai dreamlandku? Berapa lama lagi aku harus menunggu untuk bisa mendaki pelangi? Kapan lagi aku bisa mendapati silver liningsku? Kapan aku bisa menyaksikan dengan mataku sendiri, kekuatan impian mengalahkan segala kebahagiaan semu? Tapi, aku berterimakasih kepadamu, karena kamu, aku tahu rasanya berjuang, aku tahu rasanya beriman, aku tahu rasanya gagal, aku tahu rasanya bahagia karena mimpi, aku tahu dan belajar untuk menghargai proses, aku lebih belajar menghargai hidup orang lain dan kehadiran orang di sekelilingku yang mendukungku, aku tahu rasanya menunggu dan bersabar.

Aku juga ingin bahagia, bisa hidup bebas bahkan berani untuk menceritakan apa yang ada dalam hatiku. Namun aku percaya dan terus ingin percaya, semua itu akan jauh lebih berarti jika disertai dengan impian. Aku ingin terus belajar untuk percaya, akan kekuatan IMPIAN. 

Rabu, 25 Maret 2015

Menulispun bisa membuatku jatuh cinta.....inilah ceritanya

            Beberapa hari ini aku bertemu dengan seorang teman yang memiliki interest yang berbeda-beda dengan interest yang aku miliki yaitu menulis. Berutntung dikarunai sisi introvert dan ekstrovert yang seimbang, sehingga kesempatan itu tidak aku lewatkan begitu saja, untuk aku bisa belajar mengenai dunia mereka.
            Hal ini sebenarnya harus dimiliki oleh para penulis, untuk menambah wawasan dan materi yang semakin beragam dalam tulisan mereka. Selain itu, memang pada dasarnya aku suka untuk belajar hal baru yang bagiku itu memiliki keunikan tersendiri, terlebih lagi ketika yang menceritakannya kepadaku adalah orang yang memang memiliki passion di bidang tersebut.
            Kemarin ketika bertemu dengan seorang teman, kami terlibat perbincangan yang menarik dan membuka pandanganku tentang sisi lain dunia nyata, yang memang tidak selamanya putih bahkan dunia itu begitu gelap sekali, hingga tidak nampak dari pandanganku. Waktu itu, aku menolongnya untuk membantu mengolah sebuah kalimat untuk pekerjaan dia yang mengingatkanku akan masa lalu.
            Entah mungkin karena dia menangkap pancaran kebahagiaan dan antusiasku, ketika membantunya sehingga membuat dia bertanya, mengapa aku begitu suka menulis dan menikmati sekali bidang yang bagi dia sangatlah sulit dan berat. Dan aku menceritakannya dengan nada yang begitu bahagia dan antusias, inilah waktu yang aku suka ketika bisa menceritakan dan membagikan apa yang menjadi passionku.
            Jujur saja, hingga sekarang aku tidak ingat kapan tepatnya rasa jatuh cintaku dengan tulis menulis mulai bertumbuh. Ketika aku tarik kembali, sangat tidak mungkin seorang Helen saat itu menyukai dunia menulis, karena pribadiku dulu tidak terlalu suka hal yang begitu merepotkan, hal yang aku suka adalah melakukan kegiatan yang menyenangkan dan membahagiakan diriku sendiri seperti ngeband, olahraga basket, badminton, jalan-jalan dan kumpul dengan teman-temanku. Hingga satu titik di masa SMA, semua itu diubahkan begitu drastis berawal dari sebuah novel teenlit  pertamaku (yang kini hilang entah kemana), dimana cerita itu hampir mirip dengan kisah yang aku alami didukung dengan celetukan teman yang mengatakan kisah hidupku mirip seperti kisah-kisah di novel. Namun, itu semua aku lakukan hanya ketika sempat dan pingin saja.
           Tindakan seperti itu, terbawa hingga masa awal kuliah sampai aku menghadapi masa di semester tiga, yang mau tidak mau aku harus rajin menulis dan membaca. Saat itu, tulisanku dipuji oleh salah satu dosen dan juga temanku yang merupakan penulis, hingga di satu titik aku belajar untuk menekuni dunia menulis pertamaku melalui media sosial facebook. Sungguh senang, karena mendapati beberapa temanku terberkati dan terinspirasi dengan tulisanku. Tidak hanya menulis, namun aku mulai disiplin untuk membaca novel, dan mulai merasa gelisah karena tertantang agar aku bisa memiliki novelku sendiri.
Penolakan demi penolakan, pernah aku alami ketika aku mulai memasukkan naskah novelku ke beberapa publisher, ada yang memberikan alasan dan ada pula yang tidak memberikan alasan mengapa. Sedih… namun karena kesibukkan kuliah dan kegiatan, aku meninggalkan sejenak duniaku ini. Aku mulai menekuni bidang kuliahku yaitu Public Relations dan menemukan keasyikan serta keunikan yang waktu itu menyilaukanku sejenak.
Lomba menulis berhadiah beasiswa kepenulisan dengan jaminan memiliki novel, titik yang membawaku kembali ke dunia menulis. Dibalik kehetic’anku akan masa-masa akhir kuliah serta beberapa kegiatan, entah mengapa aku selalu memiliki banyak cara dan akal, untuk tetap mengikuti lomba tersebut yang membawaku sampai menjadi lima besar nasional. Tidak kusangka juga, hadiah yang ditawarkan juga membuatku “galau” hingga tidak bisa tidur, namun karena idealismeku sendiri, aku merelakan beasiswa kepenulisanku dan memilih jalanku sendiri untuk bisa meraih impianku memiliki novel.
Namun, konsekuensi atas pilihanku ternyata memang jalan yang tidak mudah, aku masih saja mengalami penolakan di beberapa penerbit, hingga aku memutuskan untuk berhenti dan mengubur mimpiku ini. Tidak hanya mengubur, aku tidak lagi membicarakannya bahkan menekuninya kembalipun tidak terpikirkan. Dan yang aku lakukan adalah, setelah lulus, aku memilih untuk menekuni bidang pendidian menjadi pengajar. Masa inilah, yang membuatku aku lupa sejenak dengan mimpiku memiliki novel. Beruntungnya, masa itu aku tidak pernah memiliki waktu untuk pergi ke toko buku, mengupdate novel terbaru bahkan sebuah majalah yang dulu sering iseng-iseng untuk ku baca.
 Hakekat impian itu memang bagaikan hantu, selalu menghantuiku dengan berbagai cara walaupun aku mencoba untuk berlari ke dunia yang sudah aku jalani. Bahkan ketika aku mengajarpun. Saat itu, aku sedang mengajari murid-muridku untuk menulis sebuah kalimat, entah mengapa aku merasa rindu untuk menulis sehingga aku memutuskan untuk cepat pulang dan kembali membuka lappieku, menuangkan berbagai hal yang berkecamuk di pikiranku, lalu ku publish di facebook. Senang bahkan menjadi candu, setelah hari itu. Aku membuka lagi tulisan-tulisanku yang dulu, bahkan tulisanku yang dulu ditolak oleh beberapa penerbit. Dan, aku memutuskan untuk tetap menulis, meskipun hanya sekedar menuliskan hal-hal sederhana saja.
Temanku yang merupakan penulislah, yang menjadi sebuah titik balikku untuk terus setia menulis walaupun tidak membawaku menjadi penulis novel. Ketika dia bercerita, tentang sebuah majalah yang salah satu rubriknya bisa diisi oleh pembaca dan tulisannya di publish disana, membuatku tertantang untuk membacanya. Beruntung, akupun suka jalan-jalan dan rubriknya bercerita mengenai tempat wisata. Pergilah aku ke toko buku dan membeli majalah tersebut, ku pelajari tulisannya dan aku menulis.
Nah… disinilah semangatku untuk terus menulis muncul. Tulisanku diterima dan mendapatkan apresiasi, rasanya itu menyenangkan apalagi aku mendapatkan hasilnya melalui menulis yang sangat aku sukai. Setelah kejadian itu, selalu saja ada kesempatan untukku menulis, entah itu naskah drama, naskah puisi, kalimat-kalimat untuk MC bahkan comment untuk raportpun, aku dipercayakan. Kadang, aku diminta temanku untuk membantu menuliskan kalimat untuk promosi produk, kata-kata ulang tahun dan itu rasanya menyenangkan sekali.
Rasa menyenangkan itu berubah menjadi rasa jatuh cinta, setelah aku bertemu dengan teman yang mengajakku untuk membuat film dan dipercayakan menjadi penulis naskah. Dan saat itu, aku berhenti dari tempat kerjaku. Tiga bulan lebih, aku full bergelut dengan naskah, tidak hanya menghasilkan naskah namun menguji apa yang menjadi passionku sebenarnya. Tidak terelakkan lagi, menulis memang passionku yang sebenarnya dan aku merasa bodoh sekali, karena tidak menyadarinya bahkan lari dan membuang waktuku dengan duniaku yang melenceng dari menulis. Namun, tidak sepenuhnya salah sih, karena masih cukup bermanfaat untuk beberapa hal. Dan disinilah, pandanganku berubah. Aku tidak lagi hanya ingin memiliki novel, namun aku ingin menjadi penulis yang dimana tulisanku bisa menginspirasi banyak orang dan puncak mimpiku adalah menjadi penulis naskah film.
Setelah aku menyelesaikan filmku, aku mulai untuk menulis, menulis apapun yang bisa aku tulis. Berbagai respon aku terima, ada yang merasa terinspirasi, ada yang merasa wawasannya bertambah dan ada juga yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis juga. Setelah aku renungkan, akupun menemukan banyak alasan mengapa aku memutuskan untuk menekuni bahkan berani untuk memiliki mimpi menjadi penulis.
Aku bersyukur, dikaruniai talenta menulis meskipun jalanku masilah terseok-seok bahkan belum memiliki titik terang. Namun, ketika aku menulis entah mengapa aku merasa diriku begitu beruntung dengan orang-orang yang juga beruntung lewat dunianya itu sendiri. Lewat menulis, aku bisa mengekspresikan apapun yang menjadi isi hatiku, dengan menulis aku bisa menginspirasi orang lain, dengan menulis aku bisa membuka pandangan orang lain yang belum tentu orang itu tahu. Dan yang terpenting, lewat menulis aku bisa bertemu dengan passionku dan bisa menjadi berkat untuk orang banyak. Bahkan kalau kita sadari, film yang box officepun juga sukses karena tulisan yang brilliant dari penulis naskah. Sebuah lagupun, bisa dikagumi oleh para pendengarnya juga tidak lepas dari penulis lagu. Bahkan sebuah produk yang terkenalpun, bisa melekat di hati penggunanya, juga tidak lepas dari copywriternya yang berpikir secara kreatif untuk mengolah agar produknya ini melekat di hati penggunanya.
Itulah sisi magic dari tulisan, lewat tulisan yang sederhanapun bisa memiliki kekuatan magic yang mencengangkan. Mungkin semua orang bisa menulis, namun setelah aku pikirkan dan banyak berproses, semua orang bisa menulis namun tidak semua orang memiliki talenta untuk menjadi penulis. Karena menjadi penulis, tidak hanya sekedar bisa menulis namun penulis haruslah memiliki sebuah rasa cinta, skill bahkan kerelaan untuk berkorban. Mengapa rela untuk berkorban, ketika ide terlintas kita harus rela untuk berhenti sejenak, untuk menuliskan di media yang ada, rela bergadang untuk menyelesaikan tulisan kita, rela untuk dikritik demi tulisannya lebih baik lagi, rela untuk membaca dan melihat karya orang lain untuk suplemen kreatif kita, bahkan rela kerja keras untuk menggapai impian kita yaitu sebuah karya tulis.
Tidak mudah….namun, entah mengapa aku tetap rela hati dan sukacita untuk mengerjakannya….alasannya? Karena aku jatuh cinta dengan menulis dan tidak mudah perjalanannya untuk aku jatuh cinta dengan menulis.Sehingga, aku mau terus berjuang.

So, carilah cintamu dan kejarlah cintamu, walaupun harus jatuh berkali-kali….